Kok Bisa, Seorang Cleaning Service Jadi Panglima Pasukan Perang TNI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Skenario hidup seorang manusia sudah tentu menjadi rahasia ilahi. Tak ada satu pun manusia yang bisa menebak jalan hidup yang sudah digariskan, tak terkecuali bagi Mayjen TNI (Purn.) Daniel Ambat.

Dikutip VIVA Militer dari buku "Perjuangan Menggapai Mimpi, dari Cleaning Service Hingga Kursi Panglima", dikisahkan bagaimana sosok seorang Daniel yang pernah hidup miskin hingga menyandang titel jenderal bintang dua TNI Angkatan Darat.

Semangat untuk mengubah nasib mendongkrak motivasi seorang Daniel yang di masa mudanya pernah menjadi seorang cleaning service. Daniel pun memutuskan untuk menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), atau yang sekarang Akademi Militer (Akmil), hingga akhirnya berhasil lulus pada 1983.

Setelah menyelesaikan pendidikan militernya, Daniel pun menjadi salah satu perwira muda di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pada 2003 silam, Daniel bahkan dipercaya memimpin pasukan paling elite di jajaran Kopassus, Detasemen 81 Kopassus atau Sat-81/Penanggulangan Teror (Gultor) dengan pangkat Kolonel TNI.

Saat masih berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) TNI, Daniel yang saat itu menjabat sebagai Komandan Satuan Tugas (Satgas) Intel Kopassus, punya peran penting dalam operasi pembebasan sandera warga keturunan Jawa di Papua.

Seorang warga keturunan Jawa itu disandera oleh anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Organisasi Papua Merdeka (OPM), di Kabupaten Keerom, perbatasan RI-Papua Nugini (PNG).

Sebagai seorang perwira dengan kemampuan tempur dan intelijen, Daniel berhasil membebaskan sandera tanpa adanya perlawanan dari pihak OPM. Daniel hanya berkirim surat kepada seorang pemimpin OPM, yang pada akhirnya mau membebaskan sandera.

Bahkan, Daniel mampu membuat pentolan OPM itu menangis sambil memeluknya dan berjanji akan kembali ke pangkuan NKRI.

Tak hanya itu, beberapa jabatan lain juga pernah diemban oleh pria asli Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara ini. Beberapa diantaranya adalah Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 172/Praja Wira Yakthi (PWY), Inspektur Komando Daerah Militer (Irdam) Jayakarta/Jaya, dan Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih.

Pangkat Daniel naik menjadi bintang dua atau Mayor Jenderal (Mayjen) TNI pada 2012, saat dipercaya memegang amanah sebagai Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1/Kostrad, menggantikan posisi Mayjen TNI Harri Purdianto.

Setelah itu pada 2014, Daniel berpindah tugas ke Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad) sebagai Staf Khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat hingga pensiun.