KLHK Dorong PLTU Jawa 9 dan 10 Jadi Contoh Pembangkit Ramah Lingkungan

Bayu Nugraha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 9 dan 10 menjadi role model untuk pengembangan pembangkit yang ramah lingkungan. Sebab, pengembang pembangkit listrik Jawa 9 dan 10 ini serius menciptakan PLTU ramah lingkungan yakni PT Indo Raya Tenaga (IRT).

Indo Raya Tenaga sebagai pengelola pembangkit tenaga uap, mampu menekan emisi jenis polutan SOx, partikulat, dan NOx hingga jauh di bawah ketentuan maksimal yang disarankan pemerintah.

“Ini bisa mengubah kesadaran para pengusaha tentang tanggungjawab,” kata Wakil Menteri KLHK Alue Dohong pada Kamis, 8 April 2021.

Menurut dia, keberadaan perusahaan seperti IRT dapat memunculkan kesadaran para pengusaha untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan tujuan utama, mencegah kerusakan alam akibat emisi atau gas buang yang keluar dari PLTU atau pabrik. Apalagi, menurut dia, saat ini masih banyak pengusaha yang abai akan hal tersebut.

Oleh karena itu, Alue Dohong mengingatkan para pengusaha agar berani mengeluarkan terobosan baru, mencegah kerusakan lingkungan seperti pengelola PLTU Jawa 9 dan 10. Sehingga, hal tersebut bisa membuat branding usahanya lebih bagus.

“Sebab, tidak hanya mengejar keuntungan saja tapi memperhatikan sosial juga,” ujarnya.

Ia mengatakan apabila tidak ada perubahan dalam upaya bisnis untuk lebih memperhatikan lingkungan, maka dikhawatirkan akan menyebabkan perubahan iklim secara drastis. Bahkan, bisa menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir, kekeringan, hingga peningkatan muka air laut.

Diketahui, Indo Raya Tenaga (IRT) meraih Indonesia Green Award (IGA) 2021 kategori perusahaan yang memelopori PLTU nan ramah lingkungan berbasis teknologi maju. Teknologi yang dipakai seperti flue gas desulfurization, low nox burner, electro static precipitatpr, dan selective catalytic reduction untuk menekan emisi udara berupa SOx, partikulat, NOx.

Konstruksi PLTU yang memasang ultra super critical dan menggunakan peralatan utama buatan Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) ini, diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat groundbreaking pada 2017.

Baca juga: Keluarga Pengemudi Koboi Fortuner Temui Korban, Minta Damai