[Kolom Pakar] Psikolog Oktina Burlianti: Memafkan adalah Hadiah untuk Diri

Liputan6.com, Jakarta - Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi sedikit mengenai terapi pemaafan yang saya pelajari bersama Kang Asep Haerul Gani (Psikolog, Penulis buku Terapi Pemaafan)

Ternyata, memaafkan bukan berarti kita menerima kezaliman yang dilakukan orang lain pada diri kita. Bukan juga merasionalisasikan alasan mengapa seseorang melakukan hal buruk pada kita.

"FORGIVENESS"

Forgiving is a gift to self. When we forgive, we are indeed free. -Ulie-

Memaafkan adalah aksi intrapersonal, dimana kita sedang berurusan dengan diri kita sendiri. Memaafkan adalah proses melepaskan rasa nyeri, kemarahan dan dendam yang disebabkan oleh pelaku. Memaafkan adalah pengalaman perpindahan momen tidak hanya mengenyahkan energi negatif tapi juga menggerakkan ke perasaan #positif.

Maka, memaafkan melampaui:

1. Menerima apa yang terjadi

Untuk memaafkan perlu ada sikap menerima atas apa yang terjadi. Menerima kenyataan dan menyadari secara benar2 sadar mengenai apa yang sedang terjadi.

(Tips: Menuliskan perasaan, pemikiran dan harapan mengenai apa yang sedang dialami bisa membantu)

2. Bukan menunda kemarahan

Memaafkan bukan berarti kita menunda kemarahan. Memaafkan berarti membolehkan diri sendiri merasa marah, bukan menundanya. Namun juga, pada saat yang sama, mampu mengelola emosi marah itu sehingga kita tidak berada dalam kendalinya.

(Tips: buatlah dialog antara dua diri, diri yang menjadi konselor membolehkan diri yg dulu mengalami peristiwa membuka diri, mengekspresikannya, mengedukasinya hingga menjadi diri yang baru)

Bersikap Netral

3. Bersikap netral terhadap orang lain

Wajar jika seseorang memiliki sikap negatif ketika ia disakiti oleh orang lain. Memaafkan bukan hanya mengalihkan dari sikap negatif ke netral. Memaafkan akan mengalihkan kita dari sekadar netral ke sikap kasih pada orang lain.

(Tips: Mulailah dengan berbuat baik pada diri sendiri terlebih dahulu. Katakan hal-hal positif tentang diri, lalu lakukan hal-hal yang membahagiakan diri. Katakan, saya berhak bahagia dan layak dicintai. Lalu, mulailah berbuat baik pada orang lain, misalnya dengan banyak tersenyum, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, bersedekah, dll. Jika sudah merasa sanggup, berbuat baiklah pada yang menyakiti kita. Bisa dimulai dengan mendoakan yang baik-baik terlebih dahulu)

4. Membuat diri sendiri merasa baik

Mengelola diri hingga mampu merasakan nyaman tidak serta merta sama dengan memaafkan.

(Tips: Buatlah dua kolom, satu kolom berisikan kerugian-kerugian yang dialami akibat mengalami peristiwa tertentu bersama seseorang. Lalu satu kolom lagi tuliskan mengenai manfaat tidak langsung yang Anda peroleh akibat mengalami peristiwa itu. Kemudian tanyakan diri apakah tanpa mengalami peristiwa tersebut Anda akan mendapatkan manfaat-manfaat tadi? Fokuslah pada hal-hal baik yang terjadi setelah peristiwa.)

Memaafkan bukanlah memaklumi, melupakan, atau membenarkan apa yang orang lain lakukan. Memaafkan adalah hadiah bagi diri kita sendiri. Dengan memaafkan, kita justru melakukan hal baik untuk diri sendiri.

Memaafkan adalah Hadiah untuk Diri

Terakhir dari saya, sadarilah hal-hal berikut:

Hiduplah dalam dunia nyata, bukan dunia imajinasi. Ketahuilah bahwa masalah, rasa kesal dan kemarahan hanya ada dalam imajinasi.

Gunakanlah cara Allah SWT memandang sesuatu, bukan cara pandang diri. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri “Haruskah saya melanjutkan memandang dengan cara saya atau melakukan dengan pilihan yang lebih baik?”.

Memaafkan adalah hadiah untuk diri, bukan bagi orang lain. Sadar bahwa hadiah itu dari Allah SWT. Kita hanya membiarkan rasa marah dan dendam pergi dan menerima hadiah saat ini dan di masa depan. Berbahagialah.

Semoga Bermanfaat

**Penulis adalah Oktina Burlianti, M.Si., Psikolog dan Direktur Sekolah Citta Bangsa Cibubur

Infografis

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)