Klub Jadi Korban PSSI, Operator Liga 1 Kehilangan Jati Diri

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVA – Habis sudah harapan klub Liga 1 untuk melanjutkan kompetisi musim 2020. Mereka mengusulkan kompetisi diakhiri saja dan diganti musim baru.

Klub sempat menjadi korban saat menuruti rencana PSSI melanjutkan kompetisi pada Oktober 2020. Ketika itu mereka semua sudah menggelar persiapan sekira dua bulan lebih.

Begitu juga dengan wasit. Semua sudah berkumpul di pulau Jawa. Tragis, ketika mendekati waktunya, diumumkan pembatalan karena tidak adanya izin keramaian dari Kepolisian.

Waktu terus berjalan tahun pun berganti. 10 bulan sudah klub dan seluruh pelaku sepakbola Tanah Air menanti, berharap-harap kompetisi itu bergulir lagi.

Jelas mereka sangat berharap. Karena kompetisi di belahan dunia juga sudah mulai bergulir sejak jauh-jauh hari. Tak usah jauh melihat ke Eropa, negeri tetangga Malaysia saja merencanakan kompetisi 2021 bergulir pada 28 Februari.

Semangat itu menjadi hilang karena tidak ada kejelasan dari operator Liga 1 yaitu PT Liga Indonesia Baru (LIB). Hinga akhirnya, mereka mengusulkan pada pertemuan virtual, Jumat kemarin, 15 Januari 2020, musim ini dihentikan saja.

Dalam pertemuan itu, klub-klub juga menyayangkan sikap LIB yang menurut mereka terkesan pasif. Padahal ini bukanlah pertemuan pertama antara klub Liga 1 dengan jajaran Direksi PT LIB.

Founder Football Institute, Budi Setiawan menyoroti keluhan-keluhan klub itu. Dia menilai, LIB harusnya paham posisi akan dirinya sendiri.

"Posisi mereka bukan pelayan yang menanyakan ke klub lalu diteruskan ke PSSI. Mereka kan operator kompetisi profesional," kata Budi saat berbincang dengan VIVA, Sabtu 16 Januari 2021.

"Kompetisinya saja sudah profesional, harusnya direksinya, organisasinya tentunya memiliki semangat penyelenggaraan yang optimal. Tapi dalam situasi seperti ini tidak ada upaya terobosan dari LIB," ucapnya.

Budi melanjutkan, sikap LIB bisa saja menimbulkan kontroversi yang berkelanjutan. Publik sepakbola Indonesia saat ini seakan diadu domba dengan kepolisian lantaran pernyataan LIB selalu tidak dapat izin.

"Oke ada PPKM di Jawa Bali. Kenapa tidak pernah ada terobosan kepada klub-klub peserta. Pindahkan saja, kan bisa main di Sumatera dan lainnya," ucap Budi.

"Kalau cuma mengundang klub terus menampung lalu sampaikan ke PSSI menurut saya tidak usah ada pertemuan. Dari surat aja. Jadi sia-sia kita lihat pertemuan itu. Jadinya pikiran klub semakin liar contohnya kompetisi tanpa degradasi," jelasnya.