"Kita Berjuang untuk Hidup dan Kita Sedang Menuju Kekalahan"

Merdeka.com - Merdeka.com - Para pemimpin dunia dan diplomat menetapkan perang melawan pemanasan global sebagai sebuah pertarungan demi keselamatan manusia dalam KTT iklim COP27 di Mesir pada Senin (7/11). Dalam kesempatan itu, Sekjen PBB Antonio Guterres menyinggung soal kurangnya progres dalam penanganan masalah ini.

"Kemanusiaan memiliki sebuah pilihan: bekerja sama atau musnah," kata Guterres kepada para delegasi COP27, dikutip dari Reuters, Selasa (8/11).

Dia juga mendesak para pemimpin dunia mempercepat transisi bahan bakar fosil dan pendanaan kepada negara-negara miskin yang sedang berjuang mengatasi dampak iklim.

Kendati pembahasan soal iklim ini telah berlangsung puluhan tahun, negara-negara di dunia gagal mengurangi emisi gas rumah kaca. Janji negara-negara ini untuk melakukan hal tersebut di masa depan tidak cukup untuk menjaga iklim dari proses pemanasan menuju titik yang menurut para ilmuwan itu berbahaya.

"Gas rumah kaca tetap meningat. Suhu global tetap naik. Dan planet kita semakin cepat mendekat titip kritis yang akan membuat kekacauan iklim tidak dapat diubah," jelas Guterres.

"Kita berada di jalan tol menuju neraka iklim dengan kaki kita di atas akselerator."

Guterres mengatakan saat ini kita sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim dan jawabannya ada di tangan ktia sendiri.

""Kita berjuang untuk hidup dan kita sedang menuju kekalahan," ujarnya, dikutip dari BBC.

Sementara itu, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore yang berbicara dalam KTT itu mengatakan para pemimpin dunia memiliki masalah kredibilitas terkait perubahan iklim. Dia juga mengkritik negara-negara maju yang sedang mengeruk sumber daya gas di Afrika yang dia sebut "kolonialisme bahan bakar fosil".

"Kita punya masalah kredibilitas dalam diri kita semua: Kita berbicara dan kita mulai bertindak, tapi kita tidak melakukan hal yang cukup banyak," ujarnya, dikutip dari Reuters.

Setelah pidato Guterres yang mendesak agar penggunaan bahan bakar fosil dihentikan, Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan naik ke podium dan menyatakan negaranya, yang merupakan anggota Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak Bumi, akan tetap memproduksi minyak sepanjang diperlukan.

"UEA dianggap sebagai pemasok energi bertanggung jawab, dan akan terus memainkan peran ini sepanjang dunia membutuhkan minyak dan gas," ujarnya. [pan]