Klaim Menang Amat Prematur, Trump Dianggap Abaikan Demokrasi

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Suasana malam pemilihan ternyata persis seperti yang diprediksi oleh banyak pakar dan analis - setidaknya dalam satu hal: Tidak ada pemenang yang jelas pada Rabu (04/11) pagi waktu AS. Negara bagian utama yang menjadi rebutan termasuk Michigan, Wisconsin dan Pennsylvania masih dalam proses menghitung suara dan mungkin akan butuh waktu untuk melaporkan hasil keseluruhan.

Tidak mengherankan, kedua kandidat melakukan upaya terbaik dalam mengabaikan situasi yang ada dan memproyeksikan optimisme kepada pendukung mereka. Kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden pada Rabu pagi waktu setempat berada di negara bagian asalnya, Delaware.

"Kita tahu ini akan berlangsung lama," kata Biden, menambahkan bahwa dia merasa senang dengan posisi mereka dalam persaingan mencapai 270 suara electoral college guna mengamankan kursi kepresidenan.

"Semua ini belum selesai sampai setiap suara dihitung, sampai setiap surat suara dihitung," tegasnya.

Dengan tiga cara pengambilan suara yang berbeda, yakni pemungutan suara secara langsung pada hari H pemilu, pemungutan suara awal secara langsung, dan surat suara melalui pos, proses penghitungan dapat berlangsung hingga berhari-hari berikutnya.

Semua ini adalah bagian yang benar-benar sah dalam sebuah proses demokrasi. Melihat Presiden Donald Trump menggambarkan situasi ini sebagai upaya Demokrat untuk mencoba "mencuri" pemilu, seperti yang dia lakukan di Twitter Rabu pagi tanpa memberikan bukti, seharusnya tidak mengejutkan, tetapi tetap saja mengesalkan.

Dalam pidatonya pada Rabu dini hari, Trump mengklaim telah dengan jelas memenangkan beberapa negara bagian yang, pada saat itu, masih belum menghitung cukup banyak suara untuk menyatakan siapa yang menang. Dia secara khusus menunjukkan keunggulannya di Pennsylvania, tanpa berbicara tentang detail yang sangat penting terkait jenis surat suara yang belum dihitung di sana.

Banyak dari surat suara yang belum dihitung adalah surat suara yang masuk lewat pos, yang menurut para pakar pemilih Demokrat memberikan suara lebih banyak lewat cara ini daripada pemilih Republik. Jadi tentu saja Trump tidak ingin surat suara ini dihitung. Tetapi ini bukan berarti bahwa bahwa Demokrat dapat menyerah begitu saja - Trump bisa jadi memimpin di banyak negara bagian yang masih melakukan proses penghitungan, tetapi sejumlah besar suara yang masih harus dihitung kemungkinan besar akan memilih Biden.

Dengan kata lain, meski saat ini mungkin terasa seperti deja vu tahun 2016 yang menyedihkan, semuanya belum berakhir. Tapi Trump menyatakan kemenangan, menyebut proses penghitungan sebagai "penipuan besar," dan mengumumkan bahwa dia akan membawa masalah ini ke Mahkamah Agung, menunjukkan pengabaian yang keterlaluan atas cara tabulasi pemungutan suara dalam demokrasi pada tahun pandemi 2020 ini.

Masih banyak orang Amerika terima tindakan Trump

Banyak orang Amerika yang liberal mengharapkan kemenangan yang jelas bagi Biden - dan tentu saja bukan pemilihan umum dengan perhitungan sedekat ini. Namun bagaimanapun, kandidat mereka mencalonkan diri melawan seorang presiden yang ingin melarang muslim memasuki AS, yang juga memisahkan anak-anak migran dari orang tua mereka di perbatasan selatan AS, yang telah melancarkan serangan rasis terhadap perempuan anggota Kongres AS, yang dimakzulkan karena mencoba memperdagangkan bantuan militer ke Ukraina untuk membantu melawan saingan politiknya, yang di bawah kepemimpinannya lebih dari seperempat juta orang sejauh ini tewas akibat pandemi COVID-19. Daftarnya terus bertambah.

Kenyataan bahwa sejumlah besar orang Amerika masih memilih Donald Trump, terlepas dari tindakannya selama empat tahun belakangan ini menunjukkan apa yang bisa diterima di Amerika Serikat. Dan itu sangat menghancurkan, tidak peduli siapa yang berakhir di Gedung Putih. (ae/vlz)