[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Mengenal VOI dan VOC COVID-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kita ketahui bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 memang bermutasi dan akan terus bermutasi, seperti juga perangai virus pada umumnya. Karena sekarang sedang dalam masa pandemi maka berita tentang mutasi virus COVID-19 seringkali menjadi perhatian penting bagi para pakar, bagi penentu kebijakan dan juga masyarakat secara luas.

Karena mutasi memang akan terus terjadi, dan sebagian belum tentu punya dampak kesehatan masyakat yang jelas, maka baik kalau kita mengetahui bagaimana WHO menentukan kriteria apakah mutasi itu cukup penting dan akan masuk dalam yang disebut “VOI” atau “VOC”.

Isolat virus SARS-CoV-2 dikategorikan sebagai Variant of Interest (VOI) bila secara fenotipik berubah dari isolat asalnya, atau mengalami mutasi genom yang mengakibatkan perubahan asam amino dengan dampak yang ditimbulkannya, dan diidentifikasi menyebabkan penularan di masyarakat/timbulnya beberapa kasus COVID-19 /klaster, atau sudah di deteksi di beberapa negara. Cara lain, penentuan VOI dapat juga dilakukan sesudah penilaian mendalam oleh WHO dengan berkonsultasi dengan WHO SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group.

Laporan WHO menyebutkan bahwa yang masuk dalam kriteria VOI adalah varian CAL.20C/L452R, B.1.427 and B.1.429. Varian ini menunjukkan tiga mutasi pada apa yang Receptor Binding Domain (RBD), yaitu S13I, W152C dan L452R.

Varian ini pertama di deteksi sejalan dengan peningkatan kasus COVID-19 di California, Amerika Serikat, lalu menyebar ke semua negara bagian Amerika Serikat dan setidaknya ke 26 negara lainnya, sesuai data sampai pertengahan Maret 2021.

VOC

Sementara itu, kriterian penentuan Variant of Concern (VOC) adalah kalau ada VOI yang sesudah analisa mendalam ternyata berhubungan dengan:

• Peningkatan penularan atau perubahan yang nyata pada situasi epidemiologi COVID-19

• Peningkatan virulensi atau perubahan pada gambaran klinik pasien, atau

• Penurunan efektifitas upaya penanganan kesehatan masyarakat di lapangan (public health and social measures) atau terhadap alat diagnosis penyakit, vaksin dan juga pengobatannya. Seperti juga untuk VOI maka penentuan VOC dapat juga dilakukan sesudah penilaian mendalam oleh WHO dengan berkonsultasi dengan WHO SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group.

Dalam data WHO sampai 16 Maret 2021 maka ada tiga jenis varian yang masuk dalam kategori VOC, yaitu B.1.1.7 yang pertama kali di deteksi di Inggris, B.1.351 yang awalnya di deteksi di Afrika Selatan dan B.1.1.28.1, atau P.1 yang disebutkan dilaporkan di Brazil / Jepang.

Kita tahu bahwa pada varian B.1.1.7 maka mutasi terjadi pada delesi H69/V70 serta Y144, N501Y dan A570D. Mutasi pada varian B.1.351 adalah delesi L242/A243/L244, K417N, E484K, N501Y dan P681H. Sementara itu, mutasi di varian B.1.1.28.1 adalah pada K417T, E484K dan N501Y.

Data WHO juga menunjukkan bahwa sampai 16 Maret 2021 varian B.1.1.7 sudah ada di 118 negara, yang B1.351 ada di 64 negara dan varian B.1.1.28.1, atau P.1 sudah dilaporkan ada di 38 negara.

Kita memang perlu mengetahui dan mengamati mutasi dan varian baru COVID-19, tetapi kita juga perlu punya informasi yang jelas tentang seberapa besar kemungkinan dampaknya pada pandemi kali ini. Pemahaman tentang “VOI” dan “VOA” akan membantu dalam hal ini, karena tentu tidak setiap mutasi lalu akan punya dampak bermakna, tapi kita juga perlu kuasai mana yang perlu diwaspadai dan bukan tidak mungkin berpotensi menjadi “VOI” atau bahkan “VOA” nantinya.

**Penulis adalah Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI/Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia?

Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia? (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia? (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini: