Kisah Pertemuan Kembali Orangtua dan Putranya yang Diculik 32 Tahun Lalu

Liputan6.com, Jakarta - Suasana penuh haru seketika menyelimuti saat pasangan suami-istri asal China bertemu kembali dengan putranya yang diculik di sebuah hotel pada 1988. Pertemuan ini terjadi setelah 32 tahun berlalu.

Dilansir dari South China Morning Post, Rabu, 20 Mei 2020, Mao Yin berusia dua tahun ketika ia menghilang diculik di Xian, ibukota provinsi Shaanxi, pada 1988. Ia dijual kepada keluarga lain yang membesarkannya sebagai putra mereka sendiri.

Mao, yang berganti nama menjadi Gu Ningning oleh orangtua angkatnya, dipertemukan kembali dengan ibu dan ayahnya, Li Jingzhi dan Mao Zhenjing, pada Senin, 18 Mei 2020 di sebuah konferensi pers yang digelar oleh polisi dan ditayangkan langsung di CCTV penyiaran negara.

Mao yang kini menjalankan bisnis dekorasi rumah, dilacak pada awal Mei oleh polisi Xian yang menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk menganalisis foto-foto lama bocah itu. Identitasnya kemudian dikonfirmasi menggunakan tes DNA.

Ketika polisi memberi tahu Li pada Hari Ibu bahwa putranya telah ditemukan, dia menangis dan berkata, "Ini adalah hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan pada Hari Ibu," menurut laporan CCTV.

Pada konferensi pers, pasangan itu menangis sambil memeluk putra mereka. "Saya tidak ingin dipisahkan darinya lagi," kata Li sambil memegang tangan putranya. Sang putra menjawab bahwa dia akan segera datang dan tinggal bersama orang tua kandungnya.

Mao Yin menghilang diculik pada 1988 di dekat Hotel Jinling di Xian setelah ayahnya meninggalkannya sendirian selama beberapa menit ketika dia pergi mengambil air. Orangtuanya menghabiskan 32 tahun untuk mencarinya ke seluruh negeri dan Li membagikan lebih dari 100 ribu selebaran anak yang hilang.

Penantian Panjang

Foto dokumentasi memperlihatkan Mao Yin kecil bersama ibunya. (Xinhua)

Sejak 1999, Li telah muncul di berbagai acara televisi di China untuk meningkatkan kesadaran akan ribuan anak yang hilang di seluruh negeri. Ia berharap anaknya sendiri akan menonton salah satu program pada suatu hari.

Pada 2007, Li menjadi sukarelawan di sebuah platform non-pemerintah utama "Baby Come Home" yang melacak anak-anak yang diculik dan telah membantu lebih dari 20 keluarga menemukan anak-anak mereka yang hilang.

"Karena pada saat itu saya telah mencari putra saya selama lebih dari dua dekade, saya tahu betapa sulitnya itu. Saya juga bertanya-tanya apakah seseorang dapat memberikan bantuan yang sama kepada putra saya untuk menemukan keluarganya," kata Li kepada South China Morning Post pada Januari lalu.

Selama pencariannya yang panjang, dia mengikuti 300 petunjuk untuk melihat apakah mereka adalah putranya yang hilang, tetapi dalam setiap kasus tidak ditemukan kecocokan. Polisi menyebut bahwa bulan lalu mereka menemukan putranya telah dijual kepada pasangan tanpa anak seharga 6.000 yuan.

Belum ada informasi lebih lanjut tentang orangtua angkatnya dan penculikan itu masih dalam penyelidikan. Namun, CCTV melaporkan bahwa anak itu dibesarkan di provinsi tetangga Sichuan dan kuliah di universitas sebelum mendirikan bisnis desain interior.

Pada 2009, Kementerian Keamanan Publik China membuat basis data DNA untuk memerangi perdagangan manusia di Tiongkok. Menurut pejabat, lebih dari 6.300 anak yang hilang telah ditemukan melalui database sejak saat itu.

Kemudian pada 2016, kementerian meluncurkan "Reunion", sebuah sistem pelacakan online yang membantu menemukan 4.385 dari 4.467 anak yang dilaporkan hilang, menurut Gong Zhiyong, Wakil direktur Biro Investigasi Kriminal Kementerian Keamanan Publik.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: