Kisah Pilu Warga Ri’iheret Sikka Puluhan Tahun Andalkan Tandon Air Hujan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Sikka - Selama puluhan tahun warga yang bermukim di Kampung Ri’iheret, RT.12/RW 006, Dusun Krado, Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat mendambakan air bersih yang bisa mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagian penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani ini terpaksa menggunakan air tadah hujan yang ditampung selama berbulan-bulan dan sudah berlumut. Mereka terpaksa menggunakan air ini untuk mandi, mencuci, sedangkan untuk memasak warga terpaksa membeli air tangki.

Kondisi ini sangat dirasakan warga di Dusun Krado khususnya kampung Ri’iheret, mereka terpaksa menggunakan air tada hujan yang ditampung dalam bak penampung yang sudah berlumut.

“Kami sudah puluhan tahun mengandalkan air tadah hujan untuk kebutuhan air bersih. Jika musim kemarau berkepanjangan, terpaksa kami membeli air tangki dari kota Maumere seharga Rp450 ribu yang digunakan untuk kebutuhan pokok seperti mandi dan memasak,” ungkap Eutropia Nona Esti Luju kepada media ini, kamis (7/10/2021) siang.

Ia menjelaskan, untuk kebutuhan air bersih, warga harus mengeluarkan biaya membeli air seharga Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu. Untuk satu tahun dalam musim kemarau kebutuhan air sebanyak 8 tangki, biaya yang dikeluarkan warga untuk kebutuhan air mencapai Rp4 juta. Biaya ini cukup besar hanya untuk kebutuhan air sehari- hari.

Dikatakannya kadang mereka terpaksa beli air tangki seharga Rp450 ribu hingga Rp500 ribu. "Ya mau tidak mau kami harus membelinya karena mengandalkan air hujan tidak mungkin karena persediaan air di bak penampung sudah habis," ucap dia.

“Sedangkan untuk menghemat air pada musim kemarau seperti ini, air hujan yang ditampung berbulan-bulan dalam bak yang sudah berlumut seperti ini, kami gunakan untuk mencuci, sehingga air yang dibeli hanya digunakan untuk mandi dan masak,” sebutnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Keberadaan Mata Air

Air yang sudah berlumut, yang ditampung dalam bak digunakan untuk mencuci. (Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)
Air yang sudah berlumut, yang ditampung dalam bak digunakan untuk mencuci. (Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)

Sementara itu, Bernadus mengatakan di tempat yang mereka tinggali ada beberapa suber mata air, namun sumber mata air tersebut berada di wilayah kecamatan lain, namuk jaraknya sangat dekat.

“Ada beberapa sumber air terdekat di wilayah itu. Namun, lokasi sumber air itu berada di Desa Baomekot, wilayah Kecamatan Hewokloang. Kalau mau tarik air dari Baomekot sebenarnya bisa. Jaraknya hanya 2 kilometer dari kampung Ri’i Heret dan debit airnya cukup besar,” ungkap.

Ia mengharapkan agar pemerintah bisa memperhatikan hal ini agar air bersih dari sumber air yang terletak antara Desa Ipir, Kecamatan Bola dan Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang bisa menjangkau warga Ri’i Heret.

“Indonesia sudah merdeka selama 76 tahun. Namun kami masyarakat di sini belum merdeka. Air bersih pun belum bisa kami nikmati. Di dusun ini sebanyak puluhan Kepala Keluarga (KK) yang selama ini mendambakan air bersih,” bebernya

Pemerintah Kabupaten Sikka diharapkan aktif merespons aspirasi warga yang sudah lama diabaikan hak-haknya tanpa harus mengadu ke pusat.

Membangun jaringan yang airnya layak konsumsi ke rumah-rumah warga bisa menjadi solusi untuk memenuhi akses air bersih bagi warga Kampung Ri'iheret, Dusun Krado, Desa Ipir, Kecamatan Bola.

Saksikan Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel