Kisah Staf KPU Yahukimo yang Dibunuh dan Cintanya pada Papua

Agus Rahmat, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepergian Henry Jovinski (25), staf KPUD Kabupaten Yahukimo, Papua, menyisahkan kesedihan mendalam bagi keluarga. Padahal, mengabdi di wilayah paling timur NKRI itu memang sudah menjadi cita-citanya.

Ayah almarhum Henry, Sugeng Kusharyanto menceritakan bagaimana sang anak saat berkomunikasi dengan keluarga terutama ibunya, selalu membanggakan Papua. Walau dalam beberapa tahun ini, kondisi di sana juga tidak selalu stabil. Sebelum peristiwa yang merenggut nyawa Henry oleh orang tak dikenal (OTK), dia sempat bertelepon dengan sang ibu.

"Terakhir hari Sabtu masih menghubungi mamanya. Anak saya cerita kalau ada tugas di Yahukimo," kata Sugeng di rumah duka, Rabu 12 Agustus 2020.

Baca juga: Ketum PBNU Puji Kinerja Erick Thohir di Tengah COVID-19

Sugeng menyebut jika Henry merasa nyaman bekerja di Papua. Terlebih Henry suka dengan suasana alam di Papua. Henry, lanjut Sugeng, sering menceritakan keindahan alam Papua pada ibunya.

Sugeng menjabarkan jika bertugas di Papua adalah keinginan anaknya. Henry ingin bertugas di Papua karena sebagai tenaga IT seperti dirinya dibutuhkan di sana.

Selama bertugas di Papua, Sugeng menceritakan perjalanan karier sang anak tersebut. Keluarga sempat dibuat sangat khawatir, saat Papua dan sekitarnya dilanda kerusuhan pada Agustus 2019. Hingga berujung dibakarnya Gedung KPU Papua di Jayapura, Henry sedang bertugas di sana.

Kondisi itu disebut Sugeng sempat membuat keluarga waswas. Hanya saja anaknya tetap teguh dan tetap berkeinginan bertugas di Papua.

"Kalau kekhawatiran kami ada. Tapi kami support anak karena sudah ditugaskan negara. Dia juga sangat idealis orangnya. Saya ada kekhawatiran sebagai orangtua tapi dia punya tekad. Karena merasa anak kita bersungguh-sungguh kita doakan saja," jelas Sugeng.

Terkait penyerangan yang berujung meninggalnya Henry, Sugeng menceritakan jika pihak keluarga pertama kali mendapat kabar justru dari pihak KPU Purwokerto pada Selasa 11 Agustus yang lalu. Setelahnya baru disusul oleh pihak KPU Papua yang mengontak keluarga.

"Kita diberitahukan dari KPU Papua ada kabar bahwa Henry bermasalah di sana. Tapi belum tahu tewas apa belum, ternyata tewas. Kejadian di Yahukimo saya pikir kejadian di pesawat," katanya.

Sugeng mengaku, keluarganya sempat meminta penjelasan kepada sekretaris KPU Papua terkait insiden yang menimpa anaknya. Kemudian sekretaris KPU Papua pun menjelaskan kronologi insiden yang dialami Henry.

"Informasinya sebelum kejadian, putranya sedang membonceng dalam perjalanan membeli minuman bersama salah seorang rekannya. Tiba-tiba di suatu titik, Henry dan rekannya dicegat. Saat itulah penyerangan terjadi. Begitu kejadian kawannya lari ke kantor dan (saat kembali) Henry sudah tertidur di jalan," jelas Sugeng. (art)