Kisah Warga di Australia Sulit Cari Kerja di Masa Pandemi COVID-19

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Sejak pertengahan Februari lalu, Suzanna Martanti sudah mencoba melamar hampir 80 pekerjaan. Bahkan ia pernah bersaing dengan 700 pelamar untuk jenis pekerjaan resepsionis klinik di Melbourne.

Suzanna, yang akrab dipanggil Uchan, memang kebanyakan melamar pekerjaan di sektor kesehatan yang pernah ia tekuni selama 10 tahun.

Uchan mengaku seringkali merasa sangat sedih setiap kali lamarannya tidak berhasil, tapi tak akan membuatnya menyerah.

"Ini menjadi sesuatu hal yang melelahkan tentunya, namun saya akan selalu mencoba," kata Uchan yang tinggal di kawasan Jacana.

Menurutnya, kompetisi yang semakin ketat di antara para pelamar pekerjaan merupakan salah satu dampak pandemi virus corona dan "lockdown" yang masih diberlakukan di Melbourne.

Setelah proses lamaran ditutup, Suzanna yang melamar lewat situs pencari kerjaan SEEK, sering menerima email pemberitahuan yang mencantumkan berapa banyak orang yang melamar.

Ia pernah melihat 700 orang melamar untuk pekerjaan jenis paruh waktu, menggambarkan sulitnya mencari pekerjaan di Melbourne saat ini.

Job Application number
Job Application number

Pemberitahuan dari SEEK yang diterima Suzanna mengatakan terdapat lebih dari 700 orang melamar pekerjaaan yang sama dengannya, sebagai resepsionis medis. (Supplied)

Berdasarkan data SEEK bulan lalu, jumlah lamaran pekerjaan di kebanyakan industri di Australia meningkat pesat dibandingkan sebelum pandemi.

Jenis pekerjaan yang menerima lamaran terbanyak antara lain bidang administrasi dan perkantoran, teknologi informasi dan komunikasi, akuntansi, penjualan, dan industri konstruksi.

Di beberapa kesempatan, Uchan juga pernah sampai di tahap wawancara dan tahap pemeriksaan referensi, namun penolakan di tahap lanjutan ini membuatnya kadang merasa putus asa.

"Saya mulai berpikir, "apakah saya cukup baik?", saya merasa tidak berguna atau bahkan tidak mau melakukannya lagi," kata Uchan kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Namun, ia tetap merasa bersyukur atas dukungan dari suami dan keluarganya, apalagi ia juga mengaku masih memiliki pekerjaan "casual" sebagai "bookkeeper" dengan jam kerja tiga jam per minggu.

A woman standing in front of a tree in a her backyard.
A woman standing in front of a tree in a her backyard.

Suzanna telah berusaha melamar 80 pekerjaan sejak awal pandemi COVID-19 di Australia. (Supplied)

Ibu dari dua anak yang pindah ke Australia di tahun 2005 ini mengatakan dirinya didiagnosa memiliki kecemasan atau "anxiety" beberapa tahun yang lalu.

Meski demikian, Uchan mengaku masih dapat beraktivitas seperti biasa, namun ketika kecemasan itu kembali, ada perasaan mudah sedih bahkan karena hal-hal yang kecil.

"Saya tidak mau berbicara ke siapapun, bahkan ke orang-orang di rumah. Yang saya inginkan hanyalah masuk ke kamar dan sendirian," kata Uchan.

Uchan tidaklah sendirian yang mengalami kecemasan serta kondisi yang tidak nyaman terkait kesehatan mental.

Di Australia dilaporkan semakin banyak warga yang mengalami kondisi kesehatan mental kurang baik, terlebih akibat pandemi virus corona.

Hal ini juga telah memicu banyak diskusi tentang apakah sudah ada bantuan yang layak dan cukup bagi komunitas migran di Australia.

Stigma soal gangguan kesehatan mental meningkat Tigist Kebede, penasihat kesehatan mental. (Supplied)

A head and shoulders shot of Tigist Kebede posing for a photo.
A head and shoulders shot of Tigist Kebede posing for a photo.

Hari Minggu pekan lalu, Pemerintah Victoria mengumumkan ditingkatkannya pendanaan layanan kesehatan mental sebanyak $59,7 juta meresponi "peningkatan tajam permintaan" akses layanan kesehatan mental.

Penasihat kesehatan mental, Tigist Kebede menyambut baik pendanaan tersebut, namun mengatakan sebagian uang dari pendanaan itu juga harus dikerahkan untuk layanan kesehatan mental bagi para migran.

Selain itu, ia juga melihat perlunya lebih banyak usaha untuk menjangkau komunitas minoritas dan membicarakan kesehatan mental, karena ia percaya saat ini tidak banyak layanan tersedia bagi warga dengan kebudayaan berbeda.

"Bagi warga yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda, hal-hal seperti stigma kesehatan mental … dan kondisi tidak sehat semakin kental," katanya.

A head and shoulders shot of Faith Nenta posing for a photo.
A head and shoulders shot of Faith Nenta posing for a photo.

Faith Nenta, perempuan asal Papua Nugini, yang tinggal sendiri di Melbourne. (Supplied)

Perempuan asal Papua Nugini, Faith Nenta, yang menyebut dirinya pekerja garda depan di Melbourne, juga sering mengalami gangguan kesehatan mental di tengah pembatasan sosial tahap empat yang saat ini diberlakukan.

Faith pindah ke Australia beberapa tahun yang lalu, meninggalkan kelima anaknya di negara asalnya, dan saat ini tinggal sendiri di rumah susun sosial bagi penduduk kurang mampu.

"Saya stress secara mental karena ... dalam kebudayaan saya, biasanya kami tinggal bersama-sama dan berkelompok, bukan sendiri-sendiri," kata dia.

Untuk menghibur diri, Faith biasanya bertemu teman-temannya di akhir pekan untuk ngopi bersama, namun karena "lockdown" ia tak bisa lagi melakukannya.

Tigist mengatakan pengalaman Faith adalah hal yang sering dialami oleh anggota komunitas minoritas lainnya.

"Saya tidur sepanjang hari selama delapan minggu"

Pembatasan karena virus corona semakin memperburuk kondisi mental, terutama mereka yang terpisah dari keluarga atau sedang mengalami tekanan keuangan.

Seorang ibu asal China yang tinggal di Perth, dengan nama samaran Xiaofei, mengatakan tingkat kecemasannya meningkat seiring dengan naiknya angka penularan virus corona di Australia.

Beberapa tahun setelah pindah ke Australia di tahun 2006, Xiaofei yang sempat mengalami depresi setelah melahirkan, didiagnosa memiliki depresi akut.

Kondisi kesehatan mentalnya memburuk baru-baru ini, setelah mengetahui bahwa ia tidak dapat mengunjungi bapaknya yang sedang dirawat di rumah sakit di China karena mengalami stroke tahun ini.

Maret lalu, Xiaofei dan suaminya kehilangan pekerjaan mereka, sementara anaknya harus melakukan pembelajaran jarak jauh karena "lockdown".

"Saya tidak bisa melakukan apa-apa ketika depresi saya kambuh. Saya hanya bisa tidur sepanjang hari selama delapan minggu," kata dia.

"Saya tidak bisa memasak untuk keluarga sampai daging yang ada di kulkas basi. Beberapa tumbuhan di balkon pun mati," kata Xiaofei.

Namun, ia mengatakan kondisinya telah berangsur membaik sejak menjalani perawatan medis dan mendengar kata-kata penguatan dari keluarganya.

Panggilan video, olahraga, dan "mindfulness" Qu Yu mengatakan bahwa pragmatisme dari China berarti bahwa penganutnya lebih suka menghabiskan uang untuk hal-hal material daripada layanan psikologis yang tidak terlihat. (Supplied)

A portrait of Qu Yun sitting on a sofa.
A portrait of Qu Yun sitting on a sofa.

Yun Qu, dokter pskiologi di Australia mengatakan orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental harus mencari bantuan tenaga profesional sesegera mungkin, sebelum keadaan tersebut mengganggu kesehatannya secara keseluruhan.

Kepada komunitas migran di Australia, ia menyarankan untuk mengecek situs resmi Australian Psychological Society dan mencari psikolog yang dapat berbicara dalam bahasa mereka.

Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Australia mengatakan Pemerintah Australia "telah menginvestasikan banyak uang untuk meningkatkan layanan kesehatan mental yang bisa diakses semua warga Victoria, termasuk yang berasal dari komunitas dengan latar belakang budaya berbeda".

Awal tahun ini, Pemerintah Federal Australia telah mengumumkan paket kesehatan mental virus corona sebesar $59,4 juta.

Dari paket ini, organisasi seperti Asylym Seekers Resource Centre dan Victorian Foundation for Survivors of Torture menerima dana untuk "memberikan bantuan kesehatan mental dan melayani komunitas migran".

Bagi Uchan melakukan mempraktikkan mindfulness telah membantu memperbaiki kondisi mentalnya.

"Melakukan mindfulness, termasuk saat shalat, telah membantu saya untuk menyadari dan menikmati momen saat ini," katanya.

Berkomunikasi melalui video dengan keluarga, berolahraga, dan berjalan di luar rumah atau bersepeda merupakan aktivitas lain yang juga menurutnya bisa memperbaiki "mood"-nya.

"Yang penting, saya melakukan apa yang saya bisa lakukan bersama keluarga saya," kata Suzanna.

"Mungkin nanti, ketika masa COVID selesai dan kita kembali disibukkan dengan kehidupan masing-masing, kita malahan akan merindukan saat-saat seperti saat ini, di mana ada banyak waktu dengan keluarga."

Artikel ini diproduksi oleh Natasya Salim.