Kisah Tim Penerjemah di KTT G20, Kerja Sampai Subuh & Cek Baliho Agar Tak Salah Tulis

Merdeka.com - Merdeka.com - Perhelatan konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di Bali tidak lepas juga dari peran para penerjemah atau translator. Mereka juga bertugas dari pagi sampai malam untuk mempersiapkan materi atau konten hasil rapat G20 untuk dibagikan ke para jurnalis asing.

Saat berlangsung KTT G20 di Bali, tim penerjemah ada yang ditugaskan di venue utama KTT di mana para kepala negara bertemu dan ada juga di Media Center di Bali International Convention Center (BICC) di mana sekitar 1.500 jurnalis dari berbagai dunia berkumpul.

Tim penerjemah yang ditugaskan di Media Center ini sebanyak 14 orang, di bawah koordinasi Sekretariat Kabinet (Setkab). Sebanyak 14 penerjemah ini merupakan penerjemah bahasa Inggris, Arab, Prancis, Mandarin, dan Jepang. Mereka berasal dari sejumlah lembaga di antaranya Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Association of Indonesian Conference Interpreters.

Filmon Leonard Warouw, penerjemah madya dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan, pihaknya sudah mulai bekerja jauh sebelum KTT atau pada November 2021.

"Kalau sebelum KTT, kita sudah menerjemahkan, kita sudah mulai sejak November 2021. Itu jumlahnya tujuh orang," jelasnya kepada merdeka.com.

Saat mendekati KTT G20, jumlah penerjemah ditambah sehingga totalnya menjadi 14 orang.

Filmon mengatakan, 14 penerjemah ini bertugas di Media Center dan ada juga yang berkeliling mendampingi media asing dari venue ke venue. Jumlah 14 orang ini menurutnya cukup, kendati banyak delegasi atau media asing yang datang ke Media Center.

"Kalau untuk sumber daya ini, kami cukup. Karena yang kami kerjakan tidak secara langsung mendampingi satu satu," ujarnya.

Filmon mengatakan, mereka bertugas menerjemahkan siaran pers, hasil-hasil rapat sebelum KTT, dan juga menerjemahkan deklarasi para kepala negara saat berlangsung KTT. Selain itu, Filmon dan tim juga menerjemahkan sambutan, wawancara, iklan layanan masyarakat, video, teks dan foto.

"Jadi kami menerjemahkan materi-materi untuk bahan berita wartawan asing atau semacam press release," jelasnya.

Selain menerjemahkan, tim penerjemah ini juga bertugas untuk

proof reading atau memeriksa teks di baliho-baliho yang akan dipasang di sekitar lokasi KTT G20.

"Baliho-baliho itu kami yang ngecek juga, biar enggak salah.
Jadi sebelum dicetak jangan sampai salah, kalau salah kan malu-maluin. Jadi kami yang proof reading, mereka ngasih bahasa Indonesia, kami kasih bahasa Inggrisnya, terus kemudian baru dicetak," paparnya.

Kerja sampai larut malam

Terlibat dalam agenda bersejarah KTT G20 memberi kesan tersendiri bagi Filmon dan kawan-kawan. Walaupun harus bekerja sampai larut malam, mereka senang bisa ikut terlibat.

"Kita kerja sampai larut malam. Kami kaget karena sebelumnya tidak seperti ini, di KTT-KTT sebelumnya. Tapi kami senang ya karena kami mengerjakan penerjemahan dan ini juga kerja bagi negara juga. Kami itu sampai begadang, ada kedatangan-kedatangan para pemimpin negara, materi-materi sampai malam, ada meeting, bilateral, gala dinner sampai malam, jadi kami terjemahkan sampai subuh, jam dua malam kadang baru tidur. Pas bangun jam lima, jam enam sudah ada materi lagi," jelasnya.

"Jadi suka dukanya itu. Tapi kami enggak masalah, kami senang karena ikut ambil bagian dalam KTT ini," lanjutnya.

Setelah penutupan KTT, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar jumpa pers di Auditorium Media Center. Filmon dan tim juga ikut andil menyiapkan penerjemahan. Dalam konferensi pers tersebut, Presiden Erdogan memakai bahasa Turki dan Presiden Macron menggunakan bahasa Prancis.

"Kami melakukannya dengan sistem relay. Jadi dia (Erdogan) pakai bahasa Turki, diterjemahkan oleh penerjemahnya sendiri dalam bahasa Inggris, dari bahasa Inggris ada rekan kami yang menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia," jelasnya. [pan]