Kisruh Soal Kesehatan Galon Guna Ulang Dibahas DPR?

Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa waktu lalu sempat ramai isu permintaan memberikan Label Peringatan Konsumen pada galon guna ulang. Hal itu karena beberapa pihak menganggap bisphenol A atau BPA dalam kemasan galon guna ulang berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Menurut Muchamad Nabil Haroen, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, saat ini DPR RI sedang mengkaji bersama beberapa pakar dan berkoordinasi dengan BPOM. Nantinya hal itu akan dirumuskan untuk kebaikan bersama.

“Intinya, kami akan menganalisa detail, serta mengadvokasi kebijakan untuk kebaikan warga. Bahwa bahaya BPA yang terdapat dalam galon, atau pun bahaya lain dalam konteks air kemasan, sedang kami kaji semua hingga nanti akan dikoordinasikan menjadi rumusan kebijakan. Intinya, kami tidak ingin ada bahaya dalam sirkulasi air, sekaligus juga penting menjaga kesehatan warga lewat apa yang kita konsumsi bersama,” kata Nabil melalui keterangan tertulisnya.

Nabil juga mengatakan,dalam waktu dekat pihaknya yakni DPR RI akan koordinasi dengan BPOM. Mereka ingin ada regulasi yang tepat terkait hal ini.

"Skan kami lakukan, ada beberapa catatan penting terkait dengan perizinan sekaligus juga mekanisme lain yang terkait. Kami dukung agar BPOM menjalankan regulasi yang tepat,” katanya.

Nantinya berbagai pihak akan didengarkan pendapat sesuai kapasitasnya. Dengan begitu, hal ini bisa dituntaskan sesuai dengan prosedur hukum.

“Kami akan mendorong BPOM bertindak cepat dan tepat. Tentu, harus sesuai prosedur hukum, serta koordinasi dengan pihak terkait. Kami juga akan mendengar dari pihak produsen, untuk mengevaluasi kelayakan dan sistem produksi,” ujarnya

Sementara itu, BPOM telah angkat bicara sejak beberapa waktu yang lalu. Mereka merasa ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menggoreng isu tentang bisphenol A (BPA) yang ada dalam kemasan makanan dan minuman berbahaya bagi kesehatan. Melalui Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru BPOM, Ema Setyawati, telah menjelaskan mengenai kekeliruan hal tersebut.

"Sudah ada penjelasan kami, bahkan di IG BPOM juga sudah ada, bahwa sampai saat ini, berdasarkan hasil pengawasan kami, kadar BPA jauh, sangat jauh dari batas maksimal," kata Erna.