Kisah Sukses Euis, Kenakan Batik Maos Cilacap dengan Berdayakan Pembatik Perempuan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia, bahkan batik tanah air ini memiliki popularitas tersendiri di mata dunia. Saking populernya, batik diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia.

Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu, pembatik di Indonesia semakin hari semakin sedikit. Melihat hal tersebut, Euis Rohaini (44) merasa terpanggil. Semuanya berawal ketika Euis pulang ke kampung halaman di Maos Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelumnya Euis sempat tinggal di Bandung dan membuka usaha. Namun usahanya bangkrut akhirnya ia pulang kampung. Kemudian di Maos ia melanjutkan usaha, tapi ia berpikir di Maos itu banyak pembatik tapi batiknya tidak terkenal.

“Nah di situ saya merasa sayang banget, padahal di sini banyak skill yang tidak dimiliki orang lain kenapa tidak bisa muncul. Akhirnya saya dengan suami mulai meneliti kenapa tidak bisa muncul dan mulai mengembangkan. Saya penasaran eh akhirnya keterusan sampai sekarang berkembang,” kata Euis kepada Liputan6.com, Minggu (28/3/2021).

Euis mengaku mengalami kesulitan saat mulai memberdayakan pembatik di Maos pada medio 2007-2008. Dirinya sempat mengumpulkan para pembatik perempuan di Balai Desa Maos. Ia menjelaskan business plan dan sebagainya kepada pembatik. Tapi setelah selesai sosialisasi tersebut, para pembatik tidak begitu tertarik dengan ajakannya.

“Sekitar 2007-2008 an dikumpulkan di balai desa sudah kasih bisnis plan begini begini mereka cuman iya-iya saja begitu selesai mereka bubar, mereka belum paham akhirnya saya datengin satu-satu orang di sana yang memang pengrajin batik, itulah perjuangannya,” ungkapnya.

Hasil perjuangannya, kini Euis memiliki 80 orang pembatik dalam mendukung usahanya. Rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Sebelumnya pembatik yang berusia 60 tahunan banyak yang resign karena penglihatannya sudah mulai menurun.

Pelatihan Pembatik Muda

Sambut Hari Batik Nasional, BNI promosikan batik Maos khas Cilacap.
Sambut Hari Batik Nasional, BNI promosikan batik Maos khas Cilacap.

Oleh karena itu, Euis juga rajin melakukan pelatihan-pelatihan bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian melalui balai diklat industri untuk melatih membatik bagi generasi muda. Karena ia sadar semakin kesini makin sedikit pembatik.

“Terus bagaimana caranya agar batik ini jangan punah, akhirnya balai diklat industri dengan saya buat kegiatan pelatihan batik dan ini sudah roadshow, target kita memang seluruh Indonesia tapi ini baru pulau Jawa,” ujarnya.

Untuk 2021 sudah berjalan 5 angkatan, pada tahun 2020 hanya 4 angkatan saja, sementara pada tahun 2019 ada 11 angkatan di berbagai daerah terkait pelatihan batik. Dalam satu Angkatan memuat 50-100 peserta.

Di samping itu, Euis juga bekerja sama dengan SMA 3 Cilacap untuk mengajak batik. Bagi pelajar yang sudah lulus dan tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bisa mengikuti pelatihan batik bersama Euis.

“Tidak ada syarat khusus yang penting ada kemauan saja kita siap latih, kalau pelatihan di tempat saya itu gratis, saya latih sampai bisa yang penting mau ke tempat saya dan saya lakukan pembinaan beberapa bulan hingga ia siap membatik,” ungkap Euis.

Kemudian, pembinaan berlanjut agar peserta yang dilatih itu bisa benar-benar membantik dan bergabung dengan perusahaan batik, termasuk usaha milik Euis yakni Rajasa Mas Jaya.

Sebagai informasi usaha milik Euis ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha Konveksi, pembuatan Batik, Kerajinan Serat Alam dan Furniture. Rajasa Mas telah bekerja sama dengan beberapa instansi baik Pemerintah, BUMN maupun Swasta.

Lebih lanjut, untuk gaji, Euis menyesuaikan dengan UMR di Jawa Tengah. Namun, apabila ada pesanan yang cukup banyak, biasanya Euis menambahkan bonus untuk pembatik-pembatiknya. Hal itu sebagai apresiasi pembatik, lantaran tidak mudah dalam membuat seni batik.

“Kalau untuk gaji sesuai UMR kalau untuk yang 80 orang itu tapi kalau yang di luar daerah itu sesuai dengan borongan beda-beda tergantung motifnya. Jadi semakin sulit dan semakin halus maka semakin mahal kita kasih bonus lagi kita menghargai seni di situ,” kata Euis.

Kisaran Harga

Untuk harga batiknya pun, dijual mulai harga Rp 150 ribu hingga Rp 10 juta. Kata Euis, CV Rajasa Mas Jaya bisa mewakili Indonesia dalam beberapa pameran di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda dan lain yang lebih dari 20 negara yang dilaksanakan oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Adapun untuk peningkatan dan inovasi produk, CV Rajasa Mas Jaya juga mempunyai produk handycraft dan langsung bisa ekspor ke Arab Saudi, beberapa negara Eropa dan Cina.

Pada awal tahun 2020 CV Rajasa Mas Jaya juga merambah produksi Alat-alat Kesehatan seperti halnya Masker kain, Pakaian Hazmat Coverall isolasi dengan ijin dari Kementrian Kesehatan. Walaupun awal tahun tapi untuk pesanan masker dan hazmat sudah hampIr seluruh Indonesia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: