KKP: Optimalkan olah perikanan atasi terbatasnya lahan perkotaan

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 3 menit

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI menggelar Pelatihan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan di Kota Bogor sebagai upaya mengatasi terbatasnya lahan kota untuk sumber pangan.

"Di kota, tidak banyak orang memiliki lahan yang luas. Namun, kita bisa menyiasatinya dengan pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk berbudidaya bioflok atau budidaya ikan dalam ember," ujar Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP Sjarief Widjaja dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Pelatihan KKP yang berlangsung dengan tetap memastikan protokol kesehatan di Aula Balitro dan Gedung PSEKP, Kota Bogor, 19-20 Maret 2021 itu disambut antusias oleh 100 peserta yang merupakan masyarakat setempat.

Sjarief Widjaja menyatakan, pelatihan yang diharapkan mendorong pengembangan industri pengolahan ikan di Kota Bogor ini sejalan dengan terobosan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang hendak mengembangkan kampung-kampung tematik perikanan di berbagai wilayah Indonesia.

Hal tersebut, lanjutnya, bertujuan pula untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat seiring dengan pemulihan ekonomi nasional, sekaligus menggairahkan gerakan berbasis kearifan lokal.

Untuk itu, dalam kesempatan kali ini para peserta dibekali dengan berbagai materi pengolahan dari hulu ke hilir. Mulai dari cara membuat siomay, sambal tomat lele, otak-otak rebus, pengemasan, hingga pemasaran yang dibalut dalam 16 jam pelajaran.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan KKP Lilly Aprilya Pregiwati mengutarakan harapannya agar pelatihan ini dapat dijadikan dasar bagi masyarakat untuk mengkreasikan lebih banyak lagi jenis produk olahan ikan.

Bahkan tak menutup kemungkinan, menurut dia, inovasi olahan berbahan dasar ikan ini bisa dijadikan oleh-oleh khas Bogor yang baru.

“Memang kalau kita lihat, di Kota Bogor ini belum ada oleh-oleh khusus yang bercirikan ikan. Paling seringnya beli roti mulai dari roti unyil, lapis talas, maupun beragam roti lainnya. Tapi oleh-oleh khusus berciri ikan ini belum ada,” ujar Lilly.

Setelah pelatihan berakhir, lanjutnya, para penyuluh akan terus mendampingi para peserta yang berminat membuka wirausaha olahan ikan. Pendampingan yang diberikan mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga proses pemasaran.

Ia juga mengemukakan bahwa tidak hanya berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pengembangan olahan hasil perikanan juga bermanfaat untuk meningkatkan konsumsi ikan di tengah masyarakat. Pasalnya, konsumsi ikan di Jawa Barat masih sangat rendah dibandingkan rata-rata konsumsi ikan nasional.

"Angka konsumsi ikan nasional tahun 2019 itu 54,49 kg/kapita/tahun, sedangkan di Jawa Barat ini angka konsumsi ikan baru 29,64 kg/tahun. Masih sedikit. Bahkan di tahun 2021, target konsumsi ikan nasional meningkat lagi menjadi 58,08 kg/tahun per orang. Untuk itu, ke depannya kita harus berpikir bagaimana menyiasati supaya masyarakat lebih banyak makan ikan. Salah satunya lewat olahan ikan ini. Dengan begitu, kita dapat mencapai ketahanan pangan keluarga," ucap Lilly.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Anas S. Rasmara mengatakan bahwa sebenarnya daerahnya memiliki produksi perikanan yang tinggi yakni sekitar 5.537 ton/tahun. Meskipun begitu, sebagian besarnya masih dimanfaatkan secara konvensional.

Untuk itu, ia menilai bahwa pelaksanaan kegiatan pelatihan pengolahan dan pemasaran kali ini sangat tepat dilaksanakan untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk perikanan di Kota Bogor.

Baca juga: KKP sebut pelatihan pengolahan hasil perikanan bakal lesatkan konsumsi
Baca juga: KKP: Izin usaha pengolahan komoditas perikanan semakin mudah
Baca juga: Pastikan ketahanan pangan, KKP latih warga olah ikan lele