Kisah Pilu Suami-Istri Hanya Bisa Berbagi Saat Terakhir via Video Call

Adinda Permatasari

VIVA – Pandemi COVID-19 telah membuat gerak banyak orang terbatas. Interaksi pun menjadi berkurang karena penerapan physical distancing demi mempersempit penyebaran penyakit ini.

Tapi, bagi sebagian orang lainnya, kenyataan yang mereka hadapi jauh lebih buruk. Para petugas medis yang berjuang di garda depan melawan COVID-19 harus rela menahan haus dan lapar karena memakai alat pelindung diri atau APD. Para pasien yang terisolasi di rumah sakit tanpa bisa bertatap muka dengan orang-orang tercinta mereka.

Begitu pula kenyataan pahit yang harus dihadapi Maura Lewinger. Ia bercerita tentang kehilangan suaminya dan hanya bisa mengucap perpisahan lewat aplikasi FaceTime.

Melalui sebuah wawancara dengan CNN, Maura mengungkap kisah suaminya yang menolak melakukan tes virus corona saat masih berada di stadium awal penyakitnya. Setelah melalui serangkaian perawatan dan pengobatan, suami Maura kemudian dipindahkan ke ICU karena kondisinya semakin memburuk.

Menyadari kenyataan ia akan segera kehilangan suaminya, Maura pun berbagi cerita pedih momen terakhirnya dengan suami kepada CNN.

"Aku meminta perawat memutar musik untuk suamiku. Dia (perawat) mengatakan bahwa suamiku sedang dibius tapi dia akan melakukannya," ujar Maura kepada CNN seperti dikutip laman World of Buzz.

Namun, karena keadaan semakin memburuk, dia melakukan video call dengan suami melalui FaceTime.

"Aku memohon kepadanya untuk tidak meninggalkan kami. Aku mengatakan padanya bahwa kami semua membutuhkannya," ujar Maura.

Kemudian, Maura memiliki kesempatan lain untuk melakukan ritual terakhir untuk suaminya. Dia lalu meminta untuk melakukan video call lagi dan mengatakan kalimat terakhir untuk suaminya.

"Aku berterima kasih padanya karena sudah menjadi suami yang sangat luar biasa. Bahwa dia sudah membuatku merasa dicintai dan disayangi setiap hari," katanya.

Maura juga mengatakan kalau suaminya selalu menulis surat dengan kata-kata indah setiap hari dan meletakannya di kotak makan siangnya. Maura berterima kasih karena itu.

"Aku berdoa dan dokter mengambil teleponnya. Dia mengatakan maaf tidak ada lagi detak jantung," ujar Maura.

Maura menambahkan bahwa dia tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Dia berpesan bahwa kita bukan tidak terkalahkan dan ini tidak akan terjadi pada kita.