Kisah tentang Supremasi Kapital, Kamu Mau hanya Jadi Pengejar Uang?

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 2 menit

VIVA - Saya ingin sharing kisah tentang kekuasaan uang atau supremasi kapital. Ketemu orang kaya itu sulit. Ibarat cinta sampek dan ingtai atau Galih & ratna, Milea & Dillon eh Dillan ruwet.

Perjodohan eh perdagangan dengan horang kaya itu melewati ujian jenjang-jenjang kekuasaan.

Tapi bisa dirunut.

Anda punya wadah. Iyalah perdagangan itu lewat perkumpulan ini & itu. Dalam perkumpulan terjadi pertukaran.

Orang kaya itu punya segalanya, tapi tentu dia ada butuhnya. Misal orang kaya itu kebanyakan tua. Bilamana Anda masih berpikir mengejar reward seperti maklumnya orang-orang, Anda tidak paham siapa pemegang otoritas Kunci surga, yaitu para orang orangtua.

Jebakannya:

1. Bilamana Anda masih mengejar uang, Anda akan ketemu gadis-gadisnya bupati anu Aceng Fikri yang melambungnya setinggi langit.

2. Anda tidak akan bisa membeli uang dengan uang. Permainan seketika game over. Duitmu berapa? Trauma kita di situ, kita pikir it's about money. Tidak. Pikiran orang kaya it's never about money. Sama dengan Ikut Jenderal, kalau cuma satu Anda akan dikuasai dia. Kecuali Anda kenal beberapa.

Kuncinya :

1. Mereka itu orang kaya ingin rejuvenate, memperbaharui kekuatan dengan Anda. Pada saat Anda mengejar uang, Anda akan ketinggalan proses fundamental. Alias akan terus mengejar balon melambung.

2. Tidak cukup Anda seorang, bilamana Anda paham kuncinya surga tentu Anda pun mengajak orang lain. Hubungan antar dua perkumpulan besar ini merupakan kuncinya kekuasaan Anda.

3. Pada saat konglomerat itu kita ingin tembus, gunakan dua energi tadi.

Tapi tentu tidak cukup itu, misalnya Anda ingin jual tanah, siapa ownernya? Di mana Pak lokasinya?

4. Ada tanah bagus sebelahnya Pelabuhan, eh belum ada jalan. Ada tanah bagus eh di belakang real estate besar. Sedangkan konglomerat tersebut punya bank tanah seluas satu kabupaten.

Tanah itu mirip Mobil tua ada Pemilik lama kaum generasi angkatan ABRI masuk desa. Nah, kemudian ada penerusnya Generasi Baby boomers. Sekarang mereka sudah ABG angkatan babe gue.

Misalnya ada Pemilik mobil jadul sama dengan milik Presiden Soekarno. Lah itu yang sebelahnya. Yang ini beda bukan. Agak rongsok. Untuk bisa menyadari bahwa tidak semua mobil milik Soekarno. Kadang merek pun ganti dulu General Motors sekarang Wuling. Tanah Real estate pun berganti Pemilik.

Tapi bedanya Perjodohan sampek & ingtai, semua beres bila ada nenek. Kembali ke poin 1.