KLHK: Perjanjian dengan Norwegia bukti peran RI di isu perubahan iklim

Sekretaris Ditjen Planologi dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK Hanif Faisol Nurofiq mengatakan bahwa perjanjian baru antara Indonesia dan Norwegia adalah bukti peran Indonesia dalam isu perubahan iklim tingkat global.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, Sesditjen PKTL KLHK Hanif Faisol Nurofiq mengatakan keterlibatan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia beberapa waktu lalu terkait rehabilitasi mangrove di Kalimantan adalah bukti bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang diandalkan dunia dalam perubahan iklim.

"Beberapa hari lalu, Bu Menteri LHK bersama Menteri Lingkungan Hidup dari Norwegia, Espen Bath Eide melakukan tanam mangrove bersama. Beliau (Barth Eide) sangat mendukung peran Indonesia dalam perubahan iklim," katanya.

Tidak hanya itu, perjanjian baru antara Indonesia dan Norwegia yang mendukung implementasi penyerapan bersih emisi gas rumah kaca sektor kehutanan dan penggunaan lahan (FoLU Net Sink) pada 2030 memperlihatkan keinginan negara itu untuk kerja sama berkelanjutan terkait iklim.

Baca juga: Menteri LHK: Indonesia's folu net sink 2030 kuatkan pengelolaan hutan

Baca juga: Kalteng upayakan FOLU Net Sink bisa diimplementasikan masyarakat

Hal itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) on Partnership in Support of Indonesia’s Efforts to Reduce Greenhouse Gas Emissions from Forestry and Other Land Use pada 12 September 2022.

Nota kesepahaman antara Indonesia dan Norwegia meliputi kerja sama terkait pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan peningkatan kapasitas memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove.

Kerja sama juga akan dilakukan dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan kerusakan lahan gambut.

KLHK sendiri terus melakukan sosialisasi FoLU Net Sink 2030 untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan membangun kesadaran terkait isu perubahan iklim di tingkat tapak.

"Kita ajak masyarakat, berikan edukasi dan pemahaman bahwa pentingnya perubahan iklim ini untuk kita bersama. Lalu bagaimana caranya, ajak dan libatkan masyarakat untuk melakukan tanam pohon bersama, pelestarian hutan yang memiliki potensi 60 persen dalam perubahan iklim," katanya.*

Baca juga: EcoNusa: Kesepakatan RI-Norwegia akan perkuat pencapaian FoLU Net Sink

Baca juga: KLHK: Kerja sama baru RI dan Norwegia miliki lingkup lebih luas