Klub Liga 1 Tumbang Saat PSSI dan LIB Gagal Rayu Pemerintah dan Polri

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVAPSSI dan operator kompetisi, Liga Indonesia Baru (LIB) saat ini masih berkoordinasi dengan pemerintah dan Polri agar dapat melanjutkan Liga 1 yang sudah tertunda sejak Maret 2020.

Berbulan-bulan, usaha itu belum jua berbuah hasil. PSSI dan LIB hingga detik ini tak mampu meyakinkan Polri untuk mengeluarkan izin pertandingan, meskipun tanpa penonton.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan pihaknya cuma bisa menunggu izin itu dikeluarkan, meskipun tak tahu kapan pastinya.

"Koordinasi dan silaturahmi dengan berbagai pihak terkait terus kami, serta surat resmi kepada pihak kepolisian telah dilayangkan sebanyak tiga kali," kata Iriawan.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita. Pihaknya saat ini terus meyakinkan pemerintah dengan rancangan protokol kesehatan .yang telah mereka siapkan sejak jauh-jauh hari.

"Kami terus menerus meyakinkan pemerintah, yang penting protokol saat pertandingan, kami siap memperketat," kata Lukita.

"Kalau izin dikasih bisa jalan. Kami akan saring, mau kondisi PSBB atau tidak pasti kami akan seleksi untuk mencegah penyebaran virus," sambungnya.

Di tempat terpisah, di saat PSSI dan LIB mengklaim terus melakukan koordinasi dengan pemerintah serta Polri, klub-klub Liga 1 mulai bertumbangan. Terbaru adalah Persipura Jayapura.

Manajemen tim berjuluk Mutiara Hitam memutuskan untuk bubar. Alasannya karena faktor finansial yang mengempis di masa pandemi COVID-19.

Tentu, neraca keuangan jadi tak seimbang. Tidak ada dana yang masuk, sedangkan gaji pemain terus saja dibayarkan.

"Kami putuskan Persipura Jayapura Hentikan seluruh aktivitas, situasi finansial semakin sulit bagi kami untuk terus membayar gaji pemain, pelatih dan seluruh ofisial. Hal ini karena Bank Papua sudah memastikan bahwa mereka tidak dapat membayarkan sisa kontrak yaitu Rp 5 miliar," kata kata Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano, Rabu 6 Januari 2021.

"Jadi terhitung sejak kompetisi terhenti bulan maret tahun lalu, Persipura hanya disokong oleh PT Freeport, Kuku Bima, dan anggaran dari manajemen, walaupun kompetisi tidak berjalan, tetapi Kami tetap membayar gaji seluruh pemain, pelatih dan ofisial," sambungnya.

Keputusan ini tentu sangat disayangkan, apalagi Persipura akan tampil di ajang Asia yakni Piala AFC. Namun, tak ada pilihan, membubarkan tim adalah cara terbaik bagi manajemen.

"Kami sangat sayangkan situasi ini, padahal kita punya kesempatan untuk berlaga di AFC Cup 2021, karena tidak mungkin kita paksakan tim berjalan tanpa membayar gaji pemain, pelatih dan ofisial," ucapnya.

Sebelum Persipura, Madura United lebih dulu mengambil keputusan untuk membubarkan tim. Alasannya sama, karena masalah finansial.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi mengatakan setelah dibubarkan, pihaknya memilih fokus untuk pembenahan administrasi dan infrastuktur.

"Pemain kami bubarkan, kini saatnya klub melakukan pembenahan, dengan membenahi administrasi dan infrastruktur yang menjadi syarat dari AFC dan FIFA," tulis Achsanul dalam akun instragram pribadinya.

"Kami tidak ingin larut dalam pandemi ini, ketidakjelasan ini sulit diungkap untuk sekedar berharap," sambungnya.