KLHK: Masyarakat adat berperan penting dalam upaya pengurangan emisi

Masyarakat adat memiliki peran penting dan berkontribusi positif dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang menjadi target iklim Indonesia, kata Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK Bambang Supriyanto.

Dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa, Dirjen PSKL KLHK Bambang mengatakan kearifan lokal masyarakat adat berkontribusi positif dalam upaya pengurangan emisi yang tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contributions (NDC) dan mencapai penyerapan bersih sektor kehutanan dan lahan atau FOLU Net Sink 2030.

"Masyarakat adat berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sebanyak 5,2 persen dari target tingkat emisi FoLU Net Sink yang sebanyak minus 140 juta ton CO2 ekuivalen," kata dia dalam diskusi di Paviliun Indonesia dalam Konferensi Iklim PBB (COP-27) di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (7/11), waktu setempat.

Terkait dengan praktik kearifan lokal pengelolaan hutan oleh masyarakat adat, dia memberi contoh tentang hal yang dilakukan Kasepuhan Adat Ciptagelar di Jawa Barat.

Kasepuhan Adat Ciptagelar mengalokasikan Leuweung Tutupan sebagai area hutan lindung, Leuweung Titipan sebagai area hutan konservasi dan Leuweung Garapan sebagai area pengelolaan, termasuk untuk peningkatan stok karbon.

Baca juga: Indonesia ajak semua negara beraksi lebih kuat tangani perubahan iklim

KLHK terus mendorong skema Perhutanan Sosial untuk melibatkan masyarakat di sekitar kawasan hutan dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan menyelesaikan konflik tenurial.

Perizinan yang diberikan KLHK kepada masyarakat dalam skema perhutanan sosial di antaranya Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), kemitraan dan hutan adat.

Menurut Bambang, sejak 2016 telah ada 105 penetapan pengakuan hutan adat seluas 148.488 hektare dan melibatkan 47.158 hektare. Areal indikatif hutan adat sekitar 1,09 juta hektare.

Dalam diskusi yang sama, Ketua The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan pengelolaan perhutanan sosial termasuk hutan adat menjadi salah pilar untuk mencapai target FoLU Net Sink yaitu tingkat emisi GRK sebanyak minus 140 juta ton setara karbondioksida (CO2e).

"Sebuah apresiasi untuk masyarakat adat yang mengelola hutan adat karena mendukung operasional FOLU Net Sink," ujarnya.

Baca juga: Pemetaan aksi mitigasi bantu implementasi FoLU Net Sink di tapak
Baca juga: KLHK sebut KPH dapat dukung tercapainya FoLU Net Sink 2030
Baca juga: Indonesia upayakan beberapa strategi pendanaan dukung FoLU Net Sink