Kisah Wanita Tionghoa Selamatkan Bisnis Keluarga Terdampak COVID-19

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 7 menit

Sejumlah anak muda keturunan Tionghoa memutuskan melanjutkan usaha keluarga mereka yang sudah didirikan bertahun-tahun, dengan meninggalkan kesempatan berkarier di perkantoran atau perusahaan start-up yang kian populer. Mereka harus memutar otak demi menyelamatkan usaha itu di tengah anjloknya perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Sejak usia tujuh tahun, Ninna Tjokro, 25, sudah tak asing dengan berbagai jenis mesin jahit di rak-rak toko yang dijalankan keluarganya.

"Sering pas liburan sekolah diajak papa bantu jaga toko. Apalagi kan dulu papa one-man show (bekerja sendiri)," ujar Nina mengenang masa kecilnya.

Toko Tiga Mesin Jahit milik keluarganya berada di Jalan Perniagaan, kawasan di Jakarta Barat. Dulu daerah itu dikenal sebagai Patekoan, tempat permukiman yang banyak dihuni masyarakat keturunan Tionghoa.

Pendiri toko tersebut adalah kakek Ninna, yang disebutnya Akong. Laki-laki itu mencari peruntungan ke ibu kota dari Surabaya, Jawa Timur, empat dekade lalu.

Saat masih kecil Ninna merasa senang ketika diajak menjaga toko, yang saat itu disebutnya tak terlalu luas dan hanya mengandalkan kipas angin untuk mengembuskan udara segar.

"Kalau dulu sih senang, soalnya kalau makan siang pasti jajan ke Glodok atau Petak Sembilan sama Mama. Atau diajak belanja alat tulis di Pasar Pagi Lama," ujarnya.

Ia tumbuh besar menyaksikan bagaimana ayahnya bekerja keras membesarkan toko, yang letaknya tak jauh dari kawasan pusat pertokoan dan perdagangan Glodok itu.

"Papa itu betul-betul hardworker (pekerja keras). Bagaikan kuda yang kiri-kanannya dikasih cermin. Fokusnya cuma ingin membangun dan menaikkan bendera keluarga," ujar Ninna.

Saat beranjak dewasa, meski selalu merasa terikat dengan toko yang menghidupi keluarganya itu, Ninna merasa perlu mengeksplorasi bidang lain.

Ia pun bertolak ke Malaysia untuk berkuliah di bidang perhotelan.

Di negeri jiran itu pula, Ninna merasakan magang di hotel. Sesampai kembali di Indonesia, ia kembali mencicipi rasanya magang di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Namun, pada 2016, ayah dan ibunya memintanya untuk meneruskan usaha mesin jahit mengingat dia adalah anak pertama dari dua bersaudara.

Merasa bertanggung jawab meneruskan warisan keluarga, Ninna sepakat banting setir.

Bersama dengan adiknya, Ongky Tjokro, 23, lulusan manajemen bisnis di sebuah universitas swasta di Tangerang, Ninna mencoba mengembangkan dan meneruskan bisnis itu.

Keluarga yang utama

Meneruskan bisnis turun-temurun adalah hal yang khas terjadi di kalangan keluarga keturunan Tionghoa, meski banyak juga yang menggeluti dan ahli di bidang-bidang selain bisnis.

Peneliti budaya Tionghoa, Agni Malagina, mengatakan perkembangan bisnis keluarga itu bisa ditelusuri ke belakang sampai ke Dinasti Ming di China sekitar abad ke-14. Di sejumlah kawasan Pecinan di Indonesia, toko-toko milik warga keturunan Tionghoa yang sudah didirikan berpuluh tahun masih dapat ditemukan sampai saat ini.

"Mereka, keluarga Tionghoa, punya prinsip etika keluarga yang sangat kuat. Itu latar belakang budaya nggak bisa lepas. Apalagi kalau kita sebut budaya Konfusianis dalam bisnis, itu sangat kuat.

"Itu tercermin dengan menjalankan bisnis keluarga harus berdasarkan bakti, yang senior itu yang didengarkan," kata Agni.

Ninna Tjokro mengamini hal ini. Sejak kecil, dia sudah diajarkan tentang pentingnya keluarga.

Namun, tak seperti yang banyak dipikirkan orang, meneruskan usaha keluarga tak selalu mudah.

Melihat ke belakang, Ninna bercerita, toko itu selamat dari berbagai tantangan. Sejak toko berdiri, kakek dan ayahnya harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor lain yang menjual barang serupa.

Di era krisis moneter dan kerusuhan 1998, ujian yang berat juga dialami bisnis itu.

"Toko di kiri, kanan, hancur. Tapi puji Tuhan, toko kita karena depannya pakai pintu teralis besi, jadinya cuma bagian depannya yang hancur, nggak sampai masuk ke dalam."

"Setelah itu, dampaknya lumayan besar karena beberapa minggu toko harus tutup, alhasil nggak ada pemasukan. Untuk mendapatkan kembali pelanggan juga butuh waktu," katanya.

Mengutip laporan Tim Gabungan Pencari Fakta, terjadi penjarahan, pembakaran, hingga pemerkosaan di sekitar Glodok pada tahun itu, peristiwa yang banyak menyasar warga keturunan Tionghoa.

Saat ini, sama seperti banyak pengusaha lainnya di Indonesia, tokonya juga kembali menghadapi ujian di tengah pandemi Covid-19.

Di awal pandemi, tokonya tutup selama beberapa waktu untuk mengikuti aturan PSBB di Jakarta. Sejumlah karyawannya juga sempat positif virus corona, yang mengharuskan Ninna kembali menutup tokonya selama masa isolasi.

Alhasil, pemasukan penjualan offline menurun drastis, katanya.

"Ada juga penurunan permintaan karena mungkin spending power (kemampuan membeli) orang-orang turun dan banyak yang irit-irit untuk pengeluaran yang lebih vital," ujarnya.

Inovasi selamatkan toko

Tak hanya Ninna. Bagi Calvin Bratawidjaja, 24, yang meneruskan agen grosir orang tuanya di Bogor, Jawa Barat, bersama saudara-saudara kandungnya, pandemi juga membuatnya harus memutar otak.

Di awal pandemi, omzet pemasukan tokonya anjlok sekitar 30%.

Meski begitu, Calvin, lulusan jurusan bisnis dari sebuah universitas di daerah Tangerang itu, mengatakan bisnisnya tetap berupaya menggaji karyawan secara penuh.

"Yang aku belajar dari papa mama itu bagaimana mereka sebagai pemimpin perusahaan ini, nggakmentingin diri sendiri.

"Mereka selalu bilang `kita selalu berjuang sama karyawan-karyawan`. Kasarnya, kalau mereka enggak makan, kita enggak makan," ujarnya.

Dengan menggunakan pengalamannya, Calvin, yang sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan e-commerce, mencoba untuk memperkuat sistem jual beli daring toko yang berusia lebih dari 30 tahun itu.

Di masa pandemi, upanyanya membuahkan hasil, dengan banyaknya pelanggan yang memesan barang secara daring.

Kontribusi itulah yang memantapkannya bahwa dia telah mengambil langkah yang tepat untuk kembali ke toko, meski sejumlah temannya mempertanyakan keputusannya itu.

Alih-alih bekerja di perusahaan start up seperti banyak kawannya, tak sedikit yang bertanya ke Calvin, "Kok ke toko, vin?" Namun, ia tak mempersoalkan itu.

"Aku juga bisa kontribusi untuk toko papa mama. Ini yang membuat aku keep going. Aku tahu ada hal baru yang aku kerjain. Aku nggak sekadar jaga toko, tapi ada sesuatu yang aku kembangkan," ujarnya.

Ninna Tjokro juga melakukan hal serupa. Tak hanya mengembangkan sistem daring, ia berusaha menjangkau lebih banyak anak muda dengan membuat tutorial penggunaan menjahit di Youtube.

"Akhir 2020, kami mulai bangun platform Youtube karena kami berkomitmen untuk mengedukasi penjahit-penjahit Indonesia atau yang baru mulai mau menjahit.

"Itu adalah salah satu inovasi yang kami buat untuk meneruskan dan mengembangkan perusahaan," ujarnya.

Sementara itu, di platform Instagram, pengikut Toko Tiga sudah mencapai lebih dari 25.000.

Melawan stereotipe

Meski sebagian anak muda antusias meneruskan bisnis keluarganya, banyak juga yang memutuskan untuk menjalani pekerjaan lain.

Alvindo Chandra, 28, yang kini ikut menjalankan bisnis elektronik keluarga di kawasan Glodok, menceritakan jarang menemukan anak muda seusianya yang kini mau meneruskan bisnis keluarga.

"Banyak generasi ketiga yang nggak mau melanjutkan, ada yang karena merasa gengsi, `sudah kuliah mahal-mahal, masa jadi kokoh Glodok`? ujar Alvindo yang merupakan lulusan fakultas hukum dari sebuah universitas di Jakarta Pusat.

Bagi Alvindo, yang sudah sering membantu orang tuanya menjaga toko sejak SMP, rasanya sayang meninggalkan usaha yang dibangun orang tuanya 34 tahun silam dengan susah payah.

Usaha itu juga telah selamat dari jatuh bangun yang ada, termasuk dari krisis 1998.

"Pas kerusuhan `98 Glodok habis dibakar dan dijarah, syukurnya toko bapak saya aman gara-gara ketutupan puing-puing sampah. Sisanya kiri-kanan semua rolling door bolong, tokonya kosong," ujarnya mengulang cerita orang tuanya.

Kini, dengan mengandalkan penjualan online, Alvindo berupaya mempertahankan bisnis itu di tengah pandemi.

"Karena dipikir-pikir meneruskan, memperbaiki, dan mengembangkan yang sudah ada masih jauh lebih mudah daripada memulai dari nol.

"Dan sayajuga kebetulan nggak ada merasa malu atau gengsi soal persepsi "koh Glodok" karena segala yang saya dapat sekarang ini sampai kuliah juga memang dapatnya dari sana dan itu halal kok, enggak ngerugiin orang," kata Alvindo.

`Selesaikan apa yang sudah dimulai`

Pada 2019, peneliti budaya Tionghoa, Agni Malagina, melakukan pemetaan terhadap bisnis tradisional Tionghoa di kawasan Glodok.

Ia menemukan bisnis tradisional Tionghoa, khususnya, sulit sekali menurun ke generasi berikutnya.

Meski begitu, ia mencatat, fenomena serupa juga banyak ditemukan pada budaya lainnya.

"Kuliner tradisional, contohnya kue keranjang, cukup memprihatinkan karena menurut mereka [generasi penerus], itu tidak bernilai ekonomis," ujarnya.

Selain itu, generasi yang lebih muda, kata Agni sering melihat usaha yang dilakukan keluarganya "kuno".

Transfer ilmu, misalnya dalam membuat obat-obatan China, juga mungkin tak berjalan mulus seperti dahulu, katanya.

Namun, begitu, Agni mengatakan ada juga anak-anak muda yang mau terjun menyelamatkan bisnis keluarga dengan menggunakan teknologi yang ada sekarang.

"Kita nggak kehilangan harapan bisnis tradisional bisa menurun. Tapi tantangan jelas ada, seperti masalah inovasi," katanya.

Kembali ke Ninna Tjokro, kini ia berupaya terus berinovasi, sambil memegang teguh apa yang diajarkan orang tuanya.

"Papa itu ngajarin, kalau dari segi kerja itu ibarat harus ada ujung, ada buntutnya juga.

"We have to finish what we started, harus selesaikan apa yang sudah dimulai," katanya.