Kisruh All England, Menpora dan KOI Minta Kepengurusan BWF Direformasi

Pratama Yudha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Zainudin Amali, bersama dengan Ketua Umum National Olympic Committee (NOC), Raja Sapta Oktohari, menyampaikan sikap tegasnya terkait kisruh All England 2021. Menpora dan NOC meminta agar dilakukan reformasi kepengurusan di BWF.

Permintaan ini dengan tegas disampaikan setelah mengetahui sikap diskriminatif yang dilakukan oleh federasi tertinggi bulutangkis dunia itu terhadap para pebulutangkis Indonesia yang berlaga di All England 2021.

Sejumlah tindakan diskriminatif itu diketahui tak hanya mencoret tim Indonesia dari gelaran turnamen bulutangkis tertua di dunia itu meski sudah sempat bertanding.

Marcus Fernaldi Gideon cs juga disuruh berjalan kaki dari venue ke hotel setelah dinyatakan harus melakukan isolasi mandiri. Bahkan, mereka tak diizinkan memakai lift.

"Pemerintah menyayangkan kejadian ini dan bahkan lebih tegas lagi mengecam kejadian ini. Sikap kami sama. Kami minta klarifikasi dan penjelasan secara transparan serta perlakuan yang adil atas apa yang dialami tim Indonesia. Informasi yang masuk kepada kami tentu membuat perasaan kita sebagai bangsa sakit," kata Menpora Amali dalam konferensi pers di kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat 19 Maret 2021.

"Penilaian saya, BWF tidak profesional. Kemudian BWF tidak transparan. BWF diskriminatif. Karena cukup bukti, saya berani mengatakan begitu. Kami sangat kecewa. BWF tidak boleh buang badan dengan berlindung lewat aturan di Inggris. NOC dan PBSI meminta supaya ada reformasi di BWF," lanjut dia.

Senada dengan Amali, Okto juga menjelaskan jika BWF harus bertanggung jawab penuh atas insiden ini. Sebab, mereka sebagai pelaksana dari turnamen ini.

Okto menilai segala sesuatu yang terjadi di All England masih menjadi tanggung jawab BWF. Bukannya berlindung di balik aturan Pemerintah Inggris.

"Yang melaksanakan kegiatan bukan Pemerintah Inggris tapi All England. BWF harusnya bertanggung jawab penuh atas keteledoran yang terjadi di All England," ucap Okto.

"Protokol kesehatan pasti dijalankan oleh setiap negara. Tapi BWF tidak boleh melempar tanggung jawabnya kepada Pemerintah Inggris," tuturnya.

Lebih lanjut, Okto mengatakan, para penggawa Tim Merah Putih sudah divaksin sebelum keberangkatan. Seharusnya itu menjadi poin yang dijadikan pertimbangan panitia penyelenggara.

"Atlet kita sudah divaksin, PCR sebelum berangkat dan tiba, bahkan sudah bertanding. Tiba-tiba diberhentikan dan dikeluarkan dari pertandingan, bahkan tidak diperkenankan masuk bus maupun lift. Larangan itu bukan dari Pemerintah Inggris, tapi oleh panitia," kata Okto.

"Ini tidak bisa diterima. Mereka tidak bisa berlindung di belakang regulasi yang sudah ada. Sudah disampaikan Duta Besar Indomesia di Inggris," jelas dia.

Sebagai informasi, tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 lantaran satu pesawat dengan penumpang yang terpapar COVID-19. Menurut aturan di Inggris, bila ada kejadian semacam itu, para penumpang harus mengisolasi diri selama 10 hari.

Tak cuma Jonatan Christie cs, pebulutangkis Turki, Neslihan Yigit, juga diharuskan menjalani aturan tersebut. Dari 24 atlet, hanya empat orang yang tak menerima surat elektronik untuk melakukan isolasi mandiri. Atas dasar itu, keikutsertaan Indonesia di All England harus dibatalkan.