Kolom Prof Tjandra: Data Terkini Dampak Varian Baru COVID-19

·Bacaan 3 menit

VIVA – Pada 25 Mei 2021 beberapa hari yang lalu WHO mengeluarkan data tentang berbagai varian baru virus COVID-19. WHO membaginya dalam dua kelompok, yaitu “Variant of Interest (VOI)” yang terdiri dari 6 varian, serta “Variant of Concern (VOC)” yang amat perlu jadi perhatian kita bersama, terdiri dari 4 varian yaitu B.1.1.7, B.1.351, B.1.617 dan B.1.1.28.1 atau P.1, tiga yang pertama sudah ada di Indonesia.

Pengelompokkan sebagai “Variant of High Consequence (VOHC)” bukanlah dibuat oleh WHO tetapi merupakan klasifikasi dari “Center of Diseases Control (CDC)” Amerika Serikat.

Data WHO 25 Mei ini menunjukkan bahwa semua ke empat VOC memang menunjukkan peningkatan penularan (“increase transmissibility”), bahkan yang B.1.1.7 juga disebut meningkatkan “secondary attack rate”. Data dari 3 kejadian pada Taman Kanak Kanak di Jerman menunjukkan bahwa anak berumur 1 sampai 5 tahun yang terinfeksi varian B.1.1.7 ternyata sama rentannya dengan orang dewasa (23% vs. 30%).

Untuk dampak pada beratnya penyakit, pada dasarnya belum sepenuhnya terkonfirmasi secara penuh. Hanya memang data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa B.1.1.7 mungkin meningkatkan risiko dirawat di rumah sakit, penyakit menjadi berat serta terjadinya kematian. B.1.351 disebutkan mungkin meningkatkan risiko kematian ketika dalam perawatan di rumah sakit serta yang varian B.1.1.28.1 atau P.1 juga mungkin meningkatkan risiko jadi dirawat di rumah sakit. Untuk yang B.1.617 maka sejauh ini masih dalam penelitian (“under investigation”).

Penelitian

Penelitian di 7 negara Eropa untuk menilai beratnya penyakit pada 23,343 kasus COVID 19 antara 13 September 2020 sampai 13 Maret 2021 menunjukkan peningkatan bermakna masuk rumah sakit pada mereka yang tertular oleh satu dari 3 VOC (B.1.1.7, B.1.351 dan P.1) dibandingkan yang terkena penyakit oleh non-VOC. Juga, kasus yang sakit COVID-19 karena VOC ternyata lebih sering harus masuk ICU (1.4% pada B.1.1.7; 2.3% pada B.1.351 dan 2.1% pada yang P.1), sementara kemungkinan masuk ICU pada yang tertular bukan VOC adalah 0.6%.

Bahasan berikutnya adalah dampak varian baru pada kemungkinan terinfeksi berulang. Untuk B.1.1.7 sejauh ini menunjukkan aktifitas netralisasi itu tetap sehingga risiko infeksi berulang tidaklah berubah. Untuk yang B.1.351 maka memang ada laporan penurunan aktifitas netralisasi, dan yang P 1 juga nampaknya ada sebagian penurunan pula. Untuk yang B.1.617 maka masih dalam penelitian, hanya memang ada dugaan penurunan sebagian pada yang B.1.617.1.

Dampak Varian Baru

Tentang dampak varian baru pada pemeriksaan diagnosis COVID-19, yang varian B.1.1.7 dinyatakan WHO sebagai nampaknya ada sedikit dampak terbatas pada PCR, yaitu “S gene target failure (SGTF)” tapi tidak ada dampak pada keseluruhan pemeriksaan PCR yang menggunakan beberapa target sekaligus, seperti yang banyak dipakai di Indonesia. Jadi, secara umum PCR tetap bisa dapat digunakan. Varian B.1.1.7 ini juga sejauh ini tidak berdampak pada kemampuan test dengan rapid antigen.

Untuk yang varian B.1.351 maka WHO menyatakan sejauh ini tidak ada dampak pada efektifitas pemeriksaan PCR dan juga rapid antigen, sementara untuk B.1.1.28.1 atau P.1 dan B.1.617 dinyatakan sejauh ini belum ada laporan ilmiah yang tersedia.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pasca Sarjana Universitar YARSI/Guru Besar FKUI
Mantan Direktur WHO Asia Tenggara serta Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel