Kisah Pilu Fotografer Perempuan Afghanistan Tinggalkan Negaranya hanya Berbekal Kamera

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kisah pilu dan menyentuh tak henti datang usai Taliban menguasai Afghanistan. Salah satunya datang dari seorang fotografer perempuan yang terpaksa mengungsi karena pergolakan yang terjadi di tanah kelahirannya.

Fotografer dan pembuat film bernama Roya Heydari itu membagikan curahan hatinya melalui cuitan di akun Twitter pribadinya. Dia mengaku meninggalkan Afghanistan karena ingin menyuarakan hak-haknya.

Karena hal tersebut, Heydari rela harus memulai kariernya dari nol. Dia bahkan hanya membawa satu kamera saja saat meninggalkan Afghanistan.

"Aku meninggalkan seluruh hidupku, rumahku untuk terus memiliki suara," tulis Roya dalam akun Twitter @heydari_roya yang dibagikan pada 26 Agustus 2021 itu.

"Sekali lagi, aku memulai dari awal. Aku hanya membawa kameraku dan jiwa mati untuk melintasi samudera. Dengan hati yang berat, selamat tinggal tanah airku. Sampai bertemu lagi,” lanjutnya.

Takut ruang gerak perempuan dibatasi

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Curahannya itu pun jadi viral. Mewakili bagaimana perasaan banyak orang Afghanistan terpaksa meninggalkan negara mereka, postingan itu sudah disukai lebih 120 ribu kali dan mendapatkan seribuan komentar. Roya pun mendapat banyak dukungan dari netizen di seluruh dunia.

Dilansir Al Jazeera, Roya Heydari kini telah berhasil kabur dari ibu kota Kabul dan tiba di Perancis. Salah satu ketakutannya atas kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan adalah jika tidak diperbolehkan bekerja.

"Kematian hanya datang sekali, aku tidak takut mereka membunuhku. Apa yang aku takutkan adalah dibelenggu, tidak bisa keluar dan meneruskan pekerjaanku," lanjutnya.

Mengalami kesulitan sejak kecil

Fotografer cantik Afghanistan bagikan ceritanya yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya hanya berbekal sebuah kamera. (Instagram/heydari_roya).
Fotografer cantik Afghanistan bagikan ceritanya yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya hanya berbekal sebuah kamera. (Instagram/heydari_roya).

Dilansir Rediff, Roya Heydari sendiri lahir dalam pengasingan dan baru kembali ke Afghanistan di usia 10 tahun. Selama ini, ia mengalami sejumlah kesulitan dan diancam oleh sejumlah kelompok. Roya pernah berhadapan dengan berbagai serangan dan ledakan tapi menurutnya banyak pembelajaran yang membuatnya bersyukur masih hidup sampai sekarang.

“Aku tidak pernah takut mati atau ancaman dan aku tidak pernah ingin menyerah dan menyembunyikan suaraku. Pertahanan dan kekuatan adalah untuk tidak mati dalam perang ini tapi tetap hidup jadi kamu bisa menjadi suara yang lebih besar untuk generasi dan orang-orangmu," pungkasnya.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel