Klarifikasi Macron: Prancis Memerangi Ekstremis, Bukan Muslim

Aries Setiawan
·Bacaan 1 menit

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS--Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan posisi Prancis yang tengah memerangi "separatisme Islam, bukan Islam". Pernyataan ini diungkapkan menyusul munculnya artikel dari sebuah surat kabar Inggris yang menyebut Macron menstigmatisasi Muslim Prancis untuk tujuan politik dan menumbuhkan islamophobia.

"Saya tidak akan mengizinkan siapapun untuk mengklaim bahwa Prancis, atau pemerintahnya, mendorong rasisme terhadap Muslim," kata Macron yang dikutip di Economic Times, Kamis (5/11).

Sebelumnya seorang koresponden Financial Times menulis pendapat atas kecaman separatisme Islam Macron yang beresiko mendorong ketidaknyamanan bagi Muslim Prancis. Artikel tersebut kini telah dihapus dan digantikan dengan pemberitahuan bahwa artikel tersebut tidak faktual.

Sejak merilis pernyataan untuk mendukung tindakan Samuel Paty dan Charlie Hebdo yang melecehkan Nabi Muhammad SAW, Macron dan pemerintahannya dibanjiri kecaman dari negara-negara Muslim. Menyusul protes dan gerakan boikot barang-barang Prancis yang mulai bermunculan di seluruh dunia, Macron mengatakan bahwa dia memahami karikatur itu bisa mengejutkan bagi sebagian orang. Namun dia menekankan masih adanya resiko berkembangnya paham ekstrimis di Prancis.

"Di distrik tertentu dan di internet, kelompok-kelompok yang terkait dengan Islam radikal mengajarkan kebencian terhadap republik kepada anak-anak kami, meminta mereka untuk mengabaikan hukumnya," ujarnya.

"Inilah yang diperjuangkan Prancis melawan kebencian dan kematian yang mengancam anak-anaknya - tidak pernah melawan Islam. Kami menentang penipuan, fanatisme, ekstremisme kekerasan. Bukan agama," sambungnya.