KKP dorong riset herbal sebagai solusi obat ikan budidaya

·Bacaan 3 menit

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong inovasi riset dengan menggunakan tanaman herbal sebagai solusi obat bagi penyakit ikan budidaya, mengingat Indonesia juga kaya akan tanaman herbal di berbagai daerah.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja di Jakarta, Senin, menyatakan riset yang dilakukan pihaknya tersebut salah satunya guna mendukung tindak lanjut arahan Presiden RI Joko Widodo kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono untuk meningkatkan perikanan budidaya.

Selain itu, ujar dia, untuk mendukung program terobosan KKP, salah satunya menggerakkan perikanan budidaya guna meningkatkan ekonomi masyarakat yang didukung riset kelautan dan perikanan dalam upaya menjaga keberlangsungan sumber daya laut dan perikanan darat.

Ia mengingatkan saat ini t kegiatan budidaya berkembang pesat sehingga meningkatkan minat studi tentang sistem imun dan pertahanan terhadap penyakit.

"Pada budidaya ikan secara intensif, ikan yang dipelihara berada pada kondisi stres karena tingkat kepadatan tinggi sehingga melemahkan sistem imun. Hal ini meningkatkan kemungkinan patogen menyerang dan mengakibatkan timbulnya penyakit," katanya.


Baca juga: KKP dorong pengusaha daftarkan pakan dan obat ikan


Penyakit akibat infeksi itu, ujar dia, berkontribusi pada kerugian ekonomis dan merupakan kendala pada proses budidaya secara intensif dewasa ini.

Sjarief mengemukakan, salah satu bahan alami yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengendali penyakit ikan adalah bahan alami yang berasal dari tanaman obat atau bahan herbal. Tanaman herbal itu diyakini mempunyai kandungan zat aktif yang mampu berfungsi setara dengan zat antibiotik yang saat ini penggunaannya sangat dibatasi.

Dengan memanfaatkan kandungan zat aktif alami (antibiotik alami) pada bahan herbal, lanjutnya, diharapkan mampu untuk menggantikan fungsi antibiotik sintetis namun tidak meninggalkan residu yang berimplikasi pada penurunan keberlanjutan kegiatan budidaya ikan secara umum.

Sementara itu, peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Nunak Nafiqoh menyampaikan, obat herbal memiliki keunggulan aman digunakan karena tidak menimbulkan residu dan resistensi bakteri.

Baca juga: KKP tertibkan penggunaan pakan-obat untuk budidaya ikan


Beberapa tanaman yang dapat dijadikan obat herbal untuk ikan antara lain kunyit (C. domestica), ketapang (T. catappa), kipahit (T. diversifolia), babandotan (A. conyziodes), kirinyuh (E. inulaefolium), meniran (P. niruni), temulawak (C. xanthorzia), talas (C. esculenta), sirih (P. betle), kunyit putih (C. zeodaria), kimanila (C. alata), jawer kotok (P. scutellaroides), kecombrang (E. elatior), jambu monyet (A. occidentale), cebreng (G. sepium), petai (P. speciose), bawang putih (A. sativum), dan petai cina (L. leucocephola).

Ia melanjutkan, penyiapan obat herbal mulai dari tanaman diambil bagian yang akan digunakan, dikeringkan, dan digiling sampai menjadi serbuk. Ekstraksi bahan aktif herbal diawali dari 10 gr bahan herbal dalam 100 ml pelarut, lalu dilakukan inkubasi 48 jam dalam agitasi konstan, kemudian disaring, dan dikeringkan pada suhu ruang.

Salah satu produk hasil riset yang telah dilakukan BRPBATPP adalah Medis Herb MH-1 Obat Ikan. Komposisinya terdiri dari kipait, sirih, pepaya, kunyit, mengkudu, dan jambu biji. Aturan pakai 2-3 hari sekali dengan merendam satu kemasan dalam 300 liter air untuk benih dan dalam 200 liter air untuk pembesaran.

“Indikasinya meredakan gejala infeksi seperti tukak pada kulit serta pendarahan pada sirip dan insang. Cara kerja obat bekerja sebagai disinfektan dan antiseptik,” ucap Nunak.

Baca juga: KKP dorong riset terkait indeks kesehatan laut

Baca juga: Menteri KKP: Riset benih unggul tingkatkan produksi budidaya perikanan

Baca juga: KKP dorong riset budi daya komoditas teripang pasir

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel