Klausul Khusus Kontrak Baru Hamilton dan Mercedes

Xaveria Yunita
·Bacaan 2 menit

Imbas virus corona membuat jadwal balapan F1 2020 dipadatkan selama semester kedua tahun ini. Tak ayal, driver Inggris tersebut terus bepergian menjelajahi Eropa. Pengorbanannya terbayar dengan gelar juara dunia ketujuh.

Meski begitu, pria 35 tahun itu tidak sepenuhnya gembira berada jauh dari rumah dan keluarganya terlalu lama.

“Saya ingin tetap bersama dengan Mercedes. Saya merasa masih muda dan selalu lapar (kemenangan). Tapi tahun ini, adanya corona, menunjukkan bahwa Anda dapat melakukan banyak hal dari rumah. Saya membayangkan akan ada banyak tanggal dengan Zoom di kontrak saya dan lebih sedikit hari yang dihabiskan di pesawat,” ujarnya dalam wawancara dengan program BBC Breakfast.

Musim depan rencananya Formula 1 akan menggelar 23 balapan di berbagai belahan dunia. Tentu saja ia akan sering melancong.

Agar tak kesepian, Hamilton berencana mengangkut keluarga dan teman-temannya ke beberapa sirkuit tempatnya berlomba. Mereka bisa jadi stimulus untuk menambah koleksi juara yang kini menyentuh angka 94.

“Waktu untuk keluarga dan teman sangat penting bagi saya. Jika kami mulai bepergian lebih sering, (saya ingin) membawa keluarga ke suatu tempat dan menciptakan memori dengan mereka dan merayakan dengan mereka di sekitar. Tahun ini saya tak bisa bertemu mereka dan itu sangat berat,” katanya.

Baca Juga:

Tes Pramusim Diperpendek, Sainz Akui Akan Sulit Adaptasi dengan Ferrari Hamilton Akhiri Perdebatan Mobil Vs Pembalap

Seiring dengan berjalannya waktu, Lewis Hamilton mulai menggeser fokus sedikit. Prioritasnya masih merangkai titel sepanjang mungkin sekaligus membantu Mercedes lebih berkembang.

Lewat balapan, ia ingin mengampanyekan kesetaraan khususnya di olahraga motor. Ide itu muncul karena pengalaman buruk semasa kecil. Juara balapan F1 94 kali itu sering dipandang sebelah mata.

“Saya menginginkan keberagaman. Saya ingin semua orang dari semua latar belakang kesempatan saya. Tak ada orang yang mau memberi secara cuma-Cuma, para pemuda harus mencari posisinya. Kita juga tidak bisa memaksa setiap orang untuk melibatkan lebih banyak minoritas,” katanya.

“Kami harus menemukan kenapa tak ada lagi keberagaman. Saya bekerja sama dengan Royal Academy of Engineering, London, untuk ini. Kami menginvestigasi kenapa hanya sedikit anak berkulit hitam yang tertarik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik dan matematika. Kami harus menemukan di mana penghalangnya.”