KNTI: Udang tolok ukur komoditas perikanan budi daya Indonesia

·Bacaan 2 menit

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyebutkan udang merupakan komoditas andalan yang menjadi tolok ukur bagi komoditas perikanan budi daya lainnya sehingga perlu adanya kebijakan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas udang.

"Udang ini satu tolok ukur bagi komoditas perikanan budi daya lainnya di Indonesia," kata Ketua DPP KNTI Bidang Budidaya Arie Suharso di Jakarta, Selasa.

Apalagi, ujarnya, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menargetkan pada 2024 dapat memproduksi sebanyak 2 juta ton udang. Sementara, sepanjang 2021 ini, produksi udang diperkirakan sekitar 800 ribu ton.

Menurut dia, target 2 juta ton pada 2024 tersebut sebenarnya bukanlah ambisi yang tidak bisa dicapai karena Indonesia sebenarnya memiliki berbagai amunisi untuk mencapainya, seperti lahan yang tersebar luas, hingga inovasi di bidang teknologi dan peralatan.

"Negara-negara lain juga sedang berlomba-lomba bisa mengambil peluang dari perikanan budi daya seperti Vietnam, Thailand dan Filipina," katanya.

Namun, ia mengakui memang ada sejumlah tantangan seperti dari lahan budi daya yang ada di Tanah Air, baru sekitar 22 persen yang terkelola dengan baik.

Selain itu, ujar dia, meski telah ada banyak perusahaan pakan, tetapi relatif semuanya masih mengandalkan bahan baku impor.

Ia juga mengungkapkan sebenarnya budi daya udang di Indonesia sudah ada yang menggunakan teknologi 4.0, tetapi sayangnya masih belum diakses secara mudah oleh seluruh petambak Nusantara untuk mengembangkan budi dayanya dengan baik.

Tantangan lainnya adalah permasalahan penyakit ancaman virus yang sekarang menjadi faktor yang sangat diperhatikan petambak di seluruh Indonesia, karena pencegahan untuk virus penyakit udang dinilai masih belum optimal.

Arie juga menyayangkan bahwa kebijakan di sisi permodalan masih berkutat dalam cara-cara konvensional seperti kredit usaha rakyat, tetapi belum ada inovasi permodalan yang tepat guna bagi kebutuhan petambak.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya Tb Haeru Rahayu mengemukakan bahwa untuk mencapai target produksi udang sebesar 2 juta ton pada 2024, pihaknya telah melakukan tiga langkah, yaitu evaluasi, revitalisasi, dan modeling.

Dirjen yang akrab disapa Tebe, memaparkan langkah-langkah tersebut adalah dengan mengevaluasi lahan budi daya yang ada di seluruh Indonesia, yang sebesar 300.501 hektare dan terdiri atas lahan tambak tradisional, intensif, dan semi intensif.

"Beberapa pakar menyarankan tambak udang tradisional di Pantura Jawa sebesar 78.600 hektare disarankan untuk dialihkan ke komoditas budi daya yang lebih sesuai dengan lingkungannya seperti nila salin dan bandeng," katanya.

Selain itu, ujar dia, KKP juga menyiapkan luas lahan modeling atau tambak percontohan yaitu sebesar 14.000 hektare yang terdiri lahan tambak tradisional menjadi tambak intensif 11.000 hektare dan pembukaan lahan baru 3.000 hektare.

Mengenai perikanan budi daya secara keseluruhan, berdasarkan data KKP pada periode 2015-2020, tren produksi perikanan nasional meningkat 0,8 persen, dari 22,3 juta ton pada 2015 menjadi 23,1 juta ton pada 2020. Pada periode yang sama, pangsa produksi perikanan didominasi budi daya yang berkisar 67-70 persen.

Baca juga: KKP optimistis bisa wujudkan tambak modern bermanajemen terintegrasi
Baca juga: KKP dorong penggunaan teknologi "microbubble" di produksi udang vaname
Baca juga: KKP gandeng pakar genetika budidaya, guna hasilkan udang unggul

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel