Kisah Tobat Mantan Milisi al-Shabab

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 6 menit

Kelompok militan Somalia al-Shabab merekrut ribuan prajurit, tetapi juga memerlukan orang untuk memberikan layanan umum di wilayah-wilayah yang dikuasainya. Siapa pun yang tertangkap membelot dihukum mati.

Pada saat yang sama, pemerintah berusaha membujuk mereka untuk membelot dan menjalankan pusat-pusat rehabilitasi untuk membantu mereka kembali ke masyarakat. Tiga di antara pembelot itu duduk di depan saya di ruang gelap.

Ibrahim duduk di sebelah kiri. Tatapannya percaya diri, sepasang kaca mata hitam disematkan di kaus berkerah dan bercorak garis, jam tangan besar membalut tangannya dan mata besar berwarna cokelat berbinar di bawah topi bisbol. Ibrahim mengaku usianya 35 tahun.

Moulid berada di tengah. Badannya kurus dan mengenakan sandal kuning senada dengan kemeja kuningnya. Ia berusia 28 tahun.

Duduk di sebelah kanan adalah Ahmed. Jenggotnya rapi, kepalanya dibalut dengan selendang keffiyeh. Ia mengenakan kemeja biru cerah dan kaus warna yang sama. Ia berusia 40.

Mereka mengeluh.

Mereka tidak menyukai menu makan pagi yang ditawarkan di tempat yang aman yang terletak di dalam pagar kawat di bandara internasional Mogadishu.

"Ini bukan makanan kami yang biasanya, seperti panekuk dan biji kacang. Kami tidak suka air kemasan botol. Kami suka kehidupan yang sederhana dan air sederhana," kata Ahmed.

Malangnya, restoran bandara ini melayani selera internasional. Ada pizza, steak dan bir, bukan makanan Somalia.

Saya mulai mengatakan kepada tiga pria itu bahwa saya tidak akan menggunakan nama mereka yang sebenarnya, tidak akan mengambil foto dan tidak akan melaporkan sisi cerita mereka yang berpotensi menyulitkan mereka atau berbicara tentang hal-hal yang mereka rasakan tidak nyaman.

Ibrahim menyela saya.

"Kami tidak takut menceritakan kisah kami. Tanya saja tentang apa saja. Anda bisa mengambil gambar dan menggunakan nama asli kami."

Kendati demikian, saya memutuskan untuk tidak mengambil foto dan tidak menggunakan nama asli mereka karena saya khawatir akan keselamatan mereka.

Bergabung karena uang

Hal ini dikarenakan ketiga orang ini telah membelot dari kelompok berhaluan Islam yang menggunakan kekerasan, al-Shabab, yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade dan menguasai sebagian besar wilayah Somalia, memberlakukan peraturan dan hukuman ketat.

Kelompok tersebut menjalankan pemerintahan paralel dengan pemerintahan resmi, lengkap dengan menteri-menteri, angkatan kepolisian dan sistem peradilan.

Al-Shabab menjalankan sekolah dan pusat kesehatan, irigasi pertanian dan merawat jalan serta jembatan, dan memerlukan tenaga untuk menjalankan tugas itu.

insurgents
insurgents

Hukuman bagi yang memberontak adalah hukuman mati. Al-Shabab mengatakan kepada saya bahwa hukuman berlaku bagi siapa saja yang membelot tanpa izin, berlaku tidak hanya bagi prajurit.

"Satu-satunya alasan saya bergabung dengan al-Shabab adalah uang," kata Ahmed, pembicara paling lugas di antara ketiganya. "Mereka membayar saya antara US$200 hingga US$300 (sekitar Rp4,2 juta) per bulan. Saya bertanggung jawab atas sistem transportasi di wilayah saya."

Ibrahim menggosok jari-jari tangan kanan dengan gerakan cepat untuk menggambarkan uang.

"Saya juga bergabung karena uang. Saya menjadi prajurit al-Shabab selama tiga tahun. Ketika kita berada di dalamnya, kita menikmatinya.

"Hal yang tidak saya sukai di al-Shabab adalah cara mereka berusaha mengubah pemikiran saya. Setiap dua minggu, mereka mengirimkan tim pencuci otak ke batalion kami dan duduk bersama kami selama berjam-jam, membaca ayat-ayat alQuran dan mengulang-ulangi pernyataan bahwa pemerintah, Uni Afrika dan para pendukung internasional adalah kafir dan murtad.

"Itu seperti memasukkan kartu sim al-Shabab ke dalam otak kami."

putting sim card in brain
putting sim card in brain

Mereka mengatakan meskipun pemikiran mereka disesatkan oleh indoktinasi ini, mereka akhirnya menyadari bahwa kelompok al-Shabab tidak memperjuangkan ajaran Islam yang lebih murni dan lebih baik, tetapi ajaran yang dipelintir, sesat. Tak lagi cukup bagi mereka untuk bertahan hanya sekedar mereka mendapat bayaran.

Tetapi keputusan untuk membelot menakutkan, kata mereka.

Ketakutan sepanjang perjalanan

Pertama-tama, mereka harus memikirkan melarikan diri, menempuh perjalanan panjang yang sepi untuk bisa keluar dari wilayah kekuasaan al-Shabab.

"Pada mulanya saya berjalan pada malam hari, kaki saya robek karena duri," ujar Ahmed.

"Beruntung saya puya telepon, jadi saya menghubungi keluarga saya. Mereka menemukan seseorang yang dapat saya percaya, yang memandu saya ke sebuah tempat aman.

"Perjalanan memerlukan berhari-hari, dan saya diliputi rasa ketakutan langkah demi langkah. Saya amat ketakutan jika saya dihentikan dan dikembalikan untuk menjalani hukuman mati, dieksekusi di tempat umum, lazimnya yang dilakukan al-Shabab kepada para pembelot."

walking on thorns
walking on thorns

Tetapi di sisi lain juga muncul ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi, karena sejumlah milisi senior memberitahu kepada anggota baru bahwa pembelot akan disengat dengan listrik oleh aparat keamanan Somalia.

Sebagian besar tidak tahu ada program amnesti dari pemerintah dan ada pusat rehabilitasi untuk "re-edukasi" dan integrasi kembali ke masyarakat.

Ada upaya-upaya untuk menyebarkan informasi tentang program ini ke wilayah yang dikendalikan oleh al-Shabab. Ada selebaran berwarna-warni.

Bagi mereka yang tidak bisa membaca, dapat melihat gambar-gambar tentang anggota al-Shabab sedang diselamatkan dan dilengkapi pula dengan nomer telepon.

Usaha tersebut mendorong peningkatan jumlah mereka yang membelot. Lebih dari 60 orang meninggalkan al-Shabab selama periode dua bulan pada awal tahun ini.

leaflet
leaflet

Ibrahim, yang bergabung dengan al-Shabab selama tiga tahun, memerlukan waktu dua bulan untuk membuat keputusan membelot.

Ia menuturkan tidak akan pernah pulang ke kampungnya dan akan menghabiskan sisa hidupnya dengan berbaur di kota besar Mogadishu. Jika tidak, al-Shabab akan mencari dan membunuhnya.

Ketiga pria ini berakhir di pusat rehabilitasi yang diberi nama Serendi di ibu kota, Mogadishu. Ancaman terhadap keselamatan mereka begitu serius sehingga ketika saya berkunjung, terdapat 80 penjaga bagi 84 pembelot.

Pusat ini tidak menerima anggota senior al-Shabab; terdapat program lain yang khusus disediakan bagi pembelot tingkat tinggi,

Serendi disediakan bagi anggota kelas bawah -prajurit, pengangkat barang, tenaga mekanik dan sejenisnya.

Sebelum diterima, mereka menjalani skrining yang dilakukan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional untuk memastikan mereka benar-benar telah melepaskan diri dari kelompok itu dan menolak ideologinya.

Namun seorang wartawan di Mogadishu mengatakan beberapa anggota aktif al-Shabab berhasil lolos dari penyaringan dan menyebarkan pesan dari pusat rehabilitasi ke al-Shabab.

Tujuan pendirian Serendi adalah untuk merehabilitasi pembelot dari sisi mental, fisik, dan spiritual, dan memberikan keterampilan sehingga mereka pelan-pelan dapat kembali ke masyarakat, baik di kampung asal atau tempat lain.

"Saya mengemukan truk pickup bersenjata, yang kami namai `Volvo`, ketika saya bergabung dengan al-Shabab. Tidak ada yang saya takutkan," kata Moulid.

"Ketika saya tiba di Serendi, para mandornya tahu saya punya bakat mengemudi. Saya bekerja sebagai instruktur mengemudi di pusat pelatihan, melatih pembelot-pembelot lain untuk mengemudi. Sekarang saya bekerja sebagai pengemudi bus sekolah. Suatu hari saya ingin mendirikan usaha transportasi saya sendiri."

Ahmed mencari uang dengan jual beli tanah.

Ibrahim menceritakan bagaimana ia sebelumnya berlatih menjadi pemangkas rambut di Serendi dan tak lama kemudian menunjukkan kemahirannya sehingga ia mulai mengumpulkan uang di pusat rehabilitasi dari upah memangkas rambut para pembelot lain dan petugas keamanan.

Ia sekarang mempunyai usaha pangkas rambut di Mogadishu dan mempekerjakan tiga karyawan.

"Penghasilan saya cukup untuk menghidupi dua istri dan delapan anak," kata Ibrahim seraya menambahkan mereka semua sudah diboyong ke kota untuk tinggal bersamanya.

barber shop
barber shop

Tetapi kehidupan sesudah al-Shabab tak selalu mudah.

Menurut Moulid, sebagian anggota keluarganya menolaknya, dan orang-orang lain tidak mempercayainya.

Ibrahim mengaku tak bisa pulang kampung sekalipun tidak ada risiko dikejar-kejar dan dibunuh di sana. Meskipun keluarganya sudah memaafkannya, tidak demikian dengan para tetangga.

Selain itu, sesungguhnya ia masih menyimpan luka dari pengalaman di al-Shabab - dan itu menghantuinya.

"Saya kesulitan mengeluarkan kartu sim al-Shabab dari otak saya," ungkap Ibrahim. "Kenangan akan hal-hal buruk yang saya lakukan, dan hal-hal buruk yang mereka lakukan terhadap saya, segar dalam ingatan saya."

learning to sew
learning to sew

Ribuan orang tetap bergabung dengan al-Shabab dan terus melancarkan teror di Somalia dan negara-negara lain. Kelompok tersebut telah menyasar hotel dan pusat perbelanjaan di Nairobi pusat, ibu kota Kenya.

Al-Shabab juga meledakkan bom truk skala besar di Mogadishu, menyebabkan ratusan orang meninggal dunia sekali waktu.

Ilustrasi oleh Katie Horwich