Kiswah Kabah Diganti Jelang Puncak Ibadah Haji, Begini Prosesnya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kain Kiswah atau Penutup Ka'bah di Masjidil Haram mulai dilakukan pergantian jelang pelaksanaan puncak ibadah haji 9 Dzulhijah 1442 Hijriah yang bertepatan dengan 19 Juli 2021. Ini merupakan tradisi tahunan jelang pelaksanaan wukuf di Arafah.

Dari foto-foto yang dirilis Reasahalharamain, lembaga resmi yang mengurusi dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), kain Kiswah Ka'bah yang beratnya mencapai 1.150 kilogram itu dibawa dari tempat khusus di Kompleks Malik Abdul Aziz untuk Pembuatan Kiswah Kabah Suci dengan menggunakan truk.

Butuh puluhan orang untuk mengangkat kiswah dari truk ke pelataran Kabah dengan pengawalan aparat keamanan. Sementara untuk menaikkan kiswah hingga menutupi setiap sudut Ka'bah, menggunakan crane khusus yang memang disiapkan untuk pemeliharaan Ka'bah.

Pergantian Kiswah diawali dengan menaikkan kain Kiswah baru di setiap sudutnya dengan tali, lalu secara perlahan kain Kiswah yang lama mulai diturunkan. Agar setiap sudutnya tertutup rapi, para petugas dengan terampil menutup setiap sudutnya dengan ikatan dan menjahit beberapa bagiannya agar tampak rapi.

Seperti diketahui, Kiswah penutup Ka'bah berukuran 658 meter persegi membutuhkan 670 kilogram bahan berkualitas tinggi. Yakni kain sutra berkualitas tinggi, 120 kilogram benang emas, dan 100 kilogram benang perak.

Kiswah terdiri atas 47 potong kain, masing-masing panjangnya 14 meter dan lebarnya 95 sentimeter. Kiswah dibuat dari bahan sutra asli berwarna hitam. Di bagian atas terdapat sabuk yang ditulisi lafaz Syahadat dan ayat-ayat Alquran serta setiap kaligrafi dua bingkai ornamen Islam.

Baik tulisan ayat maupun ornamen dibentuk dengan sulaman tangan timbul menggunakan benang emas dan perak.

Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syekh Abdul Rahman bin Abdulaziz Al-Sudais mengatakan perawatan terhadap Kiswah penutup Ka'bah merupakah wujud kepedulian dan perhatian yang diberikan Kerajaan kepada Dua Masjid Suci dan para peziarah.

"Ka'bah dan sistem pelayanan di Masjidil Haram telah dirawat secara khusus sejak era pendiri Raja Abdulaziz bin Abdulrahman sampai era Saudi saat ini, dimana Dua Masjid Suci selalu menekankan bahwa pandemi global menunjukkan sejauh mana kepedulian pimpinan terhadap keamanan dan keselamatan para peziarah selama mereka untuk melakukan ritual dan ibadah," kata Syekh Sudais dalam keterangan resminya.

Syekh Sudais berdoa kepada Allah untuk melestarikan negara tercinta ini dan kepemimpinan yang bijaksana, sehingga bisa menerima para peziarah untuk melakukan ritual haji dan umrah di Baitullah, dan menghapus pandemi dari seluruh dunia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel