KKP-FAO tingkatkan kerja sama inovasi pakan alternatif dengan maggot

Subagyo

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama-sama dengan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO) meningkatkan kerja sama mendorong inovasi penggunaan pakan alternatif untuk budidaya ikan menggunakan maggot.

"Maggot ini memakan sayuran, limbah rumah tangga, limbah restoran, dia bisa mengurai sampah organik," kata Menteri Edhy dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ia memaparkan, maggot adalah serangga pemakan bahan organik, sehingga protein serangga ini berkualitas tinggi dan menjadi sumber protein yang baik bagi ikan.

Menteri Edhy juga telah menerima perwakilan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) di Indonesia, Stephen Rudgard, di Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (13/1).

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Edhy menjelaskan bahwa kemampuan maggot mengurai sampah organik dalam waktu 14 sampai 20 hari sangat berpotensi bagi pengembangan ekonomi berbasis laut atau ekonomi biru.

Menurut dia, inovasi penggunaan pakan alternatif dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan restoran untuk memproduksi maggot ini telah dikembangkan sekelompok warga di Kabupaten Garut.

Maggot BSF yang menjadi bahan baku pakan ikan. ANTARA/HO KKP/am.

"Inovasi penggunaan pakan ikan alternatif semacam ini harus kita dukung," kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI.

Sementara itu, Stephen Rudgard mengatakan, FAO akan mendukung pemerintah Indonesia sesuai dengan perannya untuk mengembangkan program perikanan Indonesia, termasuk berbagi pengetahuan dan akses teknologi dan praktik yang baik termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Stephen Rudgard juga memaparkan ruang lingkup kegiatan kerja sama yang ditangani oleh FAO Indonesia bersama KKP antara lain pengembangan pengelolaan perairan umum daratan yaitu pengembangan budidaya spesies belida, arwana dan sidat.

Kemudian, pengelolaan perikanan tangkap berdasarkan prinsip Ecosystem Approach Fisheries Management (EAFM), peningkatan penanganan dan pengendalian penyakit ikan, dengan mengembangkan antimicrobial resistance, rantai nilai produk perikanan dengan peningkatan ketelusuran produk perikanan dan sertifikasi produk perikanan untuk meningkatkan daya saing produk ekspor perikanan.

Stephen juga menjelaskan dukungan FAO Indonesia terhadap implementasi Port State Measures Agreement (PSMA). Kegiatan itu diimplementasikan dalam bentuk kerja sama Proyek Hibah Luar Negeri (PHLN).

Menurut Stephen, saat ini terdapat empat proyek FAO yang sedang berjalan di KKP dan tiga rencana proyek yang akan dilaksanakan dan masih dalam pembahasan.

Sebagai informasi, komponen pakan memang menempati porsi tertinggi dalam budidaya ikan. Berkisar hingga 60 persen dari total biaya produksi.

Guna menurunkan biaya pakan tersebut KKP mendorong pemenuhan kebutuhan bahan baku lokal melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri.


Baca juga: KKP apresiasi pembuatan pakan ikan berbahan baku maggot
Baca juga: KKP-FAO kerja sama produksi formula pakan ikan patin
Baca juga: KKP dorong pembudidaya ikan produksi pakan mandiri