Kisah Wayan Diana, Mantan Pemain Persebaya yang Pernah Dilempar Emas Batangan oleh Pemilik Niac Mitra

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Mantan pesepak bola Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia, Wayan Diana, mengenang memori satu manis selama berkarier di rumput hijau. Dalam sebuah kesempatan, ia pernah dilempar emas batangan oleh Agustinus Wenas, petinggi Niac Mitra.

Periode bersama Niac Mitra jadi momen emas Wayan Diana selama berkarier di sepak bola. Wayan yang menjadi pemain generasi pertama langsung diplot menjadi kapten Niac Mitra. Peran itu dilakoninya sampai meninggalkan klub tersebut.

Pada musim pertamanya, Wayan nyaris membawa Niac Mitra meraih trofi juara Galatama edisi perdana. Pada paruh pertama kompetisi, Niac Mitra bertengger di puncak klasemen, prestasi yang membuat PSSI memilih Niac Mitra mewakili Indonesia menghadapi turnamen bergengsi di kawasan Asia pada saat itu, yakni Aga Khan Gold Cup di Bangladesh.

Niac Mitra akhirnya meraih trofi perdana pada musim kedua Galatama, yaitu pada 1980/1982. Musim terbaik Niac Mitra terjadi pada 1982/1983. Kala itu, klub milik Agustinus Wenas ini diperkuat dua bintang Singapura, David Lee dan Fandi Ahmad.

Selama di Niac Mitra ini pula, banyak kenangan tak terlupakan pria kelahiran Bali tersebut. Saat sesi bincang sore bersama Omah Balbalan, Wayan Diana bercerita bahwa ia pernah dilempar emas batangan oleh Wenas.

"Ya, benar saya pernah dilempar emas batangan. Itu untuk semua teman-teman (di Niac Mitra), bukan saya pribadi. Cuma yang menerima secara langsung itu saya. Didampingi pelatih Basri, setelah pertandingan besoknya, kami cairkan emas batangannya dalam bentuk rupiah, lalu dibagikan ke teman-teman satu tim," kenang Wayan.

"Dari meja itu saya lagi duduk emasnya dilempar, saya kaget juga, tapi dia (Wenas) ketawa saja. Saya pikir main-main, ternyata sungguhan, emas 500 gram, saya simpan di celana itu, kalau hilang kan risiko. Jadi itu kenang-kenangan saya."

"Saya dipanggil secara pribadi oleh Pak Wenas, pikir saya ada apa ini, sempat grogi juga karena zaman itu ada isu-isu suap. Ternyata begitulah, hadiah, bonus buat teman-teman di Niac Mitra," cerita Wayan lagi.

Dari Bali ke Surabaya

Rudy Ketljes (tengah), saat membela NIAC Mitra saat menjajal klub elite Inggris, Arsenal, di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. (Istimewa)
Rudy Ketljes (tengah), saat membela NIAC Mitra saat menjajal klub elite Inggris, Arsenal, di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. (Istimewa)

Lahir dan besar di Bali, Wayan Diana tak langsung mentas di Niac Mitra dan Persebaya Surabaya. Ia sempat menghabiskan masa mudanya di tanah leluhurnya dengan membela Perseden Denpasar.

Sukses di Perseden, tim PSBI Blitar Putra kemudian meminangnya. Tiga tahun di Blitar, takdir membawanya ke Persebaya. Wayan menceritakan, awal mula bisa bergabung dengan klub kebanggaan Bonek itu adalah karena rekomendasi pengurus Assyabaab, klub internal Bajul Ijo.

Padahal, ia sudah mendapatkan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. "Saya sudah mendapatkan slip gaji pegawai. Tapi, saya tidak lama di Blitar karena ingin fokus membangun karier di sepak bola," ujar Wayan.

Masuk pada 1977, Wayan langsung memberikan gelar juara Liga Indonesia (Perserikatan) pada musim perdananya. Dua tahun berselang, barulah ia bergabung dengan Niac Mitra pada edisi pertama Galatama. Istimewanya, Wayan langsung ditunjuk sebagai kapten tim.

"Pastinya ada beban, tapi saya happy saja, tidak perlu tegang. Sebagai kapten harus tanggung jawab," kata Wayan mengenai jabatannya sebagai kapten.

Sumber: YouTube/Omah Balbalan

Video