KKP: Budi daya ikan bersistem bioflok bisa turunkan "stunting"

Risbiani Fardaniah

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa budi daya ikan nila sistem bioflok yang dilakukan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, berpotensi memperbaiki gizi dan menurunkan angka stunting atau kekerdilan di sana.

Direktur Jenderal Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto dalam rilis di Jakarta, Kamis, menyatakan bahwa penerapan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila merupakan sebuah langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional.

Slamet juga menegaskan pentingnya membangun kawasan Indonesia Timur, secara khusus daerah-daerah yang masih minim terjamah oleh informasi teknologi.

"Potensi sumber daya alam yang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur harus dapat kita manfaatkan dengan menciptakan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budi daya," katanya.

Ia mengutarakan harapannya agar teknologi budi daya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan diharapkan akan mampu meningkatkan nilai sumber daya alam yang ada dan memicu ruang pemberdayaan masyarakat yang lebih luas, serta akan menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal di kawasan tersebut.

Baca juga: Menteri Edhy target produksi ikan air tawar 4,68 juta ton pada 2020

Slamet mengungkapkan budi daya ikan nila sistem bioflok terbukti telah menghasilkan panen parsial perdana sebanyak 100 kg ikan Nila yang dilakukan di seminari Pius XII Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 2 Maret 2020 yang lalu dan direncanakan hingga akhir Maret total panen mencapai sekitar 300 kg.

Kelompok seminari Pius XII Kisol merupakan penerima dua paket bantuan budi daya ikan nila sistem bioflok dari KKP yang diberikan pada tahun 2019. Bantuan ini diberikan dengan pendampingan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Sebelumnya pada tahun 2019, KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budi daya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 kabupaten/kota. Total nilai bantuan yang telah diserahkan mencapai lebih dari Rp44 miliar.

Sebagai informasi, produksi ikan nila di provinsi NTT mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam kurun waktu 2016-2018. Sebelumnya pada tahun 2016 produksi nila di NTT hanya mencapai 823,5 ton, sedangkan pada tahun 2018 sudah mencapai 2.834,3 ton atau mengalami kenaikan hingga 3,5 kali lipat.

Baca juga: Menteri Edhy siap berkolaborasi tingkatkan budi daya perikanan