Kisah Serdadu Bocah Gimbal

Liputan6.com, Wonosobo: Secara etimologis, Dieng berasal dari dua kata dalam Bahasa Kawi. "Di" yang berarti pegunungan atau tempat, dan "hyang" berarti dewa. Maka, tidaklah heran jika Dieng merupakan satu areal tersakral di Jawa. Dataran tinggi yang terbelah di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, ini bisa dikatakan tempat bersemayamnya dewa-dewi.

Masyarakat yang mendiami kawah raksasa gunung purba dengan ketinggian lebih dari dua ribu meter di atas permukaan laut ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Terlepas dari semua itu, Dieng memiliki banyak keunikan. Satu di antaranya adalah fenomena anak berambut gembel atau gimbal. Cerita rakyat setempat menyebutkan, anak gimbal adalah titipan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Sementara cerita lain meyakini anak-anak tersebut merupakan titisan Ki Ageng Kolo Dete dan Nini Ronce Kolo Prenye--sepasang leluhur pendiri perkampungan Dieng.

Fenomena anak berambut gimbal di Dieng bukan disebabkan faktor genetik atau turun-temurun. Mereka terlahir normal. Tak ada yang bisa memprediksi kapan dan anak siapa yang mendapat anugerah itu. Hanya saja, mereka punya kesamaan. Sebelum rambut terpilin tak terurus, anak gimbal menderita demam tinggi disertai kejang dan mengigau. Dari sisi medis, fenomena ini sulit dijelaskan.

Keseharian anak berambut gimbal di Dieng tak jauh berbeda dengan anak kebanyakan. Namun, mereka cenderung lebih aktif, agak nakal, dan sedikit keras kepala. Mereka kerap menyendiri. Kepercayaan setempat meyakini anak itu tengah bercengkerama dengan mahluk gaib yang menyertainya. Tapi, tak selamanya rambut gimbal itu memahkotai mereka. Ada ritual pemotongan yang harus dilakukan. Sebab, ada kepercayaan jika dibiarkan hingga remaja maka akan membawa musibah bagi si anak dan keluarganya.

Upacara ruwatan pemotongan rambut gimbal di Dieng Kulon dipimpin pemangku adat Mbah Naryono. Sebelum prosesi dilangsungkan, si mbah dan sesepuh desa melakukan ritual napak tilas. Ritual berupa doa digelar di beberapa tempat sakral agar ruwatan berjalan lancar. Candi Dwarawati, Kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Kompleks Pertapaan Mandalasari di Telaga Warna, dan Kawah Sikidang merupakan tempat-tempat yang disambangi.

Saat hajatan ruwatan pencukuran dimulai, sesepuh desa mempersiapkan berbagai sesajian dibantu warga desa. Sajen itu antara lain nasi tumpeng tujuh macam dan tak lupa gunungan hasil bumi warga sekitar Dieng. Anak-anak berambut gimbal mengenakan ikat kepala kain putih, pertanda niat suci agar berkah dan rezeki bakal datang setelah rambut gimbal dipotong.

Arak-arakan mengelilingi kampung disertai dengan kesenian tradisional berupa musik tek-tek bambu asri, barongsai, dan rampakyakso, agar seluruh desa mendapat berkah. Anak berambut gimbal satu per satu memasuki Sendang Maerokoco dengan dinaungi payung robyong. Sumber mata air kuno di kompleks percandian itu pun dibatasi kain kafan putih yang bermakna batas suci.

Setelah prosesi penjamasan, rambut si anak dicuci. Mereka diarak ke depan Candi Arjuna, tempat prosesi pencukuran dilaksanakan. Tokoh masyarakat yang didampingi sesepuh desa mengambil peran memangkas. Pemotongan rambut diyakini mengusir mahluk gaib keluar dari tubuh si anak. Selanjutnya, setelah benda permintaan diserahkan kepada si anak, rambut yang telah dipotong dan sejumlah sesajen dilarung. Lokasinya di Telaga Warna yang mengalir ke Sungai Serayu.

Sungai Serayu berhilir ke Pantai Selatan atau Samudera Hindia. Pelarungan ini menyimbolkan pengembalian rambut titipan tersebut kepada Nyi Roro Kidul agar bala atau kesialan berganti menjadi rezeki.(ASW/YUS)