Klub Moge Pimpinan Jenderal Keroyok Intel TNI, Ini Sikap Letjen Yos

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pengeroyokan yang dilakukan sejumlah pengendara motor gede dari Harley Davidson Owner Group (HOG) Siliwangi, Bandung, Jawa Barat, terhadap dua prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) membuat banyak pihak berang dan sangat kecewa, apalagi komunitas motor gede lain.

Salah satu pecinta motor gede yang paling kecewa dengan aksi brutal anggota klub moge pimpinan Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Djamari Chaniago itu adalah mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Sutiyoso.

Dalam perbincangan dengan Apa Kabar Indonesia tvOne, dilansir VIVA Militer, Selasa 2 November 2020, Letjen Sutiyoso mengatakan, perbuatan yang telah dilakukan pengendara moga di Kota Bukittingi, Sumatera Barat, itu tidak mencirikan seorang pemoge sejati yang sebenarnya.

Menurut Bang Yos, sudah saatnya para pengendara moge arogan dan brutal itu diberi pelajaran, ditindak sesuai hukum yang berlaku.

“Tindak sesuai hukum meski sudah minta maaf, mereka harus mendapat pelajaran, agar sadar bahwa mereka seperti manusia yang lain juga, tidak ada perlakuan istimewa untuk dia,” kata Letjen Yos.

Dari kaca mata Letjen Yos, memang pasti ada pengendara moge yang arogan. Tapi tidak semuanya seperti itu. Malah banyak yang sopan dalam mengendarai motor mahalnya.

"Saya meyakini dalam setiap kelompok pasti ada yang arogan. Tapi tidak semua pengendara motor gede seperti itu kelakuannya," kata lulusan Akademi Militer 1968 itu.

Letjen Sutiyoso menjelaskan, mengendarai motor gede merupakan sebuah hobi belaka. Karena itulah pengendara moge tak boleh mengganggu masyarakat umum. Apalagi sampai melakukan pengeroyokan seperti yang dialami dua anggota intelijen Komando Distrik Militer (Kodim) 0304/Agama, Serda Mustari dan Serda Muhammad Yusuf.

"Jadi ini hobi, pada prinsipnya hobi jangan ganggu orang lain. Justru seharusnya, kelompok ini karena berasal kelompok sosial ekonominya lebih baik dan secara intelektual juga lebih baik harusnya juga berbuat baik," kata mantan Panglima Kodam Jaya yang merintis karier militer dari infanteri Komando Pasukan Khusus itu.

Letjen Sutiyoso berpesan kepada semua klub motor gede agar sebaiknya lebih banyak melakukan kegiatan yang sifatnya sosial kemanusiaan. "Perbanyak lah kegiatan sosial dan kemanusiaan, itu perlu, sekali lagi jangan merasa kelompok eksklusif diperlakukan khusus," katanya.

Perlu diketahui, pengeroyokan terjadi Jumat petang 30 Oktober 2020, awalnya kedua intel TNI itu sedang berkendara menuju markas Kodim 0304/Agam, tapi saat melintas di Jalan Dr Hamka, mendadak muncul konvoi rombongan motor gede yang dikawal polisi.

Saat itu kedua prajurit TNI memilih menepi dan memberikan jalan kepada rombongan, selepas itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tapi ternyata dari belakang datang lagi rombongan moge lainnya.

Dengan arogannya para pengendara moge itu menyalip dan meraung-raungkan mesin motor mahalnya di hadapan kedua prajurit TNI itu, hingga keduanya nyaris jatuh.

Serda Mistari dan Serda Muhammad Yusuf pun memberikan teguran dan menghentikan salah satu motor dalam rombongan. Tapi malah para pengendara moge itu marah dan menyerang kedua prajurit TNI itu dan memukulinya secara brutal hingga terluka.

Rombongan moge itu merupakan peserta dari kegiatan touring dengan tema Long Way Up Sumatera Island sejak tanggal 29 Oktober hingga 6 November 2020, yang dipimpi Letnan Jenderal (Purnawirawan) Djamari Chaniago.

Rute perjalanan mereka dari Bandung menggunakan pesawat via Padang, kemudian mereka melanjutkan perjalanan darat menggunakan Harley Davidson dengan rute Padang, Bukittinggi, Medan, Aceh, dan akan finish di Sabang, Aceh.

Baca: Paling Buas Hajar Wajah Intel TNI, Ternyata Bambang Moge Pelajar