Kisah Pusaka Cirebon dari Babad Alas hingga Eksekusi Syekh Siti Jenar

Liputan6.com, Cirebon - Perjalanan panjang sejarah Cirebon tak hanya meninggalkan cerita dan warisan seni budaya. Benda pusaka menjadi salah satu simbol kebanggaan masyarakat Cirebon baik yang masih ada di dalam keraton maupun di Museum Belanda.

Dari informasi yang dihimpun, selain bendera, beberapa pusaka Cirebon masih tersimpan dan terawat. Seperti Golok Cabang, Keris Sarpanaga, dan Keris Kentanaga.

"Tiga pusaka ini diketahui masih ada di Cirebon dan terawat termasuk ada di Keraton Kanoman. Tidak bisa ditunjukkan ke semua orang," ujar pustakawan Keraton Kanoman Cirebon Farihin, Kamis (12/3/2020).

Masing-masing pusaka memiliki cerita yang dinilai fenomenal sepanjang perjalanan sejarah Cirebon. Seperti Golok Cabang, Arimbi menjelaskan pusaka tersebut milik Pangeran Cakrabuana.

Sekilas pusaka Golok Cabang Cirebon ini mirip seperti keris kujang dari Pajajaran. Namun, pusaka Pangeran Cakrabuana ini di ujungnya bercabang.

"Golok Cabang digunakan Pangeran Cakrabuana untuk babad alas Cirebon awal pada tahun 1445 atau 1367 saka. Menurut cerita orang Cirebon golok ini bisa mengeluarkan api dan diajak berbicara," kata Farihin.

Dia menyebutkan, Golok Cabang tersebut merupakan pemberian dari pendeta Budha Parwa bernama Sanghiyang Bango yang tak lain adalah guru dari pangeran Cakrabuana. Golok diberikan Pangeran Cakrabuana sebelum akhirnya datang ke Amparan Jati untuk berguru kepada Syekh Dahtul Kahfi atau Syekh Nurjati.

Golok tersebut dianggap fenomenal di Cirebon karena mengeluarkan api di tengah Pangeran Cakrabuana melakukan babad alas.

Keris Sarpanaga

Menurut catatan salah satu bangunan bersejarah di Keraton Kanoan Cirebon ini menjadi tempat pelantikan sultan yang baru. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

"Sekarang masih tersimpan dan terawat tidak pernah dikeluarkan bahkan dalam ritual panjang jimat sekali pun," ujar dia.

Kendati demikian, Golok Cabang pernah dijadikan model untuk warga di Desa Jemaras Kabupaten Cirebon. Arimbi mengaku bahwa para kepala desa di Jemaras pernah menemui Sultan Keraton Kanoman Cirebon.

Pertemuan tersebut untuk meminta izin keraton mengadopsi Golok Cabang sebagai simbol kekuasaan dan pangan di Desa Jemaras. Hasil adopsi tersebut dinamakan congkrang.

"Iya tahun 2018 rombongan kepala desa di Jemaras datang minta izin dan Alhamdulillah dapat izin. Dari asal usulnya juga Jemaras itu merupakan anak Pangeran Cakrabuana," kata Arimbi.

Hingga saat ini, Golok Congrak kerap digunakan untuk melantik kepala desa terpilih di kawasan Jemaras. Pusaka berikutnya yakni Keris Sarpanaga. Arimbi mengaku belum mendapat data lengkap terkait asal usul keris tersebut.

Namun, dia memastikan Keris Sarpanaga masih digunakan hingga saat ini. Keris Sarpanaga digunakan untuk melantik Sultan.

"Hanya jadi simbol kekuasaan saja dan dipakai ketika pelantikan Raja Kanoman termasuk yang sekarang," kata dia.

Pusaka Cirebon berikutnya bernama Keris Kentanaga. Farihin menjelaskan, Keris Kentanaga merupakan pusaka milik Sunan Gunung Jati Cirebon.

Siti Jenar

Penampakan Alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon berdasarkancatatan sejarah pernah menjadi tempat ekseusi mati Syekh Siti Jenar oleh Sunan Kudus dengan menggunakan pusaka keris milik Sunan Gunung Jati. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Pusaka tersebut menjadi simbol kekuasaan dan kewibawaan. Dari catatan Babad Cirebon, Keris Kentanaga pernah digunakan untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar di Alun-Alun Kasepuhan.

"Saat itu Sunan Gunung Jati diminta para wali songo meminjamkan kerisnya hasil dari pengadilan wali songo Jawa Dwipa. Ketika dipinjamkan Keris tersebut diberikan kepada Sunan Kudus untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar," ujar dia.

Arimbi menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah. Keris Kentanaga merupakan jelmaan dari seekor naga ketika mendampingi Sunan Gunung Jati bertemu ruh Nabi Muhammad di langit.

Keris tersebut diketahui terbuat dari batu meteorik dan hanya menjadi simbol kewibawaan saja. "Hanya dipakai untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar saja," ujar Arimbi.

Budayawan Cirebon Akbarudin Sucipto mengatakan, Golok Cabang selain untuk babad alas, Golok Cabang digunakan Pangeran Cakrabuana untuk bela diri.

Seiring perkembangan Cirebon, Akbar mengaku Golok Cabang bisa menjadi ikon Cirebon. Menurut dia, Golok Cabang sangat sesuai dengan lingkungan masyarakat Pantura Cirebon.

"Tapi ini sebetulnya masih jadi perdebatan ya soal ikon Cirebon yang sampai saat ini belum jelas," ujar Akbar.

Dia menjelaskan, Golok Cabang merupakan senjata yang mirip dengan kujang namun ukurannya lebih kecil. Senjata tersebut multi fungsi bisa digunakan untuk keperluan apa saja seperti rumah tangga, pertanian dan bahkan senjata untuk membela diri.

Menurut Akbar, Golok Cabang mewakili bangunan karakter masyarakat pesisir khususnya Cirebon. Masyarakat Pesisir adalah masyarakat darat yang bisa hidup diair (laut).

"Kesederhanaan dan kebersahajaannya, lugas dan terbuka dengan siapa saja juga menjadi karakter unik masyarakat pesisir," jelas Akbar.

Saksikan video pilihan berikut ini: