Kisah Perjuangan Tukang Becak di Madura Naik Haji, Sedih saat Ingat Keuletan Istri

Merdeka.com - Merdeka.com - Bagi Holili Addrae Sae (60) pergi haji awalnya hanya sebatas impian. Sebab, jika dibayangkan penghasilannya sebagai tukang becak tak akan pernah mampu mencukupi biaya haji yang tentu tidak murah baginya.

Namun siapa sangka, berkat niat, keuletan dan doanya bersama istri, ternyata keinginan mereka didengarkan Allah SWT. Dia akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini.

Hari demi hari Holili menyisihkan sebagian dari penghasilannya yang pas-pasan. Hampir tidak percaya tapi nyata, dia mampu menunaikan ibadah haji bersama jemaah lainnya.

Awalnya Hanya Impian

Warga Jalan Permata, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang ini bercerita, awalnya tak terbersit sedikit pun di benaknya bakal dapat menunaikan ibadah haji. Baginya pergi haji hanya impian. Sebab, penghasilannya selama ini dirasa hanya cukup untuk kebutuhan makan.

"Penghasilan membecak per hari hanya Rp30 ribu-Rp50 ribu, itu pun tidak menentu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai kuli ikan dengan penghasilan yang tak seberapa," ujarnya, Kamis (16/6).

Namun, istrinya yang bernama Busideh justru yang memberinya semangat untuk terus dapat mewujudkan mimpinya. Ia bahkan membantu sang suami, turut menyisihkan setiap penghasilan yang diperoleh.

"Terus terang kami hanya bekerja keras memeras keringat mengayuh becak setiap hari, tapi almarhumah istri saya yang begitu telaten menyisihkan sedikit demi sedikit uang sisa dari kebutuhan hidup sehari-hari," tambahnya.

Istri Berpulang Sebelum Pergi Haji

kisah perjuangan tukang becak di madura naik haji sedih saat ingat keuletan istri
kisah perjuangan tukang becak di madura naik haji sedih saat ingat keuletan istri

Hiolili di rumahnya. ©2022 Merdeka.com

Hingga akhirnya, Holili bersama istrinya mendaftar sebagai calon jamaah haji pada tahun 2011. Namun atas kehendak Allah, dalam masa tunggu haji, sang istri terlebih dahulu tutup usia dan meninggalkannya.

Tampak sekali guratan kesedihan yang mendalam di wajah Holili saat mengingat perjuangan istrinya. Sesekali Holili menyeka air mata dari kelopak matanya sembari terus menceritakan kisah almarhumah yang mengajak, menguatkan, dan meyakinkannya untuk mendaftar haji meski dengan kondisi ekonomi yang ala kadarnya.

"Istri saya rajin menabung mengumpulkan, dan dibelikan beberapa gram emas," jelasnya.

Sempat Ragu

Doa sang istri rupanya didengar Yang Maha Kuasa. Rezeki yang tak disangka, datang padanya. Di satu waktu, Holili dan istrinya mendapatkan rezeki arisan dan memutuskan untuk menjual semua barang-barang yang selama ini telah dikumpulkan untuk biaya pendaftaran haji. Mulanya sempat ragu, namun sang istri kembali menguatkan dan meyakinkan.

"Saya dapat arisan dan emas yang dipunyai ini pun dijual. Ayo daftar haji, tidak apa dengan niat, insyaallah siapa tahu Allah mengasihani dan Allah cukupkan,” papar Holili mengenang ucapan almarhumah istrinya.

Namun Allah berkendak lain. Istrinya meninggal dunia pada tahun 2019 karena sakit, sebelum ia dihubungi untuk melunasi biaya haji pada tahun 2020.

"Istri saya meninggal beberapa bulan sebelum penetapan, tahun 2020 dikonfirmasi berangkat, tapi karena pandemi jadi ditunda, dan alhamdulillah bisa berangkat tahun ini. Meski istri saya sudah meninggal, tapi niat saya tetap haji bersama istri,” ungkapnya.

Badal Haji Istri

Sepeninggal istrinya, Holili sempat menawarkan porsi haji sang istri kepada kedua anaknya. Namun keduanya menolak.

Holili akhirnya mengambil tabungan haji almarhumah untuk dipergunakan sebagai biaya membadal hajikan mendiang istrinya di tanah suci.

"Uang tabungannya sampai saat ini masih utuh. Saya titipkan agar tidak saya pergunakan. Uang itu untuk haji badal istri saya karena di tanah suci harus bayar orang untuk menghajikan. Mohon doa semoga saya dan istri dijadikan haji mabrur," tutupnya.

Tak Punya Uang Lagi

Namun di tengah kebahagiaan yang dirasakan, Holili mengaku sedih dan bingung karena tak memiliki sepersen pun uang untuk bekal ke Tanah Suci yang rencananya berangkat besok pagi. Bahkan ia tidak bisa untuk turut mendaftar ke Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang ada di Sampang.

"Saya sudah tidak punya tabungan lagi Mas, apalagi buat bekal, untuk ikut jadi rombongan KBIH saja tidak mampu membayar “ terang Holili.

Atas izin Allah, salah satu KBIH di Sampang tergerak hatinya dan mengajak Holili bergabung tanpa dipungut biaya ap apun.

Selama proses persiapan pemberangkatan, Holili mengaku selalu menggunakan becaknya setiap kali mengikuti pelatihan, manasik haji dan mengurus persiapan lainnya. Karena becak itu satu-satunya kendaraan yang dimilikinya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel