KKP Angkat Bandeng Kartini Jadi Produk Unggulan Lokal Jepara

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara kembali melakukan terobosan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.

Tahun ini, BBPBAP Jepara akan mulai menggarap model pengembangan usaha budidaya bandeng berbasis klaster secara terpadu. Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo dalam penjelasannya di Jepara mengungkapkan, pihaknya sangat pro aktif dalam mendorong optimalisasi potensi nilai ekonomi sumber daya perikanan budidaya di wilayah binaan. Sugeng membeberkan, bahwa khusus untuk Kabupaten Jepara, pihaknya telah mendorong untuk menjadikan Jepara sebagai salah satu lokus program prioritas nasional.

"Jepara ini punya potensi tambak yang cukup luas, terutama tambak-tambak idle dan ini bisa kita optimalkan lebih produktif. Komoditas bandeng saya kira jadi alternatif yang akan kita inisiasi pengembangannya. Tahun ini kita akan mulai fokuskan dengan penerapan model klaster di Kecamatan Donorojo. Saat ini sudah mulai on progres terutama terkait dengan perencanaan baik teknis maupun kajian model bisinisnya," jelas Sugeng dalam keterangannya, Senin (28/6/2021).

Saat ini, BBPBAP Jepara tengah menginisiasi pengembangan produk lokal berbasis bandeng. Melalui pengembangan klaster budidaya bandeng, pihak Balai juga tengah merancang sebuah model bisnis yang terpadu untuk mengoptimalkan nilai tambah pada masing masing segmen bisnis dari hulu ke hilir.

Lanjut Sugeng, untuk di hilir, pihaknya akan menginisiasi sebuah brand image yang diberi nama Bandeng Kartini sebagai produk lokal khas Jepara. Karakteristik kualitas bandeng Jepara khususnya di desa Clering yang lebih baik disinyalir akan memiliki daya tarik tersendiri. Munurutnya, pengembangan produk unggulan lokal ini akan menumbuhkan usaha penghela yakni UMKM pengolahan produk bandeng khas Jepara ini.

"Oleh karenanya, ke depan nanti kita bisa elaborasi untuk bagaimana strategi pengembangan produknya mulai dari diversifikasi olahan sebagai produk yang siap saji (ready to eat) hingga pemasaran produk baik secara konvensional maupun secara online. Saya rasa ini bisa kita bangun dengan kerja sama antar pihak terkait," imbuhnya.

Pengembangan Klaster

Pedagang merapikan ikan bandeng saat menunggu pembeli di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Rabu (10/2/2021). Jelang Tahun Baru Imlek 2021, para pedagang ikan bandeng mulai bermunculan di Rawa Belong. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pedagang merapikan ikan bandeng saat menunggu pembeli di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Rabu (10/2/2021). Jelang Tahun Baru Imlek 2021, para pedagang ikan bandeng mulai bermunculan di Rawa Belong. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sugeng menargetkan, dari awal pengembangan klaster 5 hektare dapat dihasilkan produksi minimal 10 ton dengan nilai ekonomi mencapai minimal Rp180 juta per siklus, dalam 1 tahun bisa dua kali siklus. Ini jika dijual dalam bentuk fresh.

Menurut Sugeng, ke depan akan dirancang bagaimana melakukan diversifikasi produk sehingga ada added value minimal 50 persen. Disamping itu, nantinya ada mata rantai bisnis yang terlibat dan ini akan memperluas kesempatan berusaha bagi masyarakat.

"Potensi pengembangan lahan masih luas, jadi nilai ekonominya nanti bisa lebih besar. Ada perputaran uang sehingga memicu ekonomi lokal bergerak. Untuk lebih detail, nanti kami akan petakan rantai nilainya sehingga tahu persis nilai keekonomian tiap-tiap segmen usaha," pungkas Sugeng.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel