Kisruh Galon Sekali Pakai, Asosiasi Pengusaha Sampah Ikut Bersuara

Ichsan Suhendra
·Bacaan 1 menit

VIVA – Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) ikut bersuara mengenai isu galon sekali pakai yang beberapa waktu terakhir ramai dibicarakan. Menurut APSI ada penggiringan opini dan pembelokan fakta tentang galon sekali pakai.

“Galon plastik sekali pakai tergolong dalam jenis plastik PET ( Polyethylene Terephthalate ) dengan kode plastik daur ulang No.1," kata ketua APSI, Saut Marpaung saat berbincang baru-baru ini.

Saut berkata seperti itu karena melihat fakta yang ada di lapangan. Menurutnya, sampah tersebut mudah didaur ulang.

"Artinya sampah plastik tersebut tergolong mudah didaur ulang dan dapat digunakan kembali," ujar Saut.

APSI bersuara karena cuitan beberapa akun netizen yang seolah–olah mewakili atau mengatas namakan LSM lingkungan dan himbauan dari influencer. Menurut APSI, cuitan dan berita-berita tersebut menyesatkan dan tidak berdasar.

"Sebab kalau menyangkut sampah, utamanya sampah plastik, maka pihak APSI dan Para Pengelola Daur Ulang yang lebih tahu kondisi sebenarnya di lapangan," ujar Saut.

Mereka merasa informasi tersebut bisa merugikan usahanya. Hal itu karena APSi merasa telah menjaga lingkungan melalui daur ulang, salah satunya sampah plastik.

“Pemberitaan yang menggiring opini & pembelokan fakta dapat merugikan seluruh pihak yang mendukung sirkular ekonomi yang digaungkan oleh KLH (Kementrian Lingkungan Hidup). Kami Anggota APSI sebagai pengusaha yang turut menjaga lingkungan dengan cara mendaur ulang sampah plastik juga merasa dirugikan akibat berita yang faktanya dibelokan," kata Saut.

Sementara itu, menurut Ketua Ikatan Pemulung Indonesia, Prispolly Lengkong, selama ini para pemulung memanfaatkan nilai ekonomis dari sampah yang mereka pungut.

"Plastik jenis PET merupakan primadona untuk para pemulung, karena nilai ekonominya yang tinggi. Selain itu, plastik jenis ini lebih mudah didapatkan (selain di kawasan pariwisata, hotel dan resto)," katanya dalam kesempatan terpisah beberapa waktu lalu.