Kisah Pilu Korban Gempa Cianjur, Bawa Jenazah Anak Pakai Motor Karena Macet

Merdeka.com - Merdeka.com - Bak disambar petir di siang bolong. Nunung tengah menjaga warung miliknya. Tiba-tiba barang dagangannya bergetar berjatuhan ke lantai. Tiba-tiba terdengar suara 'bruk'.

Atap rumah Nunung ambruk. Getaran gempa di Cianjur terjadi begitu cepat. Dua anak dan suaminya saat itu tertidur lelap di dalam rumah. Satu anaknya meninggal tertimpa reruntuhan rumah.

"Kebetulan pas ambruk enggak ada getaran langsung 'bruk' saja. Anak saya satu meninggal," cerita Nunung saat bersedia diwawancara merdeka.com, Rabu (23/11).

Beruntung satu anak Nunung lainnya selamat. Sang anak selamat dan suami menerima beberapa luka.

Suaranya bergetar. Nunung bercerita. Dia berniat menguburkan anaknya ke kampung suaminya di kawasan Cimangkok, Sukabumi. Namun tidak semudah itu anaknya akan dimakamkan.

"Ada pendataan dulu baru bisa dibawa, tapi ditunggu kok anak saya enggak diapa-apain. Kasihan sudah lama," kata Nunung.

Suami Nunung mencoba berbicara dan memohon izin dengan unit kepala desa agar anaknya dapat segera dimakamkan. Tidak berhenti di situ, ibu dengan dua anak itu masih menerima cobaan lainnya dengan situasi dan kondisi lalu lintas yang dikatakannya sudah sangat parah. Lalu lalang mobil pembawa logistik dan ramainya pengungsi di kampungnya memperparah kemacetan.

"Saya kuburin ke kampung suami di Sukabumi, itu pun pakai motor saudara bahkan saking macetnya (perjalanan)," tutur sang ibu dengan wajah yang tetap tegar.

Pascagempa, Nunung dengan suaminya harus menerima trauma berat yang akan diingat seumur hidupnya. Bukan hanya gempa, tapi juga harus kehilangan salah satu buah hatinya.

Saat ini, dia tengah bergegas untuk pindah ke rumah sang suami di Cimangkok, beserta barang-barang yang sekiranya berhasil diselamatkan. Terlebih dirinya masih khawatir akan adanya gempa susulan terjadi.

"Sekarang semua keluarga saya bawa ke Sukabumi dan saya cuma pengen nyelametin apa yang tersisa saja," tutupnya.

Diketahui, jumlah korban jiwa akibat gempa di Kabupaten Cianjur bertambah menjadi 284 orang, di mana 122 di antaranya sudah berhasil teridentifikasi. Pencarian korban di reruntuhan sedang berlanjut di sejumlah lokasi.

Data tersebut didapatkan dari BPBD Jabar pada Rabu (23/11) pagi. Angka itu bertambah jika dibandingkan dengan data yang dirilis sehari sebelumnya, yakni 269 orang yang meninggal dunia.

Lalu, warga yang dinyatakan hilang mencapai 151 orang, korban luka mencapai 1.858 jiwa dan 58.362 jiwa yang mengungsi. Total rumah yang rusak sebanyak 28.07 unit. Dari jumlah itu, rumah yang rusak kategori ringan mencapai 8.634, kategori sedang 3.723 dan kategori berat 14.811.

Data tersebut terus diperbarui setiap hari dan direkap pada sore hari di posko darurat yang dipusatkan di Pendopo Cianjur.

Sementara itu, upaya pencarian 151 orang yang dinyatakan hilang dalam peristiwa gempa bumi terus berlanjut. Total ada 796 personel gabungan yang disebar di sejumlah wilayah yang terdampak.

[ray]