Kisah Piala Menpora 2021, Mengubah Kritik Brutal Menjadi Simpatik

Robbi Yanto
·Bacaan 7 menit

VIVAPiala Menpora 2021 hampir menyelesaikan ujiannya. Turnamen pramusim Liga 1 itu kini sudah masuk partai semifinal leg kedua.

Empat tim tersisa, memperebutkan mahkota itu. Mereka adalah PSM Makassar, Persija Jakarta, PSS Sleman dan Persib Bandung.

Pada perjalanannya, Piala Menpora 2021 sempat mengahadapi batu sandungan. Bagai petir di siang bolong, kritik brutal datang menjelang pembukaan pada 22 Maret lalu.

Padahal, Kapolri Jenderal Listyo Sigit sendiri yang menerbitkan izin keamanan untuk Piala Menpora 2021.

"Dalam rapat koordinasi, kami sepakati untuk memberikan kesempatan tentunya dengan catatan bahwa penegakan aturan terkait protokol kesehatan harus menjadi syarat utama," kata Kapolri usai pertemuan dengan Menpora, Zainudin Amali.

Kritik itu datang dari Indonesia Police Watch (IPW). Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mempertanyakan keputusan Kapolri memberikan izin.

Dia menilai kebijakan Kapolri memberikan izin Piala Menpora bukan saja bertentangan dengan instruksi Mendagri, tapi juga telah melanggar aturan yang ada yaitu Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Kemudian kebijakan Kapolri bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat Di Tempat Dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Oleh karenanya, Neta menyebut seharusnya Polri selaku penegak hukum melaksanakan peraturan perundangan tersebut ketika ada kerumunan massa yang dihadirkan oleh seseorang atau lembaga.

"Menjadi aneh Kapolri memberikan izin adanya kerumunan massa dari atlet, pelatih, official tim dan masyarakat. Hal ini sangatlah bertolak belakang dengan program pemerintah yang sedang dijalankan untuk melawan COVID-19," kata Neta dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Dicap Turnamen Ecek-ecek

Tak sampai di situ, Neta juga melayangkan kritik pedas terhadap ajang penasan tersebut. Dia menilai Piala Menpora merupakan turnamen ecek-ecek.

Lebih keras, dia meminta Kapolri dan Menpora harus bertanggung jawab dan mundur dari jabatan masing-masing, jika Piala Menpora 2021 menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

Dalam Siaran Pers IPW, Neta menyebut ada sembilan poin yang menyebabkan Piala Menpora tak layak untuk digelar. Satu hal yang paling disorotinya adalah banyaknya klub-klub yang kesulitan.

Seperti Persipura yang menarik diri dan menolak tampil. Kemudian dia menyorot sejumlah klub yang belum membayar gaji pemain.

"Pemain PSM belum dibayar gajinya untuk musim 2020 lalu dan bagaimana mereka bisa bermain tanpa digaji. Keempat, ada 6 klub lain di liga 1 yang juga sebagian pemainnya belum dibayar gajinya di musim 2020 lalu," kata Neta.

Selain itu, Neta mengkritik Menpora tidak transparan mengenai biaya turnamen. Dan jika menggunakan uang negara harus diaudit BPK dan turnamen ini harus diplototi KPK agar tidak terjadi korupsi, mengingat dana bansos saja dikorupsi," sambungnya.

Neta kemudian mengkritisi beberapa pemain yang dibayar jauh dari harga pemain profesional. Izin tinggal pemain asing yang bakal merumput di Piala Menpora juga menjadi sorotannya.

Selain itu, tak ada asuransi bagi para pemain hingga tak mampunya pemain membayar pajak.

"IPW memastikan Piala Menpora adalah turnamen kelas ecek ecek, yang sama sekali tidak berdampak pada prestasi sepakbola nasional," tutur Neta.

Netizen Meradang, Neta Dicibir

Publik sepakbola nasional yang sudah haus dan rindu gelaran sepakbola dalam negeri pun bak disambar petir. Komentar Neta melukai hati mereka yang tak sabar menyaksikan tim kesayangannya berlaga.

Bukan melupakan protokol kesehatan dan ancaman klaster baru COVID-19, toh sepakbola di seluruh penjuru dunia sudah mulai digelar, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat.

Bahkan, ada negara yang kasusnya COVID-19 lebih mengerikan ketimbang Indonesia sudah menggulirkan kompetisi, seperti Inggris dan Italia.

PSSI selaku federasi dan PT Liga Indonesia Baru juga tak sembarangan. Sering kali mereka beruadiensi dengan pihak Kemenpora memastikan bahwa susunan prokes dan komitmen penerapannya. Buktinya, Kapolri pun sudah memberikan restu.

Netizen Indonesia pun beramai-ramai Mencibir Neta. "Gini aja pak, Bapak bayar bulanan seluruh elemen yang ada di Club buat biaya hidup mereka dan di Jamin kehidupannya. Kalo bulanannya sudah ada jaminan gak ada bola di Indonesia juga nggapapa anda ngelarang kompetisi di Indonesia tapi gak ada jaminan apapun!!! Anda waras??!!!. Lalu Pilkada apa kabar?? Apakah bapak koar2??!!!," tulis dia.

Sementara itu, ada pula warganet yang menuding Neta S Pane hanya menumpang tenar dengan gelaran ini.

"Pansos mulu," kata akun @baang_mun.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI), Yeyen Tumena, juga menyerukan agar menghiraukan saja pihak yang tidak menginginkan sepakbola Indonesia kembali bergulir.

"Piala Menpora tetap sesuai dengan jadwal dan akan berlangsung dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jadi abaikan saja mereka yang tidak menginginkan sepakbola Indonesia maju," kata Yeyen dikutip situs resmi PSSI.

Bagi Yeyen sepakbola adalah tontonan dan hiburan. "Bagi kami, sepakbola jauh lebih dari itu. Sepak bola adalah kehidupan dan harapan. Pandemi covid-19 terlalu lama merusak kehidupan insan sepak bola Indonesia. Namun, riak kehidupan dan harapan itu muncul lagi lewat Piala Menpora," lanjutnya.

Bukti Nyata Komitmen Prokes Ketat Piala Menpora

Seperti janji PSSI dan LIB, tak ada penonton yang hadir di stadion. 22 Maret 2020 akhirnya tiba, Piala Menpora dibuka langsung oleh orang yang menjabatnya. Siapa lagi kalau bukan Zainudin Amali.

Duel pembuka mempertemukan antara Arema FC dan Tira Persikabo di Grup A. Saat itu hingga sekarang, kondisi sekitar stadion sepi dari hiruk pikuk suporter. Polisi dan panitia pun berjaga ketat di setiap sudut stadion.

Para pelatih, pemain cadangan, asisten wasit, bahkan hingga ball boy menggunakan masker. Bola yang akan digunakan pun disemprot disinfektan.

"Ini akan jadi ujian, tapi kita yakin kita mampu menggelar sepakbola dengan protokol kesehatan yang disiplin. Saya yakin suporter sepak bola di Indonesia cerdas dan saya ingin suporter hanya dukung dari rumah saja,” kata Amali dalam sambutannya.

Sementara Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan Piala Menpora adalah momen yang sakral, karena denyut nadi sepakbola Indonesia berdetak lagi setelah satu tahun mati suri.

"Hari ini adalah spesial bagi sepakbola Indonesia yang kurang lebih satu tahun telah berhenti. Kami ada komitmen khusus kita semua harus melakukan kegiatan dengan protokol kesehatan,” kata pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut.

Simpatik dan Pujian

Hari berganti, pertandingan terus berjalan. Piala Menpora 2021 mendapatkan sanjungan dari tokoh-tokoh penting negeri ini. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, salah satu di antaranya.

Bukan hanya sekadar formalitas, Gibran menjadi saksi dan menjalani betapa ketatnya prokes di Piala Menpora. Tanpa pandang bulu, panpel menjalankan prokes sebelum masuk ke stadion, di antaranya wajib menjalani swab antigen.

"Saya masuk situ juga swab dulu, sudah cukup lengkap jarak dan tidak ada penonton, nontonnya dari rumah semua," kata Gibran.

Bukan cuma Gibran yang merasakan ketatnya prokes di Piala Menpora. Kapolri pun mengalami sendiri. Listyo Sigit Prabowo melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada laga kedua Grup A Piala Menpora 2021.

Kapolri hadir sebelum pertandingaan antara Tira Persikabo vs PSIS Semarang di Stadion Manahan, Solo, Kamis 25 Maret 2021.

Listyo mengaku puas melihat berlangsungnya Piala Menpora 2021 yang menjalankan protokol kesehatan ketat. Sebagaimana yang dipaparkan PSSI dan LIB ketika mengajukan permohonan izin.

"Hari ini sengaja saya sidak. Tanpa dikasih tahu. Kalau dikasih tahu nanti pasti akan dipersiapkan. Tapi, saya lihat Alhamdulillah pelaksanaannya sesuai dengan komitmen awal dan bagaimana pertandingan dilaksanakan dengan melaksanakan protokol kesehatan," kata Listyo.

"Bagaimana pertandingan prokes. Mulai masuk diperiksa dulu, diswab, diberikan gelang, dan di dalam saya lihat aturannya di bangku cadangan dan siap untuk menjadi pemain pengganti pakai masker," sambungnya.

Kapolri Senang, Presiden Jokowi Puas

Menpora Zainudin Amali bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu 15 April 2021. Amali mengatakan, diam-diam orang nomor satu negeri ini menyaksikan perhelatan Piala Menpora.

Dan, Jokowi pun merasa puas dengan prokes yang ketat di setiap pertandingan. Selain itu, Jokowi juga mengapresiasi komitmen suporter yang tidak nekat hadir ke stadion.

"Beliau mengapresiasi bagaimana penggemar, pecinta klub, dan suporter sangat patuh terhadap himbauan tidak datang berkerumun ke stadion, tidak nonton bareng dan lain sebagainya," kata Amali dalam rilis Kemenpora.

Simpatik Menju Kenyataan Liga 1

Kenyataanya, kritik brutal yang dipaparkan pada awal artikel ini termentahkan. Sang presiden saja bahkan memberikan apresiasi.

Dengan simpatik yang datang, Kompetisi kasta teratas sepakbola Indonesia, Liga 1 mendekati kenyataan untuk kembali bergulir di tengah pandemi.

Kapolri pun dalam sidaknya menyebut demikian. Dia mengatakan bukan tidak mungkin pihaknya akan memberikan izin untuk bergulirnya Liga 1, maupun Liga 2.

"Ini adalah realita yang bagus sesuai dengan yang kami harapkan. Tentunya ini akan jadi penilaian kami terkait perjalanannya. Kalau tertib kami akan bicarakan kembali soal persiapan Liga 1 dan Liga 2 yang memang ditunggu-tunggu klub dan suporter," jelasnya.

Bahkan, Presiden Jokowi seperti yang disampaikan Zainudin Amali menginstruksikan Kemenpora, PSSI, dan LIB merancang persiapan Liga 1 dan Liga 2 2021. Hebatnya lagim dengan kemungkinan adanya penonton di stadion.

"Pak Presiden meminta untuk dibuatkan kajian. Beliau sampaikan coba kemungkinan itu untuk dikaji dan disesuaikan dengan vaksinasi," kata Amali.

"Itu dihitung betul dan beliau memberikan arahan agar saya berkomunikasi dengan operator. Pak Presiden sudah membuka peluang dan disampaikan kepada saya untuk dikaji," jelasnya.