Kisah Soesalit Djojoadhiningrat, Putra RA Kartini yang Penuh Liku

Adinda Permatasari, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tanggal 21 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini di Indonesia. RA Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan wafat pada 13 September 1904. R.A. Kartini meninggal beberapa hari usai melahirkan putra pertamanya Soesalit Djojoadhiningrat.

Ditinggal sang ibu saat baru lahir, Soesalit Djojoadhiningrat harus menempuh kehidupan yang keras. Tak seperti sang ibu yang diberi gelar pahlawan dan banyak dikenal, perjuangan hidup Soesalit Djojoadhiningrat tak banyak diketahui.

Menjadi Yatim Piatu di usia 8 tahun

Dihimpun dari berbagai sumber, Soesalit Djojoadhiningrat sempat diasuh oleh sang nenek, Ngasirah atau Nyonya Mangunwikrimo sebelum kembali diasuh sang ayah lagi K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Namun, saat berusia delapan tahun, Soesalit Djojoadhiningrat harus kehilangan sang ayah, yang meninggal dunia. Soesalit Djojoadhiningrat kemudian diasuh oleh kakak tiri tertuanya, Abdulkarnen Djojoadinigrat, yang kemudian menggantikan posisi sang ayah sebagai Bupati Rembang.

Pendidikan

Meski diasuh oleh kakak tiri, Soesalit Djojoadhiningrat disekolahkan di sekolah yang sama seperti Kartini yakni di Europe Lagere School (ELS) dan lulus tahun 1919. Setelah lulus, Soesalit Djojoadhiningrat melanjutkan pendidikannya di Hogere Burger School Semarang dan lulus pada tahun 1925. Dia juga diketahui sempat menempuh pendidikan Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren.

Tergabung PETA

Soesalit Djojoadhiningrat pernah tergabung menjadi Tentara Pembela Tanah Air pada masa pendudukan Jepang. Dia pernah mencapai pangkat Mayor Jendral. Namun, karena hasil Re-Ra (Reorganisasi-Rasionalisasi Angkatan Perang Republik Indonesia pada 1948, pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel.

Menjadi anggota Komisi 3 Jenderal

Pada program Re-Ra, Soesalit Djojoadhiningrat sempat ditunjuk menjadi salah satu anggota Komisi 3 Jenderal di mana dia dianggap mewakili kalangan bekas PETA dan laskar, sementara Mayor Jenderal Suwardi mewakili kalangan bekas KNIL dan Abdul Haris Nasution mewakili kalangan perwira-perwira muda.

Pernah menjadi Panglima Divisi III Diponegoro

Soesalit Djojoadhiningrat sempat dijadikan sebagai panglima Divisi III Diponegoro oleh Amir Sjarifoedin pada Oktober 1946-Maret 1948 lantaran dianggap orang kuat di militer Republik.

Jabatan prestisius

Selain menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro, Soesalit Djojoadhiningrat juga pernah menjabat sebagai Komandan Brigade V Divisi II Cirebon hingga tahun 1946. Soesalit Djojoadhiningrat juga pernah menjadi Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu dan sekitarnya pada tahun 1948.

Ditarik sebagai staf Angkatan Darat

Soesalit Djojoadhiningrat ditarik sebagai Staf Angkatan Darat di Kementerian Pertahanan saat usianya 44 tahun. Penarikannya ini pasca peristiwa Madiun pada tahun 1948. Nama Soesalit Djojoadhiningrat sempat tersorot karena dia memiliki kedekatan dengan beberapa orang sayap kiri. Mengingat juga kakak tirinya, Abdulmadjid Djojoadiningrat juga memiliki paham komunis saat bersekolah di Belanda. Kakaknya itu berteman dengan Amir Sjarifoedin, yang mana Amir sempat berhubungan dengan Musso yang memimpin peristiwa Madiun kala itu.

Meninggal di usia 57 tahun

Soesalit Djojoadhiningrat meninggal di usia 57 tahun pada 17 Maret 1962. Jenazahnya pun dimakamkan di kompleks makam RA Kartini dan keluarganya di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. Soesalit Djojoadhiningrat juga diketahui memiliki seorang putra yang bernama R.M. Boedhy Setia Soesalit.