[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Metode mRNA Vaksin COVID-19 Diteliti untuk HIV/AIDS

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa teknologi baru pembuatan vaksin melalui platform messenger RNA (mRNA) telah digunakan untuk pembuatan vaksin COVID-19 dari Pfizer/BioNTech dan juga Moderna, dengan efikasi sekitar 95 persen. Vaksin mRNA menggunakan pendekatan melaui lipid nanopartikel untuk menghantarkan bagian kecil materi genetik yang dapat memberi kode tertentu untuk membuat protein.

Dalam hal vaksin COVID-19 misalnya, yang diproses adalah membuat tonjolan (spike) SARS-CoV-2 yang digunakan oleh virus ini untuk memasuki sel tubuh manusia. Kalau vaksin ini disuntikkan ke seseorang maka akan terbentuk protein yang merangsang respons imun untuk kekebalan. Messenger RNA ini akan dengan cepat terdegradasi di dalam tubuh manusia dan tidak akan mempengaruhi gen yang ada. Tapi memang kelemahannya adalah bahwa harus disimpan di suhu “ultracold” agar tidak rusak.

Namun ternyata teknologi mRNA ini juga potensial digunakan untuk mencegah berbagai penyakit lain. Produsen Moderna misalnya beberapa waktu yang lalu mengumumkan bahwa mereka sudah memulai program baru untuk mendesain mRNA sebagai kandidat vaksin untuk HIV/AIDS, influenza dan juga virus Nipah yang belakangan disebut-sebut berpotensi pandemi pula.

Upaya menemukan vaksin untuk HIV/AIDS sudah berjalan lebih dari tiga dekade dan dan menghabiskan milyaran dolar, tetapi belum memberi hasil yang memuaskan. Virus HIV bermutasi dari waktu ke waktu dan ada banyak strain di dunia sehingga memang tidak mudah membuat vaksinnya. Saat ini yang sedang dalam penelitian tapi belum memberi hasil cukup baik adalah canarypox vector primer yang diikuti dengan ulangan penguat (booster) gp120, serta dua penelian lain, Mosaico dan Imbokodo, yang menggunakan primer adenovirus yang diikuti booster berbagai protein.

Moderna Teliti Kandidat Vaksin HIV melalui mRNA

Produsen vaksin Moderna sekarang sedang melakukan penelitian dari dua kandidat vaksin HIV melalui platform mRNA. Yang pertama adalah mRNA-1644 yang dikerjakan bersama “International AIDS Vaccine Initiative” dan juga “Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF)”. Yang kedua adalah mRNA-1574 yang dikerjakan dalam kolaborasi dengan National Institute of Health (NIH) Amerika Serikat, badan yang juga berkolaborasi dengan Moderna dalam pembuatan vaksin mRNA-1273 untuk COVID-19.

Penelitiannya sekarang masih dalam fase preklinik dengan uji pada binatang percobaan. Kandidat vaksin merangsang pembentukan antibodi netralisasi yang meliputi amplop protein yang biasa digunakan virus HIV untuk masuk sel tubuh manusia. Hasil sementara ini menunjukkan proteksi yang cukup bermakna pada binatang percobaan.

Penelitian lain oleh University of Pennsylvania juga menggunakan mRNA untuk pembentukan antibodi netralisasi dengan target HIV, namanya VRC01. Penelitian ini juga masih dalam fase di pada binatang percobaan.

Selain kandidat vaksin untuk mencegah HIV/AIDS, juga ada proses oleh produsen Moderna untuk meneliti kandidat vaksin flu, yaitu mRNA-1010, mRNA-1020 dan mRNA-1030 yang akan mencakup empat jenis flu musiman yang ada. Juga sedang dikembangkan kandidat vaksin utk infeksi virus Nipah, dalam bentuk mRNA-1215.

Penggunaan pendekatan mRNA untuk pembuatan vaksin COVID-19 yang kini sudah digunakan di berbagai negara diharapkan akan berperan penting dalam penanggulangan pandemi. Penggunaan metode yang sama untuk vaksin HIV/AIDS dan penyakit lain diharapkan juga memberi hasil yang baik bagi kesehatan masyarakat.

**Penulis adalah Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI/Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Infografis

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Juga Video Berikut Ini