Kisah Pilu Sepakbola Indonesia

Liputan6.com, Jakarta : Dalam semusim terakhir bergulir dua liga yaitu Liga Primer Indonesia di bawah PT Liga Prima Indonesia Sportindo, yang diakui PSSI dan Liga Super Indonesia di bawah PT Liga Indonesia yang didukung KPSI. Konflik yang bermuara pada adanya dua liga dan dua kepengurusan memperparah krisis keuangan klub-klub di Tanah Air.

Krisis keuangan klub-klub berdampak antara lain pada tertunggaknya gaji pemain. Klub kian sulit mendapatkan pemasukan karena iklim persepakbolaan nasional tak kondusif. Kepercayaan pihak sponsor runtuh akibat konflik ini. Banyak sponsor yang tidak mau meneruskan kerja sama karena dinilai tak menguntungkan lagi.

Padahal sejumlah klub sudah tak mendapat suntikan dari APBD. Tak pelak banyak klubnya hanya bisa membayar setengah dari gaji pemain saat kompetisi berakhir. Kasus tertunggaknya gaji pemain mencapai titik puncak dengan meninggalnya pemain Persis asal Paraguay, Diego Mendieta. Berikut sebagian kasus penunggakan gaji pemain:

1. Diego Mendieta

Diego Mendieta meninggal disebabkan oleh serangan virus dan jamur yang telah menyebar di tubuhnya. Sebelum mengembuskan napas terakhir diketahui kalau sang pemain ingin pulang ke negaranya. Namun keinginan itu tertahan karena klubnya masih berutang gaji empat bulan sebesar Rp 120 juta. Untuk bertahan hidup, Diego harus ikut bertanding sepakbola antar kampung alias tarkam. Diego mendapat bayaran Rp 800 ribu untuk satu putaran turnamen.

2. Sylvain Moukwelle Ebwanga

Sylvain Moukwelle Ebwanga terkapar di kamar kos akibat terserang tifus. Pemain asal Prancis tersebut tidak mampu berobat ke rumah sakit karena tak punya uang. Ia belum menerima sisa gajinya selama tujuh bulan terakhir sebesar Rp 217.500 juta dari klub Persiwangi Banyuwangi. Ebwanga sudah sekitar sebulan terkapar di kamar kosnya. Untuk makan, Ebwanga harus mengandalkan bantuan dari para penggemarnya. Kerinduan akan kampung halaman harus dipendam karena tak punya uang.

3. Aji Nufrijal

Aji Nufrijal adalah mantan pemain Bontang FC yang musim lalu berkompetisi di Liga Primer Indonesia. Aji belum menerima gaji selama tujuh bulan dari Bontang FC. Untuk menutup biaya sehari-hari, Aji terpaksa menjual mobil miliknya. Bahkan dia terpaksa menggadaikan perhiasaan milik istrinya agar dapurnya tetap ngebul. Aji juga rela bermain di pertandingan antar kampung alias tarkam dengan bayaran alakadarnya.

4. Camara Abdoulaye Sekou

Camara Abdoulaye Sekou merupakan mengaku belum menerima gaji tujuh bulan dari Persipro Probolinggo. Ia dikontrak satu musim dengan nilai Rp 150 juta. Namun baru baru dibayar Rp 25 juta sebagai uang muka. Akibat gajinya tak kunjung dibayar, Camara bersama istri dan anaknya terancam keluar dari rumah kontrakannya. Camara bersama dua rekannya Syilla Mbamba dan Salomon Begondo juga pernah mengemis di depan Kantor Walikota Probolinggo.

5. Osas Marvelous Saha

Osas Marvelous Saha merupakan pemain asal Nigeria yang memperkuat PSMS Medan. Bersama rekan-rekannya iang melakukan mogok latihan karena manajemen selalu ingkar janji. Karena belum menerima gaji selama lima bulan, mereka terancam tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya  di masa penerimaan siswa baru. Blum dibayarkannya gaji, membuat para pemain di klubnya kalang kabut. Para pemain pun mendatangi Balaikota untuk meminta kepastian.(berbagai sumber/jum)