Klaim Surabaya Bebas Kumuh, Eri Cahyadi Dinilai Kurang Data

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Data statistik menjadi andalan pasangan calon Pilkada Surabaya 2020 nomor urut satu, Eri Cahyadi-Armuji dalam debat perdana pada Rabu malam, 4 November 2020. Mulai data tentang Covid-19, pendidikan, kesehatan, sampai pelayanan. Sayang, sejumlah data yang disampaikan tidak akurat.

Salah satunya adalah data tentang kekumuhan. Eri dengan meyakinkan menyebut kekumuhan di Surabaya sudah nol. ”Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Cipta Karya, Surabaya ini sudah nol kawasan kumuh. Parameter kumuh tidak hanya dari pandangan mata,” katanya.

Faktanya, masih ada ratusan ribu meter persegi kawasan di Surabaya belum bebas dari kumuh. Dalam laman resmi Pemerintah Kota Surabaya, surabaya.go.id, disebutkan jika per 2019 kawasan kumuh di Surabaya mencapai 43,46 ha (setara 434,600 meter persegi). Jumlah seluas itu, tersebar di 21 kelurahan.

Secara kasat mata, kekumuhan memang masih banyak dijumpai di Surabaya. tidak sulit untuk menemukan. Di belakang jalan-jalan protokol yang indah, banyak warga yang tinggal di rumah dengan kualitas yang buruk. Baik sirkulasi, sanitasi, maupun pelayanan dasar lainnya. Contohnya adalah kawasan pemukiman di Morokrembangan dan Sidotopo.

Bahkan, ada sejumlah warga yang tinggal di makam Pegirian. Mereka terpaksa seperti itu karena tidak punya tempat tinggal yang layak. Lebih miris lagi, lebih dari 10 ribu warga yang tidak punya jamban. Mereka biasa membuang hajat di sungai.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ibnu Shobir, membenarkan soal itu. Masih banyak kawasan kumuh yang tidak tersentuh. "Salah satu program mengatasi kawasan kumuh adalah perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu). Data 2019, pemkot memperbaiki 1.090 Rutilahu menggunakan dana APBD. Di tahun 2020 juga direncanakan 463 rumah diperbaiki. Itu menunjukkan kawasan kumuh di 2020 tidak 0% karena belum tuntas semua terselesaikan,” ujarnya pada Kamis, 5 November 2020.

Anggota Fraksi PKS itu berharap, di tahun mendatang, saat kondisi perekonomian sudah rebound dari COVID-19, Pemkot Surabaya bisa lebih perhatian pada penanganan kawasan kumuh. Tempat tinggal yang kumuh, sangat berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental warga yang tinggal di sana. Baik warga dewasa, apalagi anak-anak. (ren)

Baca: Pilkada Surabaya: Pede-pedean Eri dan Machfud Jelang Debat