Kisah 'Sherly', mangkal di Taman Lawang demi sesuap nasi

MERDEKA.COM, Kesibukan kota Jakarta mulai terhenti saat jam dinding menunjukkan pukul 24.00 WIB. Namun pemandangan berbeda terlihat di kawasan Taman Lawang di kawasan Jl Latu Harhary, Setia Budi, Jakarta Selatan. Puluhan Waria di lokasi pinggiran jalan ini mulai bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat merdeka.com menyambangi kawasan tersebut, Minggu (4/11) dini hari, puluhan waria sedang mangkal di tempat ini. Siapa pun yang lewat, baik pengguna sepeda motor maupun kendaraan roda empat yang melaju secara perlahan pasti disapa oleh waria-waria berpakaian mini dan seksi tersebut.

"Hai mau kemana, sini dong," ujar salah seorang waria yang suka menyapa tiap ada kendaraan yang melintas.

Saat dihampiri, waria itu pun tanpa canggung langsung menawarkan diri. "Mau 'disedot tsunami' gak?" Rp 30 ribu doang, nanti disedot di balik pohon itu," ujar waria berbaju hitam yang mengaku bernama Olivia sambil menunjuk sebuah pohon yang tak jauh dari dia mangkal.

Olivia memang tidak sendiri pada saat itu, salah satu temanya bernama Sherly pun ikut bergabung ketika ada kendaraan yang berhenti. "Hai aku Sherly, butuh dua atau satu," sapa waria berambut pirang ini.

'Ada duit ada barang' mungkin sepenggal kata itu bisa mengawali awal wawancara merdeka.com dengan waria bertinggi 170 cm yang memiliki kulit putih ini. "Bener nih cuma mau nanya-nanya doang gak mau gituan," ujarnya sambil tersenyum genit.

Waria yang mangaku berasal dari Medan, Sumatera Utara ini akhirnya bersedia menceritakan kehidupan dirinya saat memilih terjun ke dunia prostitusi. Cerita klasik pun mengalir dari mulut Sherly yang mengaku masih berusia 20-an tahun itu. Lagi-lagi urusan perut yang membuatnya terpaksa menjual diri untuk pemuas para lelaki hidung belang.

"Sudah pasti karena uang lah, habis kaum seperti kami ini kan sulit untuk mendapatkan perkejaan. Kalo gak seperti ini yah gak bisa makan dong," kisahnya.

Sherly yang memiliki nama KTP Sandy Permana ini mengatakan, pekerjaan yang dianggap hina ini memang cukup menggiurkan baginya. Selain mudah mendapatkan uang ia pun mengaku dapat melampiaskan kelainan seks-nya kepada para pelanggan.

"Aku memang sudah mempunyai sifat yang menyimpang, dari SMP emang sudah suka sama cowok. Jadi kalau kerja kayak ginikan pas ama saya. Dapet duitnya juga gampang. Semaleman aja bisa dapet Rp 300 ribu bahkan kalau ramai bisa Rp 1 juta," jelasnya sambil asyik menghisap rokok.

Untuk mencukupi kebutuhanya, Sherly yang mengaku bekerja di sebuah salon jika siang hari ini menuturkan bahwa gajinya memang tidak cukup untuk membiayai suntik hormon yang dilakukannya selama satu bulan sekali.

"Kerja di salon kan gajinya di bawah UMR, belum lagi saya harus rutin nyutik hormon di tubuh saya, itu biayanya aja Rp 500 ribu satu kali suntik. Belum bayar kosan, belum make up, yang ada nombokan," jelasnya.

Setelah berbincang hangat, Sherly pun akhirnya menutup obrolan. Karena belum mendapatkan penglaris ia pun meminta izin untuk kembali mangkal. Dengan dandanan menor, Sherly mulai memanggil-manggil para pengendara dengan centil.

"Udah yah janjinya wawancara kan cuma satu jam, sekarang gue nyari pelanggan dulu nih," tutupnya dengan kemayu.

Sumber:
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.