Kisah Pilu Nurkiman, Pemain Persebaya yang Kehilangan Penglihatan Karena Ulah Suporter

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Tanggal 26 Desember 1995 atau 25 tahun yang lalu, menjadi hari yang sulit dilupakan oleh pesepakbola asal Surabaya, Nurkiman. Sebuah insiden yang membuatnya harus pensiun dari sepak bola untuk selamanya.

Saat itu ia ikut membela Bajul Ijo (julukan Persebaya Surabaya) bertanding menghadapi tuan rumah Persema Malang di Stadion Gajayana dalam kompetisi Perserikatan edisi terakhir sebelum digabung dengan Galatama. Laga berakhir imbang 1-1, dibalut dalam rivalitas suporter Malang dan Surabaya.

Sepertinya tidak ada peristiwa atau insiden berarti sepanjang pertandingan. Namun nahas setelah laga dalam perjalanan pulang dari stadion, bus yang membawa rombongan tim Persebaya, mendadak diserang oleh suporter.

Nurkiman duduk di pinggir atau dekat dengan kaca bus, ia bersebelahan dengan Mursyid Effendi. Seketika kaca di sampingnya pecah akibat terkena ketapel oleh oknum suporter tuan rumah.

"Setelah laga kami pulang dengan bus, tapi jalannya melambat karena di pinggir jalan banyak suporter Malang. Di tikungan dilempari batu, saya tengok ke kiri, kaca pecah diketapel, di sebelah kanan saya itu Mursyid," kenang Nurkiman dalam obrolan di kanal YouTube Omah Bal-Balan, belum lama ini.

"Busnya tidak ada kaca film, sehingga membuat mata kiri saya terkena serpihan kaca hingga cacat sampai sekarang," lanjut dia.

Hancur Lebur

Mantan pemain Persebaya Surabaya, Nurkiman. (Tangkapan layar YouTube omah bal-balan)
Mantan pemain Persebaya Surabaya, Nurkiman. (Tangkapan layar YouTube omah bal-balan)

Lantas Nurkiman dilarikan ke Rumah Sakit dengan menggunakan ambulans. Dalam hatinya terus bertanya apakah masih bisa melanjutkan karier di sepak bola, karena mata kirinya mengalami cacat.

Jelas menjadi sebuah pukulan yang sangat hebat untuknya. Betapa tidak? Nurkiman masih berusia 22 tahun saat kejadian itu menimpanya. Banyak kesempatan yang sebenarnya bisa ia dapatkan baik di level klubnya bersama Persebaya atau hingga ke jenjang Timnas Indonesia.

Hingga akhirnya dokter memvonis Nurkiman memang tidak bisa melanjutkan karier di sepak bola. Dirinya berjuang untuk sembuh dan mengaku masih sempat bermain meski hanya setengah musim, yang kemudian harus pensiun untuk selamanya dari lapangan hijau.

"Usia saya saat itu baru 22 tahun, susah, kacau hati saya mendengar kabar itu, bahwa saya tidak bisa lagi bermain bola. Nggak karu-karuan sepanjang perjalanan ambulans," tuturnya.

"Sampai sekarang di dalam mata kiri saya masih ada serpihan kacanya. Kata dokter kalau diambil bola mata bisa gembos. Saya masih sempat bermain tapi setengah kompetisi, karena memang pandangan terbatas," beber Nurkiman.

Kebesaran Hati

Nurkiman bersama eks pemain Persebaya. (Tangkapan layar YouTube omah bal-balan)
Nurkiman bersama eks pemain Persebaya. (Tangkapan layar YouTube omah bal-balan)

Setelah insiden di Malang saat itu, ia lebih banyak menjalani penyembuhan dan bekerja di lingkungan PDAM Kota Surabaya. Pekerjaan yang sudah ia jalani sebelum peristiwa nahas itu.

Nurkiman mengaku mencoba menjauh dari sepak bola, karena setiap melihat bola membuatnya teringat dan ingin kembali bermain lagi. Nurkiman dan keluarganya sempat bertemu dengan pelaku yang melempari bus dan membuatnya cacat.

Adalah dalam kesempatan di persidangan. Sebelumnya ia punya rasa marah, kecewa, dan penuh dendam seketika insiden itu terjadi. Bahkan keluarga besarnya mencoba terus mencari pelaku tindakan keji itu. Perlahan rasa itu luntur dan kebesaran hati Nurkiman membuatnya memaafkan pelaku.

"Sempat ketemu dengan pelaku, dipanggil di kejaksaan, karena setelah insiden itu malamnya sudah tertangkap polisi. Waktu pertama ya dendam, keluarga mau cari orang itu. Tapi percuma mata saya juga tidak kembali. Pas ketemu saya maafkan, anaknya masih kecil usia SMP kalau nggak salah," ungkap Nurkiman.

Saat ini atau 25 tahun sudah berlalu, Nurkiman punya kegiatan untuk mengisi hari-harinya selain bekerja di PDAM. Ia kembali di lapangan hijau sebagai pelatih usia muda. Namun sebuah pesan mendalam ia sampaikan kepada generasi muda khususnya para suporter atas peristiwa yang pernah menimpa dirinya.

"Pesan saya, boleh fanatik tapi jangan anarkis. Kalah menang dihargai, pemain sudah berjuang. Kemudian uporter hanya mendukung, selesai pertandingan ya sudah. Suporter sekarang lebih dewasa," tandas Nurkiman mengakhiri obrolannya.

Saksikan Video Pilihan Kami:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel