Kisah Yudi Guntara, Gelandang Jenius Persib yang Raih 2 Trofi Juara pada Era Berbeda

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Aksi impresif Yudi Guntara sebagai gelandang serang pernah mewarnai permainan Persib Bandung pada era 1990-an. Tak hanya piawai dalam melepaskan umpan, pria asli Lembang itu juga terbilang produktif dalam mencetak gol.

Pencapaiannya bersama Tim Maung Bandung adalah meraih dua trofi juara pada era berbeda secara beruntun, yakni Piala Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia 1994/1995.

Dalam kanal YouTube Bobotoh TV, Yudi Gunatara mengungkap perjalanan kariernya di sepak bola yang diawali dengan bergabung di tim SSB Elang Putih (Elput) Lembang, dan kemudian berkembang bersama Putra Priangan.

Peruntungan Yudi di sepak bola mulai terkuak setelah memperkuat tim Jawa Barat pada kejuaraan nasional antarpelajar. Dari ajang itu, ia direkrut Diklat Salatiga dan berlanjut ke Diklat Ragunan.

Pada periode tersebut, Yudi merasakan atmosfer turnamen luar negeri bersama tim pelajar atau timnas junior Indonesia. Yudi pun sempat menjalani pemusatan latihan di Jerman pada 1986. Selepas dari Diklat Ragunan pada 1987, Yudi nyaris bersatus pemain Pelita Jaya, klub elite Galatama saat itu.

Bersama rekan-rekannya sesama eks Diklat Ragunan seperti I Made Pasek Wijaya, Iwan Setiawan, Bonggo Pribadi, Alexander Saununu, dan Syamsuddin Batola, Yudi sempat menandatangi kontrak untuk bergabung dengan Pelita Jaya.

"Tapi, saya akhirnya saya putuskan tak jadi ke Pelita Jaya karena ayah tak setuju. Beliau ingin saya meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, kalau ingin main sepak bola dan kuliah secara bersamaan harus main di tim Perserikatan," kenang Yudi.

Statusnya sebagai eks Diklat Ragunan memuluskan Yudi bergabung di Persib saat usianya masih 17 tahun. Pelatih Persib saat itu, Dede Rusli memasukkan namanya bersama sejumlah pemain senior Maung Bandung seperti Robby Darwis, Iwan Sunarya, Ajat Sudrajat, Adeng Hudaya, dan M. Sobur.

"Saya menjadi pemain termuda di Persib. Bangga rasanya bisa bermain bersama dengan pemain senior yang dulunya hanya bisa saksikan di televisi atau mendengar di radio," ungkap Yudi.

Yudi tampil sebagai starter pada sejumlah laga uji coba Persib. Tak hanya menghadapi tim lokal, Yudi pun jadi bagian Tim Maung Bandung saat menghadapi PSV Eindhoven, klub elite Belanda yang diperkuat bintangnya, Ruud Gullit di Stadion Siliwangi, 11 Juni 1987.

"Persib memang kalah telak enam gol tanpa balas. Tapi, secara pribadi saya bangga bisa berada satu lapangan dengan Gullit," kata Yudi Guntara.

Berkostum Persija

Yudi Guntara akhirnya tak jadi memperkuat Persib di kompetisi Perserikatan saat itu. Semuanya berawal dari niatnya mengecap bangku kuliah sesuai permintaan sang ayah.

Yudi pun menemui pengurus Persib untuk membantunya mengurus beasiswa. Tapi, tak ada tanggapan. Kebetulan ada tawaran dari STIE Perbanas Jakarta yang menawarkan beasiswa sampai kuliah selesai.

"Saat itu Perbanas banyak merekrut pemain sepak bola untuk bersaing di kompetisi internal Persija. Otomatis saya pun harus memperkuat Persija di kompetisi Perserikatan," tutur Yudi Guntara.

Yudi menyebut saat membela Persija tidak ada ikatan kontrak dan gaji. Ia hanya mendapat keistimewaan bisa menyelesaikan pendidikan di Perbanas.

"Perasaan saya campur aduk bila Persija menghadapi Persib. Apalagi kala bertanding di Stadion Siliwangi dan mendengar teriakan dari bobotoh Persib," papar adik ipar Robby Darwis tersebut.

Setelah meraih gelar sarjana, Yudi pun kembali ke Bandung dan langsung ditampung Persib. Bersama Maung Bandung, nama Yudi pun kian mencuat dengan raihan dua trofi juara pada era berbeda.

Gelar sarjana ekonomi jadi bekal Yudi untuk berkarier pada sebuah bank di Bandung. Selepas pensiun sebagai pemain, Yudi lebih fokus pada pekerjaannya sebagai bankir.

"Sesekali saya menyempatkan diri memenuhi ajakan eks pemain Persib untuk bermain bersama sekaligus menjaga silaturahmi," pungkasnya.

Sumber: YouTube Bobotoh TV

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: