Kok Bisa, 2 Kapten Pasukan Elite TNI yang Nakal Sabet Pangkat Jenderal

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tidak sembarang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa menyandang pangkat jenderal. Perlu kerja keras, disiplin, kualitas kepemimpinan, intelijensia tinggi, dan tentunya pengalaman tempur di berbagai palagan. Lantas, bagaimana jika ada perwira yang bandel?

Ada sebuah cerita yang datang dari dua orang Perwira Pertama (Pama) TNI, yang suka membuat geram atasannya. Menurut catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "Kisah Sejati Prajurit Paskhas", dua orang perwira yang nakal itu adalah Kapten Inf Agum Gumelar dan Kapten Pas Nanok Suratno.

Seperti yang diketahui, Agum adalah sosok prajurit yang kenyang dengan pengalaman tempur di sejumlah medan perang. Pria kelahiran Tasikmalaya 14 Desember 1945 itu merupakan anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat.

Tak kalah hebat, Nanok juga seorang perwira yang pernah mempertaruhkan nyawa dalam Operasi Seroja di Timor-Timur. Lahir di Ngawi 26 November 1946, Nanok merupakan anggota satuan elite Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara.

Tepatnya pada 1976, Agum dan Nanok sama-sama baru pulang dari medan perang di Timor-Timur. Keduanya mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Bandung.

Di usia yang masih terbilang muda, Kapten Agum dan Kapten Nanok yang notabene adalah orang lapangan dan berasal dari satuan elite tempur, langsung cocok saat jumpa pertama kali. Keduanya bersahabat baik dan punya karakter yang mirip. Ya, Kapten Agum dan Kapten Nanok ini sama-sama iseng orangnya.

Keduanya pasti tahu, menempuh pendidikan di Pusdikif tentu harus punya disiplin tinggi. Sebab jika sampai melanggar aturan, bukan tak mungkin keduanya akan mendapat hukuman berat dari Komandan Pusdikif (Pusdikif) yang saat itu dipegang oleh Kolonel Inf Edi Sudrajat.

Namanya masih muda, Kapten Agum dan Kapten Nanok justru berani mencuri waktu buat keluyuran di malam hari. Sepasang sahabat ini suka meninggalkan Asrama Pusdikif dan berjalan-jalan di pusat kota Bandung, setelah melaksanakan apel malam.

Biar jalannya mulus buat keluar Markas Pusdikif, Kapten Agum dan Kapten Nanok ini selalu membelikan penjaga gerbang oleh-oleh. Rokok, pisang goreng, atau apa pun. Yang penting sang penjaga tidak mengadukannya kepada komandan.

Siapa sangka, Kapten Agum dan Kapten Nanok ini gemar main biliar. Keduanya banyak menghabiskan waktu di tempat bermain bola sodok. Alhasil, duet perwira nakal ini pulang ke Asrama Pusdikif saat sudah larut malam.

Awalnya, aksi Kapten Agum dan Kapten Nanok berjalan mulus. Sampai suatu saat, Kolonel Edi pun tahu bahwa ada dua orang anak buahnya yang bandel. Aksi Kapten Agum dan Kapten Nanok ketahuan, setelah dengan polosnya sang penjaga gerbang bercerita kepada Kolonel Edi bahwa ia suka dibelikan hadiah oleh keduanya.

Tanpa pikir panjang, Kolonel Edi pun memanggil Kapten Agum dan Kapten Nanok dan memberikan hukuman. Keduanya dijatuhi sanksi tak boleh pesiar alias keluar asrama Pusdikif selama sebulan penuh.

Itu lah cerita kenakalan Kapten Agum dan Kapten Nanok saat masih berusia muda. Setelah melewati sejumlah perjalanan karier, Agum sempat menduduki sejumlah posisi. Salah satunya adalah saat menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Agum jadi orang nomor satu di Korps Baret Merah dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI, periode Juli 1993 hingga September 1994. Setelah itu, Agum sempat memegang sejumlah jabatan, hingga akhirnya pensiun dengan pangkat bintang tiga atau Letnan Jenderal (Letjen) TNI.

Setelah dipercaya menjadi Menteri Perhubungan Republik Indonesia di era Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid, pangkat Agum naik menjadi Jenderal Kehormatan (HOR) TNI.

Sementara, Nanok pun berhasil mencapai pangkat Marsekal Pertama (Marsma) TNI. Seperti halnya Agum, Nanok juga dipercaya menjadi orang nomor satu di Korps Paskhas. Nanok menggantikan posisi Marsma TNI Budhy Santoso, dan menyegel jabatan Komandan Korps Paskhas ke-19 periode 1998 hingga 2001.