KLHK: Selama Pandemi Covid-19, Timbunan Sampah Medis Naik 50 Persen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 tak hanya mengganggu sektor kesehatan dan perekonomian nasional. Penyebaran virus corona ini menambah beban tambahan baru bagi persoalan sampah dan limbah B3, khususnya limbah medis.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat selama pandemi Covid-19, terjadi peningkatan timbunan sampah medis. Tak tanggung peningkatan yang terjadi sebesar 30 persen sampai 50 persen.

"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat terjadi peningkatan timbunan medis berkisar 30-50 persen," kata Kasubdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 KLHK, Ujang Solihin Sidik, dalam Diskusi Daring Jurnalis: Pandemi Covid-19 dan Ekonomi Sirkular, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Ujang mengatakan, selama pandemi Covid-19 terjadi timbunan sampah Alat Pelindung Diri (APD) di Teluk Jakarta. Hasil riset menunjukkan komposisi sampah APD berbahan plastik yang dibawa aliran sungai mencapai 16 persen.

"Hasil riset menunjukkan, komposisi sampah APD berbahan plastik yang dibawa aliran sungai sebesar 15-16 persen. Padahal keberadaan sampah APD di aliran sungai tidak ditemukan sebelum pandemi Covid-19," tutur Ujang.

Dia melanjutkan dalam periode yang sama, sampah plastik mendominasi jenis sampah yang masuk ke aliran sungai yang menuju Teluk Jakarta. Berdasarkan volume meningkat 46 persen dan menurut berat naik 57 persen.

"Sampah yang masuk ke aliran sungai meningkat secara volume namun menurun secara berat," kata dia.

Tak hanya di Teluk Jakarta, hasil penelitian Institut Teknologi Surabaya (ITS) juga menunjukkan peningkatan komposisi sampah plastik di TPA Benowo, Surabaya. Tahun 2013 terjadi peningkatan sampah 12,96 persen. Kini pada tahun 2020 meningkat menjadi 22,01 persen.

"Peningkatan sampah plastik juga terjadi di TPA Benowo, dari 12,96 persen pada tahun 2013 menjadi 22,01 persen di tahun 2020," kata dia.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

Siap-Siap, Vaksinasi Covid-19 Dimulai Rabu 13 Januari 2021

Ilustrasi vaksin Covid-19. (Liputan6.com)
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Liputan6.com)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah memastikan akan memulai vaksinasi Covid-19 pada hari Rabu, 13 Januari 2021 mendatang.

Luhut bilang, ketika vaksinasi dilakukan, maka hasilnya akan terlihat setidaknya dalam kurun waktu 3 bulan.

"Hari Rabu kita akan mulai vaksinasi nasional, dan 3 bulan saya kira akan kelihatan dampaknya," ujar Luhut dalam peluncuran Gerakan Bangga Buatan Indonesia, Senin (11/1/2021).

Luhut bilang, dalam kondisi pandemi saat ini, seluruh sektor memang tengah berjuang untuk bangkit dan bertahan, tidak terkecuali sektor informal dan UMKM. Karena itulah, gerakan Bangga Buatan Indonesia diluncurkan demi membantu UMK yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Kendati, pengendalian Covid-19 tetap harus menjadi prioritas.

"Saya harap juga kita tetap mematuhi protokol kesehatan karena dalam menghadapi Covid-19 harus all out. Jangan sampai kita maju di sini (ekonomi), kita malah enggak bisa hadapi Covid-19. Semua dunia sudah aware akan second wave, bahkan third wave di Jepang, Thailand, Inggris dan lain-lain," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Luhut juga meminta Gubernur Bali I Wayan Koster untuk memperketat akses masuk ke Bali. Hal ini dikarenakan jumlah kasus positif di Bali semakin meningkat terutama karena adanya perjalanan masyarakat pada libur tahun baru.

"Saya harap Bali segera recovery. Saya titip juga Bali, datanya tinggi kemarin gara-gara libur panjang. Oleh karena itu, tolong diketatkan lagi masalah swab test, rapid test antigen dan penyiapan karantina dan protokol kesehatan, sambil kita nanti vaksinasi nasional hari Rabu," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: